Pekerjaan Kasih Karunia

indra prawirAku masih duduk di bangku SMA, ketika mulai merenungkan kehidupan sebagai seorang Kristen. Saat itu, aku sedang mengikuti pelajaran agama. Pak guru kemudian memintaku untuk membaca sebuah pernyataan dan menilai pernyataan tersebut, setuju atau tidak setuju. Pernyataannya berbunyi demikian, “Anugerah terbesar di dalam hidupku, ialah pengorbanan Yesus Kristus di kayu Salib.” Dengan penuh rasa percaya diri, aku langsung menjawab, “Tidak setuju, Pak!” Dalam pikiranku, bernapas dan dapat bangun di pagi hari dengan kekuatan yang baru, sudah menjadi anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada aku. Lalu, pak guru menanggapi, “Benar begitu? Coba kamu pikirkan kembali.” Sejak saat itu, aku terus bertanya kepada diriku sendiri, “Benarkah demikian?” 

Lalu, waktu pun terus berjalan. Aku mengikuti katekisasi dan baptis sidi. Namun tetap saja, keraguan tentang pengorbanan Kristus di Salib masih ada. Hingga akhirnya aku mengikuti kelompok kecil di gereja dan Allah menjawab semua keraguan itu. Ia sendiri menyatakan diri-Nya kepadaku. Sungguh saat yang luar biasa ketika Allah berbicara langsung kepadaku, “Karena pengorbanan-Ku di Salib, engkau beroleh kehidupan yang baru.” Sejak saat itu, aku betul-betul yakin bahwa pengorbanan-Nya di kayu salib adalah anugerah terbesar dalam hidupku.

Selesai dari SMA, Tuhan memberikanku kesempatan untuk berkuliah di FMIPA Universitas Indonesia. Selama 4 tahun aku belajar hingga akhirnya menyelesaikan perkuliahanku. Di tahun terakhir inilah, Tuhan mengijinkanku mengalami masa yang berat namun juga indah. Mengerjakan skripsi, melayani di tahun terakhir sebagai pengurus, kemudian menjadi penilik dan tim regenerasi, dan tentunya, menggumuli panggilan hidup ke depan. Dari kecil hingga SMA, aku sangat bercita-cita menjadi seorang guru SMA, mengajar Biologi.

Berbicara mengenai panggilan hidup, di tahun terakhir berkuliah, Allah memberikanku satu perenungan berisi seluruh perjalananku dari awal masuk kuliah hingga di penghujung kehidupan kampus. Sungguh, kusadari bahwa perjalananku selama ini adalah berkat kasih karunia Allah. Pertobatan di SMA, kembali diteguhkan-Nya saat aku berkesempatan menikmati KK di PO FMIPA UI. Pengenalan dan pertumbuhan iman kepada Kristus juga aku alami di PMK bersama abang, kakak, teman, dan adik rohani. Hingga, Allah juga memberikanku kesempatan untuk melayani sebagai PKK, pengurus, juga sebagai Koordinator di PO FMIPA UI. Tentunya, juga banyak jatuh bangun yang aku alami dalam kehidupanku selama di kampus. Di saat yang sama, Allah juga memperlihatkanku pada kondisi sekitarku, di mana pada masa-masa ini, mahasiswa semakin menjadi rentan dengan berbagai macam nilai
yang sangat berbeda dengan Injil Kristus. Dari sinilah, kerinduanku dan panggilan Allah untuk melayani dan membagikan Injil yang kunikmati kepada mereka bermula.

Kerinduan dan panggilan ini semakin Tuhan mantapkan ketika Ia mengijinkanku mengikuti Retret Koordinator XIV. Di RK ini, panggilan dan beban yang Allah suarakan semakin jelas. Namun, sama seperti Musa di Keluaran 3, aku berusaha mengelak dan berlari dari-Nya. “Di dalam segala kelemahanku, siapakah aku ini, hingga Engkau memanggilku?” ucapku pada Tuhan. Pengelakan itu terjadi untuk beberapa lama, sambil aku juga menyibukkan diri dengan mengerjakan skripsi. Sampai suatu saat, Firman- Nya di dalam 1 Korintus 15:10 berbicara, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Inilah yang akhirnya membuatku sadar, mulai dari awal hidup baruku, menikmati pertumbuhan dan pengenalan akan Kristus, hingga melayani dan berkuliah di kampus, semuanya boleh terjadi hanya oleh kasih karunia-Nya. Dan ketika Allah memanggilku saat ini untuk melayani mahasiswa-mahasiswa yang begitu Ia kasihi, satu keyakinan bahwa kasih karunia-Nya tak akan berhenti menolong dan menopangku. Inilah pekerjaan kasih karunia yang Ia nyatakan kepadaku. Dan aku terus menantikan dengan taat, pekerjaan-Nya ini di setiap langkahku sebagai staf Perkantas, pekerjaan-Nya di kampus-kampus dan pekerjaan-Nya di Indonesia tercinta.

Posted in Sharing.

Perkantas Jakarta