Amanat Agung KITA

Sejak kedatangan Yesus, banyak orang yang rela mati untuk kebenaran Injil. Hal ini dimulai dengan murid-murid yang sangat mengenal-Nya sehingga mereka pun meresikokan hidup mereka untuk kebenaran ini. Injil itu telah mengubah banyak jiwa-jiwa yang telah meresponi pesan dari Injil tersebut.

Apa itu Injil?

Injil dalam Bahasa Inggris dituliskan sebagai gospel yang berasal dari Bahasa Yunani euanngelion. Kata ini memiliki arti kabar baik. Dalam Perjanjian Baru secara khusus mengarah kepada kabar baik dari Allah kepada manusia mengenai Yesus Kristus. Paulus mendefinisikan Injil dengan singkat sebagai berikut: “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, . . . bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.“ (1 Kor.15 : 1-4).

Injil lebih dari sekedar tiket masuk Surga

Injil merupakan undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah yang Maha Kasih. Injil memberitakan siapa itu Yesus sehingga kita bisa melihat karya anugerah-Nya bagi manusia berdosa.

Injil menyatakan secara eksklusif menjadi satu-satunya jalan kepada Tuhan. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Mengapa kita perlu memberitakan Injil?

J. I. Packer menuliskan setidaknya ada dua motif yang seharusnya mendorong seseorang untuk terus menerus menginjili. Motif pertama adalah kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia; motif kedua adalah kasih kepada sesama manusia dan kepedulian akan keselamatan mereka.

1. Kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia.

Perintah pertama dan terutama adalah “Kasihilah, Tuhan Allahmu” (Mat.22:37). Ketika kasih Allah kepada kita telah nyata melalui karya salib Kristus, maka kita pun mengasihi Dia dengan mewujudkannya melalui ketaatan kita. “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” kata Tuhan Yesus (Yoh.14:21).

Penginjilan adalah perintah Allah sendiri. Kristus berkata, “Injil Kerajaan ini akan (menurut Markus: “harus”) diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa” (Mat.24:14; Mrk.13:10). Sebelum naik ke sorga, Kristus memberi perintah pada murid-murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” (Mat.28:19) disertai dengan janji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat.28:20). Janji ini diberikan untuk menguatkan hati setiap murid karena besar dan sulitnya tugas yang diamanatkan oleh Yesus. Di sisi lain, janji ini mengajarkan kepada setiap orang percaya tugas yang harus dikerjakan senantiasa sampai akhir zaman.

Jonathan K. Dodson menjelaskan amanat yang Yesus berikan ini berfokus pada memaklumkan Injil kepada mereka yang belum menjadi murid dan mengajarkan Injil kepada mereka yang sudah menjadi murid. Yesus mengutamakan Injil, yang menjadikan seseorang murid dan mendewasakan murid. Injil adalah pokok dalam menjadikan seseorang murid, sehingga seorang murid dapat menyerahkan kehidupan lamanya untuk menghidupi kehidupan barunya. Kehidupan baru seorang murid berarti menjadikan Yesus sebagai Tuhan (yang berkuasa) atas seluruh hidupnya dan mendorongnya dalam keataan kepada Allah.

Melalui penginjilan kita memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Allah lakukan untuk manusia berdosa. Allah dimuliakan ketika karya kasih karunia-Nya yang penuh kuasa diberitakan.

Sekretaris International Fellowship of Evangelical Students (IFES) bernama Vinoth Ramachnadra menyatakan “Susunan dan gaya hidup gereja adalah pusat dari Injil Kerajaan Allah. Kapan pun kita menjumpai sekelompok orang (katakanlah di Universitas, perumahan atau kantor) yang menghidupi komitmen penuh kepada Yesus Kristus, dan mempertanyakan dari cara hidup mereka, nilai-nilainya, pola pemikiran, dan struktur sosial di sekitar mereka, kita dapat secara percaya diri menyatakan bahwa kerajaan Allah hadir di sana.”

2. Kasih kepada sesama manusia dan kerinduan untuk melihat mereka diselamatkan.

Apakah yang lebih dibutuhkan manusia selain kebutuhan untuk mengenal Kristus? Apakah kebaikan yang lebih besar bagi sesama selain memberitakan pengenalan tentang Kristus? Jika kita mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka kita ingin mereka menikmati keselamatan yang begitu berharga bagi kita. Naluri itu muncul ketika kita melihat kebutuhan sesama akan Kristus. Memberitakan Injil adalah hal istimewa; mengabarkan kasih Kristus kepada orang lain merupakan hal yang indah, karena kita tahu tidak ada hal lain yang lebih mendesak untuk mereka ketahui, dan tidak ada pengetahuan yang lebih berguna bagi mereka. Karena itu kita tidak perlu enggan dan takut membagikan kabar baik itu kepada semua orang. Kita seharusnya melakukan hal ini dengan gembira dan sukacita.

Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Melihat betapa penting Injil bagi kehidupan manusia, banyak lembaga pelayanan, persekutuan siswa maupun mahasiswa, serta institusi gereja yang menekankan penginjilan. Penginjilan yang dapat diartikan sebagai pemberitaan Injil. Jika mengingat penjelasan Jonathan K. Dodson pada bagian sebelumnya, maka sesungguhnya Injil perlu diberitakan terus-menerus melalui setiap kesempatan yang ada. Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Semua strategi, metode, maupun kegiatan baik melalui media mimbar khotbah, media sosial, media persahabatan dan media lainnya yang digunakan untuk memberitakan Injil sudahkah mendorong seseorang untuk terus memaknai Injil sebagai undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah.

(Dimuat di Oratio edisi September 2017)

Posted in Artikel.

Stevina Marlinawati