Lari dari Godaan (Hari 21)

Baca: Kejadian 39:3-12

Lari dari Godaan

Yusuf adalah tipe cowok dambaan para wanita. Selain punya jabatan tinggi, keuangan yang terjamin, ia juga seorang pemuda yang tampan (ay. 6b). Semua cowok pasti ingin menjadi seperti Yusuf. Namun perhatikanlah teman-teman, tiba-tiba Yusuf mendapatkan sebuah godaan, yakni isteri tuannya mengajaknya “tidur” (melakukan hubungan seksual, ay 7, 11-12). Sebenarnya Yusuf bisa saja menerima godaan Isteri tuannya karena tidak ada orang yang melihat perihal ini sama sekali. Namun Yusuf tidak melakukannya, ia menyadari itu perbuatan dosa dihadapan Allah, hingga kemudian ia lari dari godaan itu. Ya, dia lari. Yusuf bukan menghindari pelan-pelan tetapi berlari! (ay 12b). Berlari dari godaan menjadi bukti bahwa Yusuf taat kepada Allah.

Teman-teman,  banyak godaan seksual disekitar kita, entah secara langsung maupun tidak langsung. Jika kita berpacaran dengan orang yang tidak dewasa rohani, ada kemungkinan dia akan meminta kita melakukan hal itu (perilaku seksual diluar pernikahan). Namun bisa juga kita digoda melalui media sosial, entah dikemas dalam bentuk komik, humor, akun remaja; atau melalui Film, buku-buku, dan sebagainya. Pornografi ada dimana-mana. Maukah meneladani Yusuf? Ketika ada godaan bukan menghindar pelan-pelan, tetapi BERLARI meninggalkan sejauh-jauhnya.

Jangan menonton film yang mengandung unsur pornografi (adegan intim, kissing, dan sebagainya), lebih baik kita tidak follow akun-akun media sosial / artis / selebgram yg juga membagikan hal-hal yg tidak sepantasnya. Tidak bersama dengan mereka yang mencintai pornografi, bukan berarti memusuhi mereka, tetapi jika kita tidak kuat maka bukannya kita jadi berkat justru kita yang tergoda. Melekatlah kepada Kristus. Mintalah pertolongan pada-Nya agar kita dapat lari dari godaan.

“Kristus yang menyelamatkan kita, selalu siap menolong kita keluar dari dosa-dosa  kita”

A Better Friend (Hari 20)

Baca: 1 Samuel 18:1-5

A Better Friend

Liana dan Alexa dalam Barbie and The Diamond Castle adalah dua orang sahabat yang tumbuh bersama-sama dan tinggal di samping taman yang indah. Mereka tidak memiliki sesuatu yang berharga kecuali persahabatan, rasa memiliki satu sama lain, kasih sayang, musik, dan pekerjaannya sebagai penanam dan penjual bunga. Suatu hari mereka menemukan batu berbentuk hati dan mengubahnya menjadi kalung sebagai simbol persahabatan. Dari sanalah petualangan tentang kasih dan persahabatan mereka diuji.

Kisah Daud dan Yonatan memberikan kita teladan dalam menjalin persahabatan. Alkitab menyebutkan bahwa ada jiwa yang berpadu diantara keduanya bahkan Yonatan mengasihi Daud seperti jiwanya atau dirinya sendiri. Daud dan Yonatan menjalin persahabatan yang erat, saling berbagi, saling percaya, dan saling mengasihi. Ketika persahabatan mereka diuji dengan rencana pembunuhan Daud (1 Samuel 19), Yonatan tidak berpihak pada Saul, ayahnya yang jahat, tetapi Yonatan justru melindungi Daud. Yonatan melakukannya bukan semata-mata karena ia buta akan kasihnya terhadap Daud, melainkan kasih Yonatan pada akhirnya menolongnya melihat apa yang Allah perkenankan yaitu melindungi Daud, dan menilai persahabatan mereka sebagai sesuatu yang berharga.

Persahabatan yang dijalin karena kesamaan tertentu hanya akan bertahan ketika semuanya tampak baik-baik saja, tetapi persahabatan yang dijalin atas dasar kasih kepada Allah akan bertahan sampai akhir. Persahabatan sejati, akan memampukan kita untuk terus ‘mendekat’ kepada Allah dan tetap mengasihinya pada saat-saat mudah ataupun sulit. Daud dan Yonatan menikmati persahabatan dan bertahan sampai akhir, demikian pula Liana dan Alexa. Nah, bagaimana denganmu? Sudahkah kamu memiliki sahabat yang menolongmu semakin mengenal Kristus? Mintalah, maka akan diberi. Sahabat sejati membawamu kepada Kristus.

Kita tidak akan pernah memiliki seorang teman yang lebih baik daripada yang mengarahkan kita pada Yesus– Alistair Begg

Sukacita Dunia VS Sukacita Allah (Hari 19)

Baca: Matius 5:2-12

Sukacita Dunia VS Sukacita Allah

Hari itu Maura sangat sedih. Ketika ia tidak mau memberi contekkan, justru ia malah dimusuhi dengan teman-teman sekelasnya. Dalam mengerjakan pelayanan di Rohkris pun ia mengalami kesulitan, ia dimarahi orang tua karena ada rapat sepulang sekolah hingga sore. Bahkan beberapa sahabatnya menganggapnya “Sok Suci” karena tidak mau ikutan cabut kelas ke kantin. Apa yang dilakukan Maura adalah benar, namun mengapa ia diperlakukan negatif oleh orang-orang sekitarnya?

Itulah yang Yesus katakan di awal khotbahnya di bukit. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kita masih hidup di dunia dengan segala dosa di dalamnya, termasuk orang-orang berdosa. Namun Tuhan Yesus mengingatkan Para Pendengar bahwa setiap ketaatan yang kita lakukan pasti akan diapresiasi oleh Allah, oleh karena itu disebut Berbahagia.

Mari refleksikan secara pribadi dihadapan Allah yang kudus. Adakah tekanan, kesedihan, kekecewaan, yang kita alami karena mengerjakan pelayanan atau melakukan ketaatan pada Allah? Mari sadari bahwa bukan apresiasi dari manusia yang Allah janjikan, melainkan apresiasi dari-Nya.

“Sukacita abadi hanya berasal dari Allah”

 

The Trolls (Hari 18)

Baca: Kisah Para Rasul 2:41-47

The Trolls

Karakter Branch dalam film animasi Trolls membiasakan diri untuk hidup jauh dari komunitas Trolls yang hangat, berwarna, penuh kebahagiaan dan nyanyian. Ia sibuk mempersiapkan bunker yang aman agar dirinya aman dari bargen (raksasa yang menganggap jika memakan Trolls akan merasa bahagia, padahal tidak), ia juga berpikir negatif tentang komunitasnya sehingga hatinya dingin dan tidak berwarna seperti Trolls pada umumnya. Tetapi, di bagian akhir diceritakan jika Branch akhirnya bisa kembali berwarna, bernyanyi, juga merasakan kebahagiaan dan kehangatan dalam komunitas.

Sama seperti Branch, mungkin kita juga pernah atau bahkan saat ini menjauhkan diri dari persekutuan (rohkris, kelompok kecil, remaja di gereja, persekutuan kota) yang sudah Tuhan anugerahkan. Mungkin ada masa kalau kita merasa ‘dingin’ terhadap komunitas ataupun sebaliknya sehingga kita menjauhkan diri dari persekutuan. Tetapi, perikop yang telah kita baca memberi teladan bagi kita tentang hidup bersekutu. Setelah mereka dibaptis, respon pertama yang dilakukan jemaat mula-mula adalah hidup bersekutu dengan orang-orang seiman (ayat 42).

Mereka mendengarkan Firman, mengucap syukur, dan berdoa. Dalam hidup bersekutu pun, mereka tidak curiga satu sama lain, tidak iri hati, tidak membicarakan orang lain, tetapi percaya dan tetap bersatu dalam Kristus seperti doa Yesus (dalam Yohanes 17:21), juga saling berbagi suka duka. Bahkan pada jemaat mula-mula dikatakan bahwa milik pribadi menjadi milik bersama (ayat. 44-45). Hal ini menyatakan bahwa kehidupan mereka dalam komunitas persekutuan adalah hidup yang saling tolong menolong.

Bersekutu bukan hanya karena kita butuh orang lain atau orang lain butuh kita, tetapi bersekutu adalah panggilan sejati seseorang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Persekutuan yang Tuhan anugerahkan di sekolah, gereja, dan wilayahmu (Student Fellowship) mungkin adalah ‘Komunitas Trolls’ yang akan membantumu menemukan warna dan kebahagiaan sejati. So, Maukah bersekutu? Nah, jangan lupa bersekutu ya teman-teman.

It is grace, nothing but grace, that we are allowed to live in the community with Christian brethren – Dietrich bonhoeffer

Live Happily Ever After (Hari 17)

Baca: 1 Tesalonika 4:13-18

Live Happily Ever After

Salah satu kalimat Disney yang terkenal hingga hari ini, yang terdapat disetiap akhir cerita, terutama dalam kisah-kisah Princess, ada tertulis: “and they LIVE HAPPILY EVER AFTER” (dan mereka hidup bahagia selama-lamanya). Ungkapan ini adalah ungkapan yang tepat juga digunakan oleh orang-orang yang sudah terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Orang yang sudah terima Yesus memang tidak dijanjikan hidup bahagia di dunia, namun satu yang pasti, kita akan hidup bahagia selama-lamanya di Surga.

Surga adalah tempat yang begitu nyaman, indah, dimana tidak ada kesedihan. Namun ingat, kebahagiaan ini hanya untuk orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya (1 Tesalonika 4: 13-18).

Pandanglah sekitarmu, adakah orang-orang disekitar (orang tua, kakak/adik, saudara, teman, dll) yang belum percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat? Sampaikanlah karya keselamatan yang Yesus kerjakan. Kiranya pemahaman ini menolong kita menghibur sesama yang bersedih karena orang yang dikasihi telah pergi ke surga, dan juga memberi kita semangat untuk memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus kepada yang belum percaya. Sampai berjumpa dalam kebahagiaan yang kekal di sorga nanti.

“Sukacita sejati adalah berjumpa dengan Yesus dan berkumpul bersama orang-orang terkasih di Surga”

Money is Not Everything (Hari 16)

Baca: Matius 19:16-26

Money is Not Everything

Kehidupan sebagian besar para artis Hollywood mengajarkan kita bahwa menjadi orang kaya adalah segala-galanya. Namun pada faktanya, yang seringkali terjadi ialah kekayaan justru membuat mereka hidup menjauh dari Allah. Banyak diantara mereka yang memutuskan untuk tidak mempercayai Allah, terlibat skandal ini-itu, kawin-cerai, memakai narkoba, stress, kehidupan seks bebas, dan sebagainya.

Teman-teman, itulah yang terjadi pada seorang muda yang kaya pada perikop yang baru saja kita baca. Ia bertanya apa yang harus diperbuat agar mendapat hidup kekal? Semua perbuatan baik sudah ia perbuat, namun Yesus tahu satu dosa yang membuat orang tersebut belum sungguh-sungguh mengikut Tuhan, yaitu cinta harta. Tidak ada yang salah dengan kekayaan, namun pemuda itu menggantungkan kepercayaan dan hatinya sepenuhnya pada harta yang ia miliki. Sehingga ketika Tuhan Yesus memintanya untuk menjual harta dan membagikan ke orang miskin, ia sedih dan pergi meninggalkan Tuhan Yesus (ay 21-22).

Mari kita refleksikan secara pribadi dihadapan Allah. Apakah uang serta kekayaan juga menjadi berhala kita? Apakah kita mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri, namun memberi sedikit kepada sesama? Maukah belajar memberi? Maukah untuk tidak pelit dalam memberi persembahan untuk pekerjaan pelayanan, menolong teman yang susah, dan sebagainya? Jangan gantungkan hidupmu pada uang, karena itu bukanlah kepuasan kita yang sejati. Baca juga Matius 6:19-20 agar kita terus dapat mengingat betapa penting mengumpulkan harta di sorga

“Memberi lebih baik daripada menerima”