Take My Life

Oleh: Rosefine Tresia, A.Md / Vokasi UI 2012 (Staf Siswa)

Berbicara mengenai panggilan hidup pastilah tidak lepas dari pergumulan dan masa-masa sulit. Ketika mengalami masa tersebut, saya menikmati lagu “Take My Life” (Tuhan Ambil Hidupku) yang salah satu baitnya berkata, “Take my silver and my gold, not a mite would I with-hold. Take my intellect and use. Every power as Thou shalt choose”. Lagu ini menjadi bagian dari hidup saya beberapa tahun setelah saya menerima Kristus sebagai Jurus'lamat. Saya dididik oleh Allah, bahkan diajarkan untuk melepaskan hal yang dianggap berharga pada umumnya.

Saya tidak pernah menduga jika setelah lulus kuliah akan menjadi Staf Perkantas. Saya ingat bahwa Allah memanggil saya ketika mengikuti Retreat Koordinator XIII yang bertema “Allah Panggil Kaum Muda”. Salah satu hal yang membuat saya excited ikut RK ini adalah karena teman-teman sesama pelayanan siswa dan PO UI banyak yang hadir. Saya sangat menikmati setiap sesi yang ada, tetapi tidak pernah menduga bahwa pada setiap sesi itu Tuhan menggelisahkan hati saya berkaitan dengan panggilan hidup. Tuhan menggelisahkan hati saya hingga saya bingung sendiri. Sejak mengenal pelayanan siswa di RohKris (Rohani Kristen) SMA. Di sana saya diajarkan untuk tidak langsung percaya begitu saja ketika ada kegelisahan dalam hati, saya harus mengujinya lewat Firman untuk benar-benar memastikan itu dari Allah bukan berasal dari ketakutan pribadi. Sepulang dari RK, saya menemukan fakta bahwa benar Allah telah memanggil. Saya banyak diteguhkan lewat Firman dalam saat teduh, saat membaca buku Rising to The Call – O.S Guinness, dan beberapa kali melalui Firman di Persekutuan dan Gereja. Akan tetapi, saya menyimpan fakta tersebut rapat-rapat. Hanya saya dan Tuhan yang tahu. Apalagi waktu itu saya baru memasuki semester 4, saya pikir saya tidak perlu mengatakannya kepada siapa-siapa, toh masih jauh menuju semester akhir.

Nyatanya waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa saya sudah mulai memasuki semester akhir. Perasaan tenang mengenai panggilan hidup, kini berubah menjadi perasaan waswas. Perasaan seperti takut, gelisah, dan khawatir mulai memenuhi benak saya. Jika saya saja shock, apalagi orang-orang disekitar saya. Namun, saya semakin diteguhkan menjadi Staf Siswa lewat Firman dalam Kejadian 19: 1-29 -- tragedi Sodom dan Gomora. Kota ini telah melakukan hal yang menjijikan karena menjadikan persetubuhan yang tidak wajar antara sesama lelaki sebagai hal yang biasa, bahkan mengepung dan mendesak Lot agar membiarkan tamunya dipakai oleh mereka. Tetapi kali ini ada informasi yang menghentak pikiran saya, dalam Alkitab tertulis tidak sekedar laki-laki melainkan “... dari yang MUDA hingga yang tua, bahkan seluruh kota, datang mengepung rumah itu”, saya kaget “Apa? Dari yang muda? Jadi, sedari muda mereka telah mengetahui hal demikian bahkan menjadi pelakunya? Ada apa dengan moral mereka? Mengapa separah ini?” Saya merenung sejenak. Kerusakan dan kebobrokan moral kaum muda tidak hanya terjadi di kota dan pada zaman itu. Jika kita mengingat dan melihat konteks Kota Jakarta, seringkali kondisi siswa lah yang menjadi icon kebobrokan moral. Tawuran, free-sex, bullying, pornografi, atau hal-hal yang terlihat sepele seperti malas, menyontek, tidak mau beribadah, berbohong, tidak sopan, consumerism, gadget addict, menjadi hal yang biasa pada siswa/i Ibukota masa kini. Padahal mereka adalah calon pemimpin bangsa.

Siapa yang mau pedulikan mereka? Siapa yang mau menolong mereka ketika diombang-ambingkan oleh angin pengajaran dan pergaulan yang sesat? Siapa yang mau secara khusus menyediakan waktu untuk menolong dan mendidik mereka? Ini aku, utuslah aku.

Pekerjaan Kasih Karunia

Oleh: Indra Prawira, S.Si. / FMIPA UI 2011 (Staf Mahasiswa)

Aku masih duduk di bangku SMA, ketika mulai merenungkan kehidupan sebagai seorang Kristen. Saat itu, aku sedang mengikuti pelajaran agama. Pak guru kemudian memintaku untuk membaca sebuah pernyataan dan menilai pernyataan tersebut, setuju atau tidak setuju. Pernyataannya berbunyi demikian, “Anugerah terbesar di dalam hidupku, ialah pengorbanan Yesus Kristus di kayu Salib.” Dengan penuh rasa percaya diri, aku langsung menjawab, “Tidak setuju, Pak!” Dalam pikiranku, bernapas dan dapat bangun di pagi hari dengan kekuatan yang baru, sudah menjadi anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada aku. Lalu, pak guru menanggapi, “Benar begitu? Coba kamu pikirkan kembali.” Sejak saat itu, aku terus bertanya kepada diriku sendiri, “Benarkah demikian?” 

Lalu, waktu pun terus berjalan. Aku mengikuti katekisasi dan baptis sidi. Namun tetap saja, keraguan tentang pengorbanan Kristus di Salib masih ada. Hingga akhirnya aku mengikuti kelompok kecil di gereja dan Allah menjawab semua keraguan itu. Ia sendiri menyatakan diri-Nya kepadaku. Sungguh saat yang luar biasa ketika Allah berbicara langsung kepadaku, “Karena pengorbanan-Ku di Salib, engkau beroleh kehidupan yang baru.” Sejak saat itu, aku betul-betul yakin bahwa pengorbanan-Nya di kayu salib adalah anugerah terbesar dalam hidupku.

Selesai dari SMA, Tuhan memberikanku kesempatan untuk berkuliah di FMIPA Universitas Indonesia. Selama 4 tahun aku belajar hingga akhirnya menyelesaikan perkuliahanku. Di tahun terakhir inilah, Tuhan mengijinkanku mengalami masa yang berat namun juga indah. Mengerjakan skripsi, melayani di tahun terakhir sebagai pengurus, kemudian menjadi penilik dan tim regenerasi, dan tentunya, menggumuli panggilan hidup ke depan. Dari kecil hingga SMA, aku sangat bercita-cita menjadi seorang guru SMA, mengajar Biologi.

Berbicara mengenai panggilan hidup, di tahun terakhir berkuliah, Allah memberikanku satu perenungan berisi seluruh perjalananku dari awal masuk kuliah hingga di penghujung kehidupan kampus. Sungguh, kusadari bahwa perjalananku selama ini adalah berkat kasih karunia Allah. Pertobatan di SMA, kembali diteguhkan-Nya saat aku berkesempatan menikmati KK di PO FMIPA UI. Pengenalan dan pertumbuhan iman kepada Kristus juga aku alami di PMK bersama abang, kakak, teman, dan adik rohani. Hingga, Allah juga memberikanku kesempatan untuk melayani sebagai PKK, pengurus, juga sebagai Koordinator di PO FMIPA UI. Tentunya, juga banyak jatuh bangun yang aku alami dalam kehidupanku selama di kampus. Di saat yang sama, Allah juga memperlihatkanku pada kondisi sekitarku, di mana pada masa-masa ini, mahasiswa semakin menjadi rentan dengan berbagai macam nilai
yang sangat berbeda dengan Injil Kristus. Dari sinilah, kerinduanku dan panggilan Allah untuk melayani dan membagikan Injil yang kunikmati kepada mereka bermula.

Kerinduan dan panggilan ini semakin Tuhan mantapkan ketika Ia mengijinkanku mengikuti Retret Koordinator XIV. Di RK ini, panggilan dan beban yang Allah suarakan semakin jelas. Namun, sama seperti Musa di Keluaran 3, aku berusaha mengelak dan berlari dari-Nya. “Di dalam segala kelemahanku, siapakah aku ini, hingga Engkau memanggilku?” ucapku pada Tuhan. Pengelakan itu terjadi untuk beberapa lama, sambil aku juga menyibukkan diri dengan mengerjakan skripsi. Sampai suatu saat, Firman- Nya di dalam 1 Korintus 15:10 berbicara, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Inilah yang akhirnya membuatku sadar, mulai dari awal hidup baruku, menikmati pertumbuhan dan pengenalan akan Kristus, hingga melayani dan berkuliah di kampus, semuanya boleh terjadi hanya oleh kasih karunia-Nya. Dan ketika Allah memanggilku saat ini untuk melayani mahasiswa-mahasiswa yang begitu Ia kasihi, satu keyakinan bahwa kasih karunia-Nya tak akan berhenti menolong dan menopangku. Inilah pekerjaan kasih karunia yang Ia nyatakan kepadaku. Dan aku terus menantikan dengan taat, pekerjaan-Nya ini di setiap langkahku sebagai staf Perkantas, pekerjaan-Nya di kampus-kampus dan pekerjaan-Nya di Indonesia tercinta.

Why Have You Chosen me

Oleh: Stevina Marlinawati, S.Pd. / UNJ 2011 (Staf Siswa)

“Why have You chosen me, out of millions Your child to be. You know all the wrong that I’ve done ....”

Lagu itu pertama kali didengarnya saat berada di RohKris (Rohani Kristen) SMAN 90 tahun 2008. Membuatnya
teringat kepada kehidupan seorang Anak Baru Gede (ABG) yang pada tahun 2006 telah mengambil keputusan untuk menerima Kristus sebagai juruselamat dalam hidupnya. Namun seiring berjalannya waktu, arus dunia mulai membawanya melupakan kasih Kristus yang telah dialami sepanjang hidupnya. Lalu apa yang ia dapatkan? Hanya kekosongan dalam hatinya yang membuat ia bertanya; untuk apa sebenarnya ia hidup?

“.. Oh how could You pardon me, forgive my iniquity, to save me give Jesus Your Son ....”
Allah menjawab pertanyaannya dalam Persekutuan Jumat (PJ) RohKris siang itu. Hari itu menjadi permulaan yang baru ketika ia menyadari dirinya berharga di mata Allah dan hanya Kristus lah yang sanggup mengisi kekosongan hatinya.

“.. But Lord help me be, what You want me to be, Your word I will strive to obey ....”
Allah menolongnya melalui RohKris dan Kelompok Kecil untuk terus mengalami kasih-Nya yang memulihkan dirinya dari akar pahit masa lalu maupun menguatkannya untuk terus taat dan setia kepada Allah. Hidup memper-Tuhankan Kristus, itulah yang terus diingatnya.

“.. My life I now give, for You I will live, and walk by Your side, all the way.”
Ketika menggumulkan pelayanan seusai masa SMA, Allah memberinya kesempatan untuk kembali melayani siswa-siswa di RohKris sebagai TPS. Melihat kehidupannya dahulu sebagai si sulung yang terhilang, ia pun menyadari bahwa masih banyak siswa di sekitarnya yang butuh mengalami perjumpaan dengan Kristus. Banyak jiwa-jiwa muda yang Allah karuniakan talenta dan bakat, namun masih menjadikan dirinya sebagai tuhan atas hidupnya. Tetapi, mengapa Allah memilihnya?

Mengingat kisah di atas membuat saya terkagum karena karya-Nya yang telah saya alami. Saya bersyukur karena di dalam anugerah-Nya, saya dapat mengenal Kristus dan pelayanan siswa. Lirik terakhir lagu itu sungguh teruji ketika PKK saya yang juga adalah seorang staf, meminta saya mendoakan untuk menjadi seorang staf siswa. Bagi saya itu mustahil karena, saya sudah mengajar sebagai guru bagi Anak Berkebutuhan Khusus sejak kuliah yang merupakan mimpi saya sejak SMA.

Hingga akhirnya setelah 3 bulan bergumul, saat teduh di hari pertama saya bekerja adalah dari 1 Petrus 5: 1-11. “Gembalakanlah kawanan domba Allah” tentu bukan Firman yang saya harapkan di hari pertama mengajar. Saya pun berangkat mengajar dengan kegelisahan hati yang luar biasa. Esok harinya, Allah kembali berbicara melalui Lukas 22: 39-44 yang mengingatkan kembali kasih dan anugerah-Nya. Dalam doa malam itu, damai sejahtera dan keyakinan menyerahkan diri sebagai seorang staf siswa saya dapatkan ketika akhirnya mengatakan; “Tetapi bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi ...“

Praise The Lord!

Pengejaran Tanpa Lelah

Oleh: Meiliana Mulyani, S.Kom / Binus 2011 (Staf Kantor - Media)

John Stott di dalam bukunya Why I am a Christian, menggambarkan Allah sebagai Sang Anjing Pemburu dari Sorga yang terus mengejar manusia tanpa lelah. Maka, inilah cerita dari seseorang yang telah menyerah dari pengejaran-Nya.

Saat teduh, doa, dan pelayanan bukanlah hal yang asing bagiku. Bahkan aku sudah rutin melakukannya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Orang-orang beranggapan bahwa aku adalah seorang anak yang saleh dan begitu rohani. Namun, semua kegiatan rohani itu sebenarnya tidak menunjukkan bahwa aku adalah orang yang sudah 'ditangkap' oleh kasih Kristus. Pasalnya, semua itu membuat diriku justru merasa semakin baik dan layak di hadapan-Nya. Alhasil, aku merasa berhak melakukan segala hal yang aku inginkan.

"Aku ingin memimpin hidupku sendiri"

Pemikiran ini terus berlanjut hingga akhirnya Tuhan memakai PO BINUS untuk menangkapku. Aku bersyukur ketika Ia menganugrahkan Kelompok Kecil (KK) yang selalu menguatkanku dan tak segan-segan menegurku. Khususnya di masa-masa ketika Tuhan mengijinkanku kehilangan orang yang sangat kukasihi. Bahkan dia kujadikan berhala dalam hidupku. Pada akhirnya aku menyadari bahwa aku adalah manusia yang sangat berdosa yang selalu memimpin hidupku sendiri dan menolak Kristus untuk memimpin hidupku. Saat itulah aku menyerah dan membiarkan diriku 'ditangkap' oleh kasih-Nya.

Pernah terbina dalam PMK dan khususnya KK adalah momen paling berharga dalam hidupku. Aku belajar banyak hal seperti membayar harga dalam mengikuti Kristus dan mendoakan masa depanku untuk dipimpinNya. Setelah lulus, aku bertekad ingin bekerja di sebuah creative agency dan fokus membangun pelayanan pemuda di gerejaku. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, di tengah perjalananku untuk interview di sebuah creative agency aku disharingkan beban pelayanan Perkantas dan diminta untuk mendoakan sebagai staf kantor. Kesan pertamaku ketika mengetahuinya adalah tidak mungkin aku menjadi seorang staf Perkantas, tapi aku memutuskan untuk tetap mendoakannya dengan pikiran bahwa mustahil rasanya Tuhan memanggilku menjadi staf. Tapi selama proses mendoakan, ternyata panggilan itu begitu jelas dan lagi-lagi rasanya aku ingin kembali memimpin jalan hidupku sendiri. Hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak pernah mendukungku dalam pelayanan dan selalu mengajarkanku untuk meraih kesuksesan materi yang dipandang dunia membuatku takut mengalami penolakan oleh keluargaku sendiri. Itulah ketakutan terbesarku dan tentunya sebagai seorang mahasiswi yang baru saja dinyatakan lulus, ada kekhawatiran akan kecukupan materi, dan cita-cita yang harus dilepaskan yaitu bekerja di sebuah creative agency sesuai dengan passion-ku.

Berminggu-minggu berlalu, Tuhan terus menyatakan kehendaknya melalui saat teduh dan firman Tuhan yang kudengar di gereja untuk tidak khawatir akan apapun juga dan bahwa Tuhan berjanji memelihara kehidupan anak-anak-Nya, hingga akhirnya aku diteguhkan melalui Ibrani 13:5-8 “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”. Setelah membaca ayat ini, aku kembali teringat bahwa kasih Kristus yang telah menangkapku beberapa tahun yang lalu tetaplah sama sampai sekarang.

Akhirnya aku berani untuk mengatakannya kepada orang tua, dan betapa kagetnya aku ketika mereka mengijinkan walaupun dengan berat hati. Sampai sekarang, orang tuaku masih belum sepenuhnya mendukungku dan aku pun masih tidak menyangka bahwa Ia berkenan memanggilku menjadi staf ditengah keterbatasan dan kelemahanku. Tapi aku percaya bahwa “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” – 1 Tesalonika 5:24

Pengabdian Seorang Dokter

Seorang teman saya yang berprofesi sebagai dokter umum, memiliki seorang anak perempuan yang saat ini sedang mengambil fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta. Ia harus membayar biaya masuk sebesar 80 juta rupiah. Mula-mula ia keberatan dengan biaya sebesar itu. Namun, ketika menyadari bahwa biaya tersebut relatif murah dibandingkan perguruan tinggi lain, maka akhirnya ia ‘terpaksa’ menyekolahkan anaknya di sana. Luar biasa! Sungguh mahal biaya kuliah seorang calon dokter. Sangat tidak bisa dibayangkan sekarang bagaimana seorang PNS biasa dapat menyekolahkan anaknya untuk menjadi seorang dokter.

Terus terang, saya agak merasa heran bila fakultas kedokteran tetap menjadi salah satu fakultas favorit di masyarakat. Sebab, saya dengar di negara maju orang enggan sekolah kedokteran. Selain mahal, lama, dan berat mata kuliahnya, setelah lulus pun dihadang oleh tuntutan-tuntutan hukum. Bukan hal yang aneh bila terdengar selentingan bahwa di banyak rumah sakit berkeliaran orang-orang yang memanfaatkan kelengahan dokter untuk mencari uang. Dokter yang relatif ‘buta’ hukum dapat menjadi makanan empuk bagi orang-orang ini. Tingginya tuntutan hukum inilah yang menjadi salah satu alasan banyak orang di negara maju enggan menjadi dokter yang berisiko tinggi. Bahkan di Australia, perusahaan asuransi pun malas membiayai asuransi dokter kebidanan dan anestesi. Kalau pun ada, preminya amat tinggi. Apa dampaknya bagi masyarakat? Hal yang pasti adalah tingginya biaya kesehatan dan semakin renggangnya hubungan dokter dan pasien. Masyarakat menjerit karena biaya kesehatan amat mahal, tetapi di sisi lain para dokter juga terancam tuntutan hukum setiap saat.

Setelah lulus dari fakultas kedokteran yang melelahkan, seorang dokter muda harus memutuskan kemana ia selanjutnya. Bagi dokter baru yang kaya -- karena orangtuanya -- maka ia dapat langsung melanjutkan spesialisasi. Walaupun dengan biaya yang amat tinggi. Tidak heran bila terdengar informasi bahwa biaya masuk spesialisasi favorit berkisar 300 juta – 1 milyar. Sungguh jumlah rupiah yang amat besar.

Sedangkan bagi dokter yang modalnya pas-pasan maka ia akan bekerja di puskesmas atau buka klinik sendiri. Tingginya biaya hidup, apalagi bila sudah berkeluarga dan menyekolahkan anak, akan menyebabkan dokter yang penghasilannya pas-pasan melupakan mimpinya menjadi seorang dokter spesialis. Harapannya dan orang tuanya di masa awal kuliah, serta idealismenya saat mahasiswa untuk membantu orang miskin, menjadi sirna ketika ia bekerja sebagai dokter muda.

Di lain pihak, seorang dokter muda yang sudah mengabdi kepada masyarakat selama 3 tahun di daerah terpencil akan merasa iri terhadap rekan-rekannya yang bukan dokter -- yang seusianya sudah memiliki kehidupan yang mapan. Saya sendiri merasakan betapa tuanya saya ketika baru bisa bekerja secara benar saat berusia 33 tahun, yaitu saat lulus spesialisasi. Saya sudah menghabiskan waktu 6 tahun di fakultas kedokteran, 3 tahun bekerja di pedalaman, dan 4 tahun menjalani spesialisasi. Seorang teman yang mengambil bidang manajemen -- pada saat yang sama di usia sebaya -- sudah melanglang buana dan bekerja di perusahaan terkemuka.

Mengapa masih ada orang yang mau jadi dokter? Apakah para mahasiswa kedokteran masih mengharapkan dirinya kelak dapat menjadi dokter yang kaya? Kalau ia ingin kaya, apakah ada tempat baginya untuk mengabdi kepada masyarakat?

Di atas kertas atau sesuai logika sehat, maka seseorang akan dikatakan sejahtera bila memiliki pekerjaan yang mencukupkan kebutuhan hidupnya. Masalahnya, sulit bagi kita untuk menentukan kelayakan hidup. Contohnya, sewaktu kami belum punya uang cukup, kami merasa bahwa mobil Daihatsu Ceria sudah amat memuaskan. Kami puas dengan mobil tersebut. Namun, saat anak-anak mulai agak besar dan mobil tersebut mulai kekecilan, maka kepuasan kami terusik. Kami butuh mobil yang lebih besar. Oleh karena itu kami membeli mobil Xenia 1000 cc. Mula-mula kami juga senang dengan mobil tersebut. Mobil ini terasa luas, bertenaga lumayan besar, dan cukup irit. Tetapi ketika kami pindah ke Sumatera, dimana jalanan berbelok-belok, naik turun, maka kami merasa bahwa tenaga 1000 cc pun kurang. Kami merasa kepuasan kami terusik lagi. Jadi, sebenarnya seberapa besar tingkat kepuasan kami terhadap mobil? Apakah mobil kami saat ini cukup memuaskan sampai 5 tahun ke depan?

Saya merasa bahwa peningkatan kebutuhan seseorang terhadap kebendaan berlaku umum pada semua orang. Manusia cenderung tidak puas dengan miliknya sendiri. Mereka mau menguasai apa pun yang diingininya. Seorang Kristen pun tidak akan terlepas dari hasrat kemanusiaannya. Sepanjang hari dalam hidupnya, maka tingkat kepuasan pun akan terus bertambah. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak mendasarkan kebahagiaan pada tingkat kepuasan materi, sebab kebahagiaan tersebut tidak menentu (1 Tim. 6:17-19).

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa masih ada orang yang mau menjadi dokter? Jawabannya adalah karena ingin mengabdi kepada Tuhan dan sesama. Pengabdian tertinggi seseorang adalah pengabdian kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan membuat orang berbahagia, bahkan ada orang yang rela mati demi Tuhan. Dan, kematian pun dianggap sebagai puncak dari kebahagiaan itu sendiri. Pilot-pilot Jepang dalam perang dunia terdahulu merelakan dirinya mati demi pengabdiannya pada negara dan tuhannya. Mereka berbahagia mati melalui tindakan kamikaze (red: pengorbanan diri demi menjalankan tugas). Para martir Kristen pun rela mengorbankan dirinya bagi Kerajaan Allah. Mereka pun berbahagia menyongsong kematiannya. Kunci kebahagiaan mereka adalah pengabdian pada Tuhan dan sesama.

Pengabdian mempunyai nilai pengorbanan, penderitaan, harapan, dan kesetiaan. Pengabdian kepada Tuhan dan sesama membuat seorang dokter mampu membuang keinginan memuaskan diri semata. Mengapa? Karena ketertarikan kita pada kebendaan bersifat fana sedangkan pengabdian kepada Tuhan bersifat kekal. Kita tidak mungkin terus berbahagia dengan materi yang kita miliki.

Pengabdian kepada Tuhan memampukan kita untuk tetap menikmati hidup walaupun telah banyak mengorbankan diri. Mengapa? Karena keindahan hidup kita tidak tergantung pada seberapa banyak materi yang kita peroleh, sebab hidup kita telah difokuskan pada keinginan untuk menyenangkan Allah. Pengabdian kepada masyarakat membuat kita pun dapat menikmati hubungan antara dokter dan pasien yang tulus dan tidak dibatasi oleh status sosial. Hal ini membuat dokter dapat bekerja maksimal, entah di desa maupun di kota. Kebanggaan yang dirasakan seorang dokter bukan dalam jumlah uang tetapi kebahagiaan melihat kesembuhan pasien.

Di sinilah pentingnya para mahasiswa kedokteran diyakinkan, bahwa walaupun mereka sudah mengeluarkan banyak uang tetapi tidaklah tepat bagi mereka bila setelah menjadi dokter mereka berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya. Keterikatan kita pada kebendaan akan memperbudak diri kita. Mereka perlu mengabdikan dirinya kepada Tuhan, sehingga mereka siap ditempatkan di mana saja. Saya yakin bahwa pengabdian kepada Tuhan tidaklah sia-sia. Allah yang akan menolong kita untuk menemukan bentuk pengabdian kita dalam kehidupan sehari-hari. Hidup tanpa pengabdian kepada Allah adalah hidup yang kosong.

Ketika kita memahami arti pengabdian, maka kita pun akan mengerti bahwa Tuhan memanggil kita untuk mengabdikan hidup kepada-Nya, melalui pekerjaan atau pelayanan kepada masyarakat. Tuhan memanggil kita untuk melakukan pekerjaan baik.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef.2:10).