Loving The Stranger

Dalam dunia yang semakin global, interdependen, dan tanpa batas, salah satu perilaku sosial yang muncul adalah xenophobia. Xenophobia adalah sikap ketidaksukaan atau ketakutan atas sesuatu yang dianggap asing atau orang asing. Seseorang bisa menjadi sangat protektif akan hal-hal materil dan norma yang mereka miliki dan bersikap resisten terhadap yang mereka anggap asing. Ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang asing itu bukan tanpa alasan, sebab menerima sesuatu yang dianggap asing tentu beresiko dan status quo tentu dirasa lebih aman.

Di sepanjang teks alkitabiah, istilah “orang asing” mengacu pada orang-orang yang berdiri di luar norma sosial dan agama yang dominan. Orang-orang yang mempraktikkan agama lain, atau mereka yang dikelompokkan berbeda dari yang lazim. Umumnya orang asing ini sering dibenci dan ditolak di arena publik. Namun, kepada orang yang demikian pun Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengasihi orang asing. Alkitab mengajarkan prinsip-prinsip yang bisa kita pelajari mengenai orang asing. Minimal ada dua prinsip yang bisa dipelajari:

Panggilan mengasihi.

Dalam Ulangan 10:19 dituliskan “Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.”

Oxford Dictionary memberi definisi stranger, sebagai “a person who does not known, in a particular place or community.” Sosiolog Georg Simmel mencirikan beberapa fitur dari orang asing. Sebagai permulaan, orang asing itu mobile, dia tidak memiliki barang (material dan komunitas), dan karenanya tidak memiliki posisi yang pasti dalam masyarakat. Posisi orang asing ini sangat rentan, mudah diserang, mudah mendapat kecaman dan mudah ditindas. Oleh karena orang Israel pernah menjadi orang asing di Mesir dan tahu bagaimana rasanya, mereka diharuskan memperlakukan orang asing yang tinggal di antara mereka seperti diri mereka sendiri. Dalam hal ini, perintah dan panggilan menunjukkan kasih diperluas di luar rekan se-negaranya sendiri ke orang asing.

Tindakan iman.

Dalam 3 Yohanes 1:5. “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.” Dalam suratnya, Rasul Yohanes jelas menyatakan bahwa tindakan menerima orang asing adalah wujud tindakan orang percaya. Tentu dalam menerima orang asing ini ada resiko yang harus ditanggung, tetapi tindakan untuk mempercayai Allah lebih nyata dibandingkan dengan ketakutan akan resiko yang ada. Oleh dari itu, Rasul Yohanes mendorong umat di perantauan untuk menerima orang asing ini dan tindakan tersebut itu tindakan iman.

Dalam menunjukan sikap keramah tamahan (hospitality) secara hitungan matematik ekonomi jelas tidak menguntungkan. Dalam hal ini prinsip “high risk high return” tidak sepenuhnya berlaku. Membuka pintu rumah, menerima orang yang tidak kita kenal jelas punya resiko. Bahkan sangat beresiko. Tetapi panggilan kita untuk mengasihi sesama, bahkan orang asing seharusnya mendorong kita keluar dari zona nyaman.

Bicara tentang panggilan mengasihi dan orang asing, saya akan menceritakan salah satu pengalaman yang berbekas dalam di hati saya. Pengalaman studi di luar Indonesia memberikan kesempatan kepada saya untuk berinteraksi dengan komunitas internasional yang lebih majemuk dan kompleks. Setahun lebih saya berteman dekat dengan dua orang pelajar dari Colombia— jelas bagi saya mereka adalah orang asing. Mereka ini brilliant student yang dikirim oleh negaranya untuk belajar ke Belanda. Yang satu mahasiswa magister di Piano Classic, dan yang satu lagi mahasiswa magister di Opera singing. Cara saya bisa kenal dengan dua orang ini terbilang unik. Saya kenal di Facebook group mahasiswa di Tilburg. Housing bagi mahasiswa internasional boleh dibilang momok tersendiri di Belanda. Saat mereka tiba, mereka tidak punya tempat tinggal dan sulit bagi mereka untuk mendapatkan rumah karena umumnya mensyaratkan bisa berbahasa Belanda, jadilah mereka ini homeless. Sewaktu saya melihat posting-an mereka di FB group, entah kenapa saya tergerak untuk menawarkan mereka tinggal sementara di tempat saya sampai mereka dapat tempat tinggal. Ini keputusan nekat dan beresiko karena saya tidak kenal mereka siapa.

Awalnya saya tidak tahu kalau mereka adalah penyuka sesama jenis, dan jelas mereka tidak tahu kalau saya seorang Kristen. Waktu menginjakkan kaki di flat saya, mereka kemudian sadar kalau saya seorang Kristen. Awalnya mereka ragu untuk tinggal sama saya karena saya Kristen, tapi mereka tidak ada pilihan lain karena mereka tidak ada tempat tinggal dan uang mereka terbatas untuk tinggal di hotel.

Sejujurnya saat itu saya tidak tahu bagaimana memposisikan diri dan bagaimana cara berelasi dengan mereka. Bagi saya ini hal yang asing. Saya tidak pernah memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang asing, dengan penyuka sesama jenis dari dekat. Kemudian saya mulai usaha membaca beberapa artikel (bahkan sampai beli satu buku) bagaimana bersahabat dengan penyuka sesama jenis. Selama tinggal bersama saya, setiap kali makan malam bersama saya meminta izin apakah boleh saya berdoa sebelum makan. Mereka katakan, “please go ahead.” Mungkin awalnya mereka mempersilahkan saya berdoa karena sungkan, tapi tiba di satu malam, mereka katakan kalau ini pertama kalinya mereka diterima oleh orang Kristen tanpa merasa dihakimi. Sewaktu saya mendengar hal itu, saya terenyuh sekaligus sedih. Saya katakan kepada mereka, saya bersimpati untuk semua pengalaman buruk yang mereka alami di masa lalu, tapi itu bukan kekristenan yang seutuhnya. Saya katakan kepada mereka kalau isu tentang relasi sesama jenis adalah topik yang kompleks dan saya secara pribadi tidak setuju dengan relasi sesama jenis, tetapi bagian saya bukan untuk menghakimi. Mereka kemudian bilang, iya mungkin mereka juga terlalu judgemental kepada orang-orang Kristen. Lantas mereka mulai terbuka menceritakan kondisi mereka. Mereka katakan bahwa menjadi orang penyuka sesama jenis itu adalah perjalanan “lonely path”. Banyak penolakan dari berbagai sisi, dari keluarga, masyarakat bahkan kadang juga dari sesama komunitas penyuka sesama jenis. Berkali-kali mereka berpikir untuk bunuh diri karena tidak memiliki teman. Saya katakan kepada mereka, bahwa saya teman mereka dan mereka bisa cerita sama saya kapan saja. Bahkan saya mau berdoa untuk mereka. Dengan heran mereka katakan bahwa ini untuk pertama kalinya mereka mendengar ada orang yang mau mendoakan mereka.

Selama berteman dengan mereka saya belajar banyak hal, dan saya sampai pada beberapa perenungan. Pertama, isu-isu kompleks seperti isu penyuka sesama jenis ini butuh proses lifetime learning. Jadi, jangan berhenti belajar dan belajar. Kedua, menyatakan kasih tanpa kebenaran itu dangkal. Tapi menyatakan kebenaran tanpa kasih itu destruktif. Menyampaikan kebenaran dalam kasih itu tidak mudah. Berkali kali saya juga jatuh karena takut dan gagal menyampaikan kebenaran atau gagal mengasihi, tapi terus minta pertolongan Roh Kudus. Ketiga, sampai sejauh ini panggilan pertama saya kepada setiap orang adalah membagikan dan mengenalkan kasih Kristus.

Setiap kita dikelilingi “orang asing”, orang yang berbeda dengan kita baik secara ras, gender, latar belakang pendidikan, agama, dan budaya. Dalam konteks kita di Indonesia, orang asing bagi kita mungkin tetangga kita yang beragama Islam atau agama lainnya, atau kaum papa yang biasa kita lihat sehari-hari di jalan, atau bahkan teman sekelas kita yang belum pernah kita tegur sapa, atau orang skeptis, ateis yang kita jauhi yang kita asumsikan berbeda dengan kita. Tetapi saya juga percaya bahwa tidak ada hal yang benar-benar murni sebagai ‘orang asing’ dalam kehidupan ini. Kitalah yang menetapkan batasan dan menempatkannya antara kita dan orang lain. Jika kita berani merubuhkan tembok kecurigaan dan memberi kesempatan pada diri sendiri dan berani mengambil risiko dalam menunjukkan kasih dan perhatian, kita akan takjub dengan apa yang diberikan kehidupan sebagai balasannya. Panggilan untuk mengasihi adalah panggilan yang beresiko. Mengasihi orang lain adalah salah satu perintah sulit yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Kita orang-orang yang berantakan, patah, dan berdosa. Kita terus-menerus menghadapi luka kita sendiri dan luka-luka orang lain. Tapi mengasihi sesama manusia, termasuk orang asing, adalah tindakan beriman. Seiring kita bertumbuh dalam iman, kiranya cara kita mendefinisikan “orang asing” berevolusi menjadi “peluang”. Kita berani merangkul peluang yang diberikan oleh hidup untuk berbagi kasih Kristus. Mari membuat dunia kita lebih kecil dan kasih kita lebih besar.

(Dimuat di Oratio Februari 2018)