Selebgram (Hari 15)

Baca: Filipi 3:4b-11

Selebgram

Akhir-akhir ini media sosial dihebohkan dengan fenomena Selebgram. Selebgram biasanya orang yang terkenal mendadak melalui media sosial yakni Instagram. Mereka memiliki followers banyak, suka di endorse, bahkan dibayar ketika mengiklankan suatu produk. Fenomena ini banyak membuat remaja iri hati satu dengan yang lainnya. Para remaja itu saling berkomentar, “Ihhh enak ya jadi selebgram”, bahkan tidak jarang kita pun berlomba-lomba jadi selebgram di medsos, lalu post foto-foto yang bagus, kemudian menunggu banyak orang yang nge-like foto kita. Ada juga yang menggunakan aplikasi Auto-Followers supaya tiba-tiba followers-nya jadi ribuan, belasan ribu. Padahal itu akun-akun palsu. Secara tidak disadari, kita merasa hal-hal tersebut dapat membanggakan diri kita, padahal itu sama sekali tidak membanggakan dihadapan Allah!

Mari kita belajar dari Paulus. Paulus adalah salah seorang yang layak dibanggakan pada masa hidupnya dulu. Ia berasal dari bangsa pilihan, pemberani, dan sangat cerdas. Bayangkan, Paulus adalah salah satu murid Gamaliel, orang terpintar dan terpandang pada masa itu. Siapa yang tidak bangga? Namun setelah bertobat, Paulus menyatakan tidak bangga terhadap itu semua, Paulus menyadari tanpa memiliki Kristus sesungguhnya hidupnya tidak berarti (ay. 8).

Saat ini, mari kita merenungkan sejenak. Pada hal apa kita meletakkan kebanggaan diri kita? Apakah ketika punya followers banyak? Apakah pada prestasi kita? Apakah pada kecantikan/ketampanan kita? Apakah pada kekayaan kita? atau hal-hal lainnya yang tidak sesuai kebenaran Firman. Nah, mari menyadari bahwa hal-hal yang demikian adalah fana (tidak abadi), sehingga kebanggaan sejati dalam hidup adalah ketika kita memiliki Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita.

“Hidup yang sia-sia adalah hidup tanpa memiliki Kristus. Tolong aku Tuhan membawa orang lain kepada-Mu”

Bunga Api Kecil (Hari 14)

Baca: Yohanes 4:28-30, 39-42

Bunga Api Kecil

Sewaktu kecil, aku berlibur bersama dengan keluarga besar kantor papaku di sekitar Danau Toba. Di malam hari, papaku dan teman kantornya membuat api unggun dan anak-anak mengelilinginya supaya kami merasakan kehangatan. Lalu papaku duduk di sampingku dan adik kecilku, lalu menyanyikan lagu berjudul ‘Bunga Api Kecil’ sambil memainkan gitar. Liriknya seperti ini “Bunga api kecil dapat nyalakan unggun, lalu sekitarnya jadi hangat dan nyaman. Demikian kasih Tuhan sekali kualami, ku mau t’ruskan ke tiap insan, ingin kusampaikan”.

Kisah seperti yang digambarkan dalam lagu ini juga ternyata pernah tercatat dalam Alkitab. Waktu Yesus akan kembali dari Yudea ke Galilea, Yesus dan murid-murid-Nya melewati Samaria (ayat 3-4). Disanalah Yesus bertemu dan bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria yang berdosa. Pada masa itu, ‘haram’ bagi orang seperti Yesus untuk berbicara dengan perempuan Samaria itu (ayat. 9). Dalam percakapan itu, perempuan itu akhirnya menyadari siapa yang bercakap-cakap dengan dia, yaitu Yesus, Sang Mesias; juga siapa dirinya yaitu orang yang berdosa di hadapan Allah. Perjumpaannya dengan Yesus ternyata memberikan dorongan yang besar baginya untuk bercerita kepada orang-orang di sekitarnya, “segera” sesudah ia mengenal siapa Yesus (ayat 28). Nampak jelas bahwa perempuan itu tidak tahan untuk menyimpan kehangatan kasih Tuhan itu seorang diri saja.

Karena perempuan yang berdosa itu, pada akhirnya Yohanes mencatat ada banyak orang Samaria di kota itu yang percaya kepada Yesus karena perkataan perempuan itu (ayat 39) dan mereka melihat, mendengar sendiri bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia (ayat 41-42). Seperti bunga api kecil yang dapat menyalakan unggun, karena satu orang yang tidak diperhitungkan, banyak orang mendengar tentang Yesus. Yuk kita pikirkan, kepada siapa kita akan menceritakan kehangatan kasih-Nya yang mengubahkan hidup kita hari ini?

Semakin kita mengenal Yesus, semakin kita tidak bisa menahan kehangatan kasih-Nya seorang diri saja. Ceritakanlah!

Memilih Bagian yang Tersulit (Hari 13)

Baca: Matius 18:21-22

Memilih Bagian yang Tersulit

Saat aku bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP), teman pertamaku di sekolah baru, sebut saja Tia dipanggil ‘batam’ oleh teman-temanku. Teman-temanku memanggilnya ‘batam’ (kepanjangan untuk ‘babi hitam’) sebagai olok-olokan karena ia tidak putih dan tubuhnya yang termasuk gemuk. Tentu saja, kita pun tahu bahwa bullying verbal yang diterimanya menyakiti hatinya. Bagi sebagian orang, bentuk tubuh tertentu, kondisi fisik tertentu, bentuk wajah tertentu, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, sifat atau karakter tertentu, phobia tertentu,  menjadi bahan olokan yang sangat ‘menyenangkan’. Tetapi bagi beberapa orang, cap yang diberikan kepada mereka adalah sesuatu yang menyakitkan, seperti Tia. Ia tentu punya beberapa pilihan yakni untuk menyimpannya dalam hatinya, membalaskan bullying yang diterimanya, atau memilih bagian yang tersulit ‘mengampuni’.

Kata orang, mengampuni tidak semudah membalikkan telapak tangan bahkan ada yang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah mengerti betapa susahnya mengampuni apabila kita tidak pernah disakiti. Dalam perikop yang kita baca Yesus menyatakan bahwa mengampuni harus sampai tujuh puluh kali tujuh kali (ayat 22), artinya kita harus mengampui “sebanyak-banyaknya kali” kita dapat mengampuni mereka.

Banyak orang berpikir bahwa mengampuni berarti melupakan kesalahan orang yang telah menyakitinya tetapi sudah tidak mau lagi berbicara dengannya, duduk bersama dengannya, tersenyum dan menyapa, bahkan tidak mau menyebutkan namanya. Padahal kita mengetahui bahwa bagian kita adalah terus mengasihi, ramah seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni (Efesus 4:32) seperti yang sudah Yesus lakukan di kayu salib.  Ia menunjukkan meskipun kita menyakiti-Nya dengan dosa kita, Ia tidak membalaskannya. Ia memilih yang tersulit, yaitu mengampuni dosa kita, di saat kita tidak layak diampuni. Itulah anugerah.

Sebab itu, mari refleksikan bersama: Jika pengampunan itu juga anugerah bagi kita, kepada siapa ‘anugerah’ yang sama harus kita berikan?

Manusia harus ‘mengampuni’ sama seperti Allah telah mengampuni kita

Young, Wild, and Free (Hari 12)

Baca: Pengkhotbah 11:9-12:1

Young, Wild, and Free

Seorang siswi di SMA X memiliki gaya pacaran yang sangat bebas, hingga suatu hari ia didapati hamil. Mau tidak mau ia harus putus sekolah. Begitu juga dengan siswa di SMK X, ia harus putus sekolah dan dipenjara karena menjadi pelaku tawuran antar sekolah bahkan hingga menghilangkan nyawa orang lain. Kisah yang menyedihkan ya.

Nah teman-teman, setiap hal-hal negatif yang kita lakukan pasti akan ada konsekuensinya, atau ada akibat yang harus kita pertanggungjawabkan. Itulah yang pengkhotbah katakan dalam Pengkhotbah 11:9-12:1. Dunia ini mengatakan “sudahlah hidup saja sesuka hati kita! mumpung masih muda brooo! Gapapa puas-puasin berdosa” seperti lirik dalam lagu Young, Wild, and Free – Bruno Mars ft Snoop Dog & Wiz Khalifa.

Namun perhatikanlah teman-teman. Alkitab tidak mengajarkan demikian. Meski kita sudah memiliki Kristus sebagai jaminan keselamatan, namun Allah tetap akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan selama di bumi. Wahai kaum muda, coba kita pikirkan bersama, hal-hal apa saja yang akan kita lakukan sebagai remaja yang takut akan Tuhan dan sudah diselamatkan? Lalu mari kita renungkan bersama: apakah kita mau masuk ke surga sebagai anak yang baik atau anak yang bermain-main dengan dosa? Maukah kita meninggalkan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan dan kembali kepada-Nya dalam masa muda ini?

“Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” 1 Yoh 1:9

 

Words Have Power (Hari 11)

Baca: Yakobus 3:5-12

Words Have Power

Alkisah di sebuah hutan dimana hewan-hewan masih hidup berdampingan dengan damai, terdapat seekor kelinci yang angkuh dan banyak bicara. Suatu sore yang sejuk, ia berjalan-jalan dan kemudian tersesat. Pada waktu itu, Si Kelinci melihat seekor Elang Muda sedang belajar untuk terbang. Si kelinci kemudian memanggil si elang dan meminta pertolongan dengan angkuh. Elang Muda itu pun kemudian bersedia untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya asal Si Kelinci tidak banyak berbicara dan bergerak. Si Kelinci kemudian setuju dengan syarat itu. Elang Muda pun terbang dengan sangat hati-hati. Ketika Elang Muda mulai memiliki keberanian untuk terbang lebih tinggi, Si Kelinci kemudian ketakutan sehingga berteriak, memaki dan banyak bergerak. Akhirnya, Si Kelinci pun terjatuh, dan mati.

Frasa yang tepat untuk menggambarkan apa yang dialami oleh Si Kelinci yang banyak bicara adalah ‘mulutmu harimaumu’. Karena keangkuhan dan kecerobohannya, akhirnya ia pun harus menerima akibatnya. Alkitab pun memberikan pesan yang sama kepada kita untuk mengendalikan mulut dan perkataan kita. Lidah dapat memegahkan perkara-perkara yang besar dan membangun; tetapi kita juga tidak boleh lupa jika lidah juga dapat merusak (ayat 5). Contohnya bergosip, mengolok-olok teman, bercanda hingga menyakiti orang lain, menghina, memanggil orang lain dengan kasar, mengucapkan kata-kata kosong (an**r, dll) seringkali kita lakukan. Dengan mulut yang sama, kita juga bernyanyi, berdoa, memuji Tuhan, dan bersaksi. Firman Tuhan dalam perikop yang kita baca ini mengingatkan kita bahwa air tawar dan air pahit tidak mengalir dari sumber yang sama ataupun pohon ara dan tidak menghasilkan zaitun (ayat 11-12).

Jika Allah menciptakan kita untuk melakukan pekerjaan baik (Efesus 2:10), demikian pula mulut kita diciptakan untuk pekerjaan baik, yaitu memuji Allah melalui mulut kita. Yuk, maukah kita sama-sama belajar untuk membangun melalui perkataan kita?

Perkataan kita berkuasa membangun atau menghancurkan sesama – warungsatekamu

Bersyukur (Hari 10)

Baca: Bilangan 11:4-6, 31-35

Bersyukur

Randy kesal pada ayah dan ibunya karena tidak dibelikan handphone dan laptop khusus game. Sudah lama ia meminta namun ketika ulang tahun ternyata hanya dibelikan baju dan sepatu baru. “Bukan itu yang aku mau!” teriak Randy.

Bangsa Israel juga berlaku seperti apa yang Randy lakukan. Ketika Allah membawanya keluar dari Mesir, Allah menyediakan makanan bagi mereka yaitu Manna yang turun dari langit (Manna = roti). Namun mereka bersungut-sungut, mereka tidak mau makan roti, mereka mau daging! Betapa tidak bersyukurnya mereka. Melihat bangsa yang tidak bersyukur itu, akhirnya Allah mengabulkan permintaan mereka namun juga sekaligus menghukum dengan memberi tulah dan kematian (ay. 33-34). Mengerikan sekali ya!

Nah, teman-teman, sadarilah bahwa dunia ini jelas mengatakan mengenai kepuasan sejati adalah ketika semua yang kita inginkan terkabul. Padahal belum tentu apa yang kita inginkan berkenan dihadapan Allah, bisa saja hal itu hanya sekedar keinginan duniawi yang sementara untuk memuaskan diri kita. Seringkali karena keinginan-keinginan yang tidak terkabul kita menjadi marah dan kecewa kepada Tuhan bahkan sesama.

Yuk, mari kita belajar mensyukuri apapun yang kita sudah dapatkan. Ingat, kita boleh berdoa dan meminta kepada Allah, namun bukan memaksa seakan-akan Allah tidak tahu apa yang terbaik bagi kita ya. Maukah bersyukur kepada-Nya? God knows the best, because we were created by Him!

Be grateful everyday for what we have