Nasihat Katharine

Suatu kali Martin Luther, sang tokoh Reformasi, mengalami depresi berlarut-larut dan sangat murung. Melihat kondisi tersebut, Katharine sang istri kemudian bergegas mengganti bajunya dengan baju hitam, simbol baju berkabung.

Melihat hal tersebut Luther bertanya, “Apa maksudnya ini, siapa yang mati?”

“Tuhan sudah mati”, sahut Katharine.

Mendengar hal tersebut, Luther marah luar biasa, “Mana mungkin Tuhan mati!”

“Kalau begitu…”, ujar Katharine, “berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati!”

Cerita di atas pernah saya baca entah kapan. Karena sudah lama ada beberapa bagian yang mungkin sudah tidak tepat lagi, meski intinya kurang lebih sama. Ah, ingatan yang memudar hanya menghasilkan lupa. Penuaan dini? Mungkin. Bagi sebagian orang, saya dianggap masih cukup muda (masih umur 30-an). Bagi mahasiswa sekarang, saya sudah termasuk angkatan fosil. Nah sejak anak kedua lahir baru-baru ini, saya benar-benar merasakan penuaan dini. Bayangkan, dahulu sewaktu jomblo, kalau flu, cukup istirahat 1-2 hari sembuh. Sejak punya anak pertama dua tahun yang lalu, kalau flu, butuh sekitar satu minggu untuk sembuh. Sekarang dengan dua anak, tetap hanya satu minggu lalu sembuh. Tapi selang beberapa hari akan flu lagi. Dulu tidur bisa delapan jam sehari. Sekarang paling sekitar empat jam (anak kedua kami belum bisa membedakan siang dan malam, jadi dia tidur seharian, dan aktif semalaman). Hampir tiap kali main dengan anak pertama saya ketiduran. Tapi hidup harus jalan terus (life must goes on, katanya).

Pertanyaannya: bagaimana bisa mengerjakan aktivitas sehari-hari, kerja, atau bahkan melayani dengan kondisi setengah hidup? Bagaimana bisa doa sepenuh hati dan fokus? Bagaimana bisa mendengar dengan penuh perhatian? Memberi nasehat dengan bijak? Maksimal melayani, maksimal bekerja? Bukankah jika kita punya banyak masalah dan pergumulan, kerja dan pelayanan jadi hanya seadanya saja?

Katharine, istri Martin Luther, memberi satu solusi: berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati. Ini bukan sekedar menerima fakta bahwa Tuhan sungguh bangkit. Lebih dari itu, ini berarti meyakini bahwa kuasa Allah yang membangkitkan Kristus sanggup mengubah realita yang ada dan memberi kekuatan untuk melayani Tuhan. Satu hal yang saya amati, kita sering pasrah kepada “realita”. Sakit, jadi tidak bisa melayani. Ada masalah, jadi pelayanan ditunda. Mental “apa boleh buat” atau “mau gimana lagi” menjadi alasan standar. Semua ini adalah bentuk dari iman Tuhan sudah mati. Iman Sebaliknya iman Tuhan yang bangkit berkata, “saya sakit, tapi saya mau melayani, Tuhan tolong sembuhkan saya.” Iman Tuhan yang bangkit berkata, “saya ada masalah, Tuhan tolong, jangan sampai menghalangi pekerjaan Tuhan.” Iman Tuhan yang bangkit berkata, “Tuhan adalah Tuhan atas realita; Tidak ada yang mustahil. Toh kita melayani bukan dengan kekuatan diri kita sendiri.”

Jadi, bagi saya, vitamin jalan terus, makan jalan terus, sebisa mungkin istirahat. Tapi yang lebih utama, bersandar pada kuasa Tuhan juga harus jalan terus. Syukurnya istri saya juga mendukung dan menyadari hal ini. Meskipun dia jauh lebih lelah dibanding saya (dan saya rasa semua ibu-ibu juga demikian), toh masih menyempatkan untuk berdoa, entah tengah malam, entah subuh. Saya harus mengerjakan bagian saya, dia akan mengerjakan bagian dia dan Tuhan akan mengerjakan bagian Tuhan. “Penuaan Dini” bukan satu-satunya pergumulan yang dihadapi. Ada satu hal lain lagi, yaitu kepribadian. Saya adalah seorang introvert, plegmatik, pendiam sejati, lambat. Seorang rekan suka memanggil saya “flat face” (padahal wajah saya tidak flat sama sekali dan berbeda dengan tv flat, muka flat sama sekali bukan sebuah pujian). Tidak heran di zaman kuliah, ketika ada yang tanya apa kelebihan saya, teman-teman menjawab “sabar”. Lalu ditanya apa kelemahan saya, mereka menjawab “lamban”. Sebagai oleh-oleh, seorang staf senior pernah memberi kenang-kenangan: boneka kura-kura.

Pertanyaannya, bagaimana seorang introvert, plegmatik yang lamban bisa melayani secara maksimal. Bukankah seorang pelayan dituntut untuk memperhatikan domba-dombanya? Ia harus bisa bersosialisasi dengan baik. Bayangkan jika melakukan kunjungan, hanya sekedar diam-diaman. Ia harus bisa membicarakan topik A sampai Z. Harus cepat klik dengan orang baru. Harus bisa berkhotbah atau mengajar dengan penuh ekspresi dan dinamis. Apakah masih ada tempat bagi seorang introvert-lamban untuk melayani?

Jawabannya ternyata tetap sama dengan isu pertama di atas: berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati. Kelemahan dalam karakter tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melayani secara maksimal. Kelemahan dalam karakter juga tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mau berubah dan belajar. Allah dengan kuasanya yang membangkitkan akan sanggup memakai dan membentuk seorang introvert lamban sekalipun. Iman Tuhan sudah mati berkata, “Saya memang begitu dari sono-nya, jadi ga bakal bisa deh.” Iman Tuhan sudah mati berkata, “Maaf, Tuhan salah pilih; saya tidak cocok.” Iman Tuhan sudah mati berkata, “Hanya orang dengan kepribadian tertentu yang akan dipakai Tuhan.” Sebaliknya iman Tuhan yang hidup berkata, “Jika Tuhan yang memanggil, maka Tuhan juga yang akan memperlengkapi.”

Iman Tuhan yang hidup berkata, “Ini aku, utuslah aku.” Iman Tuhan yang hidup berkata, “Saya lemah, tapi di dalam Tuhan saya kuat.” Baru-baru ini sebuah khotbah di gereja mengingatkan dan menguatkan saya. Sang pengkhotbah sedang berbicara mengenai hubungan antara hal kuasa Tuhan dan misi hidup kita. Ia berkata, “Jangan berdoa: Tuhan berikan tugas yang sesuai dengan kekuatanku. Tapi berdoalah: Tuhan berikan kekuatan sesuai dengan tugasku.”

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Fil 3.10)

(Dimuat di Oratio Edisi April 2010)

Posted in Artikel, Pelayanan, Relasi dengan Allah.