Beauty and The Beast (Hari 27)

Baca: Matius 13:18-23

Beauty and The Beast

Ada sebuah film fiksi yang menarik berjudul Beauty and the Beast . Film ini mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Belle yang memiliki ketulusan hati untuk mengasihi monster buruk rupa. Monster buruk rupa ini sebenarnya ialah seorang pangeran tampan yang dikutuk karena kesombongan hatinya. Semua benda di Istana memberitahu Belle bahwa hati beast tidaklah seburuk penampilannya. Dari hari kehari, Beast dapat merasakan ketulusan hati Belle dalam berteman, lalu ia jatuh hati. Singkat cerita, Belle juga mencintai Beast dan kehadiran cinta dari hati yang tulus mampu melenyapkan kutukan, sehingga Beast kembali menjadi seorang pangeran.

Nah, teman-teman, seringkali tindakan dan tingkah laku kita memang tidak memunculkan apa yang ada didalam hati kita. Mungkin kita menampakkan diri sebagai anak yang patuh kepada orangtua dengan alasan supaya tidak dimarahi. Kita tidak menyontek karena kita takut ditegur oleh kakak pembimbing rohani. Kita pelayanan karena disuruh. Mungkin masih banyak lagi ketaatan demi ketaatan terhadap Firman Tuhan yang kita lakukan tanpa kemurnian dan ketulusan hati. Kita masih merasa terpaksa, iri hati, dendam, dan lain sebagainya ketika kita mengerjakan ketaatan. Mungkin penampilan fisik kita tidak seburuk Beast, namun siapa tahu soal hati kita? jangan-jangan lebih buruk dari penampilan sang monster. Wah, mengerikan.

Belajar dari firman Tuhan hari ini, Tuhan Yesus memberi ilustrasi mengenai hati yang ditaburi oleh kebenaran Firman Tuhan. Hati seperti tanah yang baik ialah yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Firman itu mengubah hatinya lalu mengubah hidupnya untuk mengerjakan ketaatan dengan kemurnian dan ketulusan hati. Mari reflesikan secara pribadi dihadapan Tuhan: sudahkah memiliki hati yang mau taat dan mau diubahkan oleh kebenaran Firman? Kalau belum, maukah memilikinya? Kalau mau, apakah tindakanmu untuk mewujudkannya? Berdoalah meminta Tuhan untuk terus menerus memurnikan dan mengubahkan bukan hanya hidupmu, tetapi juga hatimu.

Lord let my heart be good soil, where love can grow and peace is understood

Trust His Heart (Hari 26)

Baca: Yeremia 17:5-10

Trust His Heart

Cathy sedang bingung karena masalah yang sedang dihadapinya. Saat itu menjelang ujian sekolah dan dia merasa belum mempelajari banyak hal. Kekhawatiran mulai masuk ke pikirannya, sehingga dia sulit untuk berpikir jernih. Bahkan untuk berdoa dan datang kepada Tuhan  tidak dapat dilakukannya karena saking khawatirnya. Hatinya tidak tenang, pikirannya kacau, yang membuatnya tidak sanggup untuk terlibat lagi dalam persekutuan jumat (PJ), Kelompok kecil, dan ke gereja. Intinya, setelah ujian sekolah ini terlewati, maka semua bisa kembali tenang dan kembali berjalan seperti biasanya, begitu pikir Cathy.

Teman-teman mungkin kita pernah mengalami situasi demikian seperti Cathy. Merasa segala sesuatunya tidak akan beres kalau kita tidak membereskan segala sesuatunya dengan kekuatan sendiri dan bantuan dari beberapa orang lain. Rasanya menanti dengan tenang pertolongan Tuhan itu sulit apalagi kalau banyak kekhawatiran sudah merasuk dalam pikiran.

Dalam perikop ini, kita dapat belajar bahwa Tuhan meminta umat untuk mengandalkan Tuhan dan bukan manusia, apalagi diri sendiri. Ayat 5 & 6 menceritakan seperti apa mengandalkan manusia, dan Tuhan  tidak menyukainya. Terkutuk orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, apalagi hatinya menjauh dari Tuhan. Tuhanlah yang tahu sampai kedalaman hati. Hati itu licik, lebih licik dari segala sesuatu.

Lalu ayat 7-8 mencatat gambaran orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya ada pada Tuhan. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dan akan terus berbuah. Artinya, hidupnya terus dapat menjadi saluran berkat dan tidak hidup penuh kekhawatiran. Teman-teman, selama kita masih hidup ditengah-tengah dunia ini, masalah akan terus datang silih berganti. Banyak hal akan membuat kita galau, pusing, tidak tenang. Tetapi yang Tuhan minta adalah kita tetap datang dan tetap percaya kepada-Nya. Kita memang bertanggung jawab mengerjakan apa yang menjadi tugas kita, namun sekiranya izinkan Dia juga turut mengerjakan bagian-Nya. Percaya saja!

Mari refleksikan: siapakah yang kamu andalkan ketika kamu berada di masa-masa sulit dan merasa banyak pergumulan? Adakah Tuhan sudah menjadi tempat jawaban? Jika kamu sulit mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup, percaya saja pada hati-Nya!

God is too wise to be mistaken, God is too good to be unkind. When you don’t understand, when when you can’t see His plan, you can’t trace His hand, trust His heart.

Aku Tanpamu Butiran Debu (Hari 25)

Baca: Yohanes 15:1-8

Aku Tanpamu Butiran Debu

Teman-teman judul diatas merupakan sepenggal kalimat dari sebuah lagu yang berkisah tentang seseorang yang mengalami kekecewaan terhadap sebuah relasi atas nama cinta. Kalimat refrein terakhir tertulis: Aku tanpamu butiran debu. Hal ini ingin menceritakan bahwa dalam lagu tersebut, kekasih hati merupakan segala-galanya. Tanpa seorang kekasih aku hanyalah butiran debu, yang tak tahu kemana arah pulang.

Sedemikian kuat lagu itu menceritakan relasi cinta antar manusia, yakni laki-laki dan perempuan. Tidak bisa hidup jika yang satu meninggalkannya. Hiks.. menyedihkan ya kalau mengalami kekecewaan mendalam dalam sebuah relasi cinta. Ikatan antar manusia memang kuat namun dapat mengecewakan, tetapi cinta kasih Yesus berbeda! Sudah pasti jauh lebih kuat dibanding kasih dari siapapun dan apapun juga.

Dalam perikop ini, kita dapat mengerti bahwa Yesus mengajarkan kepada para murid agar hidupnya melekat kepada Kristus sehingga hidup mereka berbuah dan memuliakan Bapa disorga. Sebagaimana ranting hanya dapat hidup selama melekat pada pokok anggur, demikian pula orang percaya hanya mempunyai hidup Kristus selama hidup Kristus mengalir ke dalamnya dengan tetap melekat kepada Dia. Permintaan kitapun ketika kita minta kepada Bapa akan sesuai dengan kehendak-Nya (ayat 7).

Hidup berbuah dan memuliakan Allah ialah hidup yang memiliki karakter-karakter Kristus didalam dirinya, mengerjakan apa yang menjadi perintah Tuhan melalui study, keluarga, pergaulan, juga pelayanan. Hidup kita akan berdampak dan menjadi terang bagi sekitar kita. Kita dapat melebur, tetapi tidak larut mengikuti arus dunia ini. Nah hidup berbuah seperti itu hanya dapat kita lakukan dengan pertolongan dari Dia. Tanpa melekat kepada Allah, kita hanyalah butiran debu yang tidak akan berdampak (menjadi berkat) bagi sekitar kita. Yuk, refleksikan secara pribadi: maukah kamu melekat pada-Nya? Karena, aku tanpa-MU, butiran debu.

Diluar Kristus, kita tidak dapat berbuat apa-apa

Spread His Love (Hari 24)

Baca: 1 Yohanes 4:7-16

Spread His Love

Temen-temen ada yang ingat, bulan februari  identik dengan perayaan apa? Yup, perayaan hari kasih sayang. Biasanya, semua orang ramai-ramai menunjukkan rasa kasih sayang dan cintanya secara terang-terangan kepada orang yang dikasihi dan dicintai. Entah kepada pacar, sahabat, teman, orangtua, keluarga, dan sebagainya.

Kasih yang ada didalam diri kita sebagai orang percaya memang perlu ditunjukkan dan dibagikan kepada sesama. Tapi tidak hanya di moment khusus aja seperti saat ini, tapi tunjukkan setiap saat. Karena apa? Karena kasih merupakan ciri khas keluarga Allah seperti tertulis dalam surat 1 Yohanes ini. Ditegaskan dalam pasal 3:1 bahwa kita memang menjadi bagian dari keluarga Allah, kita disebut anak-anak Allah dan memang kita adalah anak Allah! Ciri khas dari anak-anak Allah yaitu memiliki kasih dalam diri dimana kasih itu nyata jelas berasal dari Allah. Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (ay.7).

Jadi guys, cara utama untuk mencerminkan hati Bapa adalah dengan menunjukkan kasih kepada sesama. Kiranya kasih Allah yang ada didalam diri kita dapat dialami dan diteruskan kepada sesama kita setiap hari dan setiap  saat. Yuk, pikirkan kegiatan apa yang mau kamu lakukan untuk membagikan kasih Allah yang ada didalam dirimu agar sekitarmu merasakan Kasih Allah tersebut? Doakan dihadapan Tuhan yah, setelah itu lakukan kebaikkan menebarkan kasih tersebut. Selamat membagikan kasih Allah.

Dunia perlu melihat kasih Allah yang terdapat didalam diri setiap pengikut Kristus. Sebarkanlah Kasih! Selamat mengasihi!

Sweet Fellowship (Hari 23)

Baca: Ibrani 10:19-25

Sweet Fellowship

Persekutuan dalam Perjanjian Baru bermakna lebih dalam daripada sekadar bersosialisasi atau sekedar kumpul-kumpul bersama. Persekutuan indah akan tercipta ketika kita menyadari peran kita untuk menyokong, membangun, dan mencerahkan hidup saudara-saudari kita dalam Kristus.

Guys, Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita harus “melayani seorang akan yang lain”, mengampuni sebagaimana kita telah diampuni, dan bertolong-tolongan menanggung beban satu dengan yang lainnya. Perlu kita tahu nih, kalau sejak abad pertama, orang-orang percaya telah bersatu dalam  nama Yesus untuk “saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”, serta saling menasehati (ay.24-25).

Persekutuan umat Kristen itu tercipta ketika kita memberikan dorongan semangat kepada teman-teman kita, mendoakan mereka, serta saling mengaku dosa dan kelemahan kita masing-masing loh. Jadi, semua ini merupakan bagian-bagian yang membuat persekutuan kita menjadi murni dan manis.

Bagaimana denganmu? Sudahkah hidup didalam sebuah persekutuan yang indah, murni dan manis? Jika belum, ayo libatkan diri dalam sebuah persekutuan Kristen yang membangun. Jika sudah, yuk terus melibatkan diri sehingga menjadi ikatan iman dan kasih semakin kuat.

May the grace of the Lord Jesus Christ, and the love of God, and the fellowship of the Holy Spirit be with you all

Kini Giliran Saya! (Hari 22)

Baca: Yohanes 13 :12-17

Kini Giliran Saya!

Di sebuah panti jompo terdapat sepasang kakek dan nenek.Setidaknya mereka telah menikah selama 50 tahun. Sang kakek adalah seorang pensiunan tentara. Postur tubuhnya kini masih cukup meyakinkan, bahwa Sang Kakek pernah menjadi tentara. Disana, Sang Kakek selalu merawat isterinya yang kini sudah tidak mampu berjalan dan merawat dirinya sendiri setiap hari.Sang Kakek dengan tekun menyuapi Sang Nenek di waktu makan, mendorong kursi roda kekasihnya itu, hingga menyisir rambutnya di pagi hari. Saat ditanya mengapa Sang Kakek tekun melakukannya, ia menjawab ‘Saya memang sudah pernah melayani negara ini dengan setia, tetapi isteri saya telah lebih dahulu setia melayani saya di masa muda hingga tuaku. Kini giliran saya melayaninya”.

Nah teman-teman melalui perikop yang kita baca, Yesus juga menunjukkan teladan dalam melayani. Ia, yang adalah Tuhan rela turun ke dunia, tinggal bersama-sama manusia berdosa, dan membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia Tuhan, tetapi Yesus mau melayani dengan rendah hati. Ia Guru dan Tuhan yang sudah menunjukkan teladan melayani dan ‘memerintahkan’ kita untuk saling membasuh kaki, saling melayani dengan kerendahan hati (ayat 14-15). Ketika menerima anugerah keselamatan, di saat yang sama kita juga menerima anugerah untuk melayani. Ketika Allah memanggil kita melayani, maka kepada kita juga diberikan karunia tertentu seperti mendengarkan, bernyanyi, bermain musik, berdoa, dan masih banyak lagi. Semuanya itu dikaruniakannya agar kita melayani seorang akan yang lain sesuai  dengan karunia yang diperoleh orang tiap-tiap kita (1 Petrus 4:10) sebagai satu tubuh Kristus (Roma 12:4).

Oleh sebab itu, tidak ada bagian yang lebih besar untuk dikerjakan dan tidak ada pula yang lebih kecil. Melayani juga bukan terbatas di gereja atau persekutuan, tetapi kita dapat melayani di rumah, sekolah, dan dimana saja. Yesus sudah melayani kita orang berdosa ini, kini maukah kamu melayani?

Kerelaan melayani menunjukkan kasih kita kepada Allah -warungsatekamu