Bekerja adalah Melayani Tuhan

Oleh: Susilo Santosa / Alumnus ITB

Dalam kehidupan saya selama 10-15 tahun terakhir, saya melakukan pekerjaan yang banyak terkait dengan product development, business development, ide-ide usaha dan wiraswasta. Namun, segala yang berhubungan dengan pekerjaan saya itu seringkali malah saya pikirkan dalam dalam rutinitas keseharian dan khususnya dalam waktu rohani saya misalnya: beribadah, saat teduh, atau meditasi. Dalam kondisi seperti ini, muncul perasaan bersalah karena memikirkan hal-hal non-rohani di saat waktu teduh.

Saya bergumul dalam sulitnya mengendalikan pikiran dan masih terus memikirkan adanya dikotomi pekerjaan rohani dan non-rohani. Akibatnya, saya sering merasa bersalah ketika mengembangkan ide bisnis yang kelewat semangat dan antusias. Dikotomi dan paham-paham itu mulai berubah ketika saya mengetahui bahwa kompetensi dan keahlian, dalam kasus saya berarti ide ide design produk, pengembangan usaha, dan kreativitas, adalah suatu pekerjaan pelayanan kepada Tuhan. Semenjak itu, semangat dalam bekerja bisa saya arahkan, di mana bukan untuk membangun diri, dan untuk mengejar uang, kuasa, atau aktualisasi diri, tetapi untuk tujuan besar memuliakan Allah dan sesama.

Saya mulai menyadari bahwa sebelumnya pola berpikir saya adalah pola hidup tersekat, dengan pemilahan antara kegiatan rohani versus pekerjaan. Tetapi kini saya menganggap pekerjaan dan pikiran saya yang bercampur adalah realitas diri, di mana pekerjaan dan melakukan suatu karya yang terbaik, adalah suatu pelayanan juga.

Koran bisnis Kontan pada tanggal 24 November 2016, pernah memuat bahwa pemerintah Indonesia berjuang untuk menagih pajak Google, Facebook, dan korporasi raksasa lainnya di Indonesia. Perangkat peraturan dan hukum yang tak memadai mengenai perdagangan global dan peraturan pajak antar negara, membuat banyak celah untuk korporasi raksasa sekelas Google, Facebook, Apple, dan sebagainya bermain-main di antara aturan-aturan yang ada. Hasilnya, pajak yang disetor ke pemerintah Indonesia, tidak sebanding dengan pendapatan yang ditarik dari pengguna jasa mereka di Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, strategi AGGRESSIVE TAX PLANNING yang digunakan perusahaan perusahaan itu tidak bermoral. “If you make money here, is just fair for you (Google, Facebook) to pay tax here. I don’t care where your head quarter is”.

Sebagai pelaku bisnis, wiraswasta, dan manusia dewasa yang sudah lama berjalan bersama Tuhan dengan prinsip dan kebenaran yang telah kita kenal. Apakah keputusan, pandangan, dan perilaku kita dalam bekerja bisa dibilang “TIDAK BERMORAL”? Saya ingin mengajak saudara-saudara untuk tidak berkompromi mengenai suatu kebenaran yang sebenarnya sudah kita ketahui. Mengapa? Karena perjalanan bersama Tuhan yang kita jalani, sebenarnya sudah cukup untuk membuat kita tahu bagaimana membedakan hal-hal yang benar dan salah. Bahkan, tanpa perlu dikaitkan dengan perangkat aturan atau undang undang tertentu, atau mencari-cari pembenaran untuk “melegalkan” tindakan kita yang dipaksakan untuk sesuai dengan moral umum.

Saya mensyukuri kenyataan bahwa saya dapat mengenal dunia pelayanan mahasiswa, Perkantas dan juga para pekerja-pekerja yang memberi keteladanan. Ibu Dorothy Marx sebagai salah seorang perintis pelayanan Perkantas di Jawa Barat telah memberikan contoh melalui kehidupannya. Penjabaran kebenaran, moral, dan sikap Kristianinya tampak dalam kehidupan dan keputusannya. Hal ini cukup mewarnai kehidupan saya.

Pertanyaan, apakah tindakan saya sebagai pelaku usaha, wiraswasta, dikategorikan BERMORAL dan apakah ada perubahan pola, dan paradigma dari saat mulai hingga saat ini, merupakan sebuah proses yang harus dilalui. Suatu pertumbuhan rohani dalam pengenalan akan Tuhan yang HARUS PARALEL dengan perilaku dalam bisnis, usaha, dan bekerja.

Pengenalan yang baik akan pertolongan Tuhan, serta kemampuan untuk mengintegrasikan prinsip prinsip Kristiani dan Alkitab dalam dunia nyata menjadi tantangan kita semua. Di dalam usia yang sudah cukup lanjut dalam bekerja, kebenaran-kebenaran baru yang saya jumpai adalah pertanyaan yang sangat mendasar, tanpa harus di kaitkan dengan kaidah hukum, ekonomi, atau ayat tertentu dari Alkitab, “Apakah yang saya atau kami kerjakan di kantor berdampak baik untuk masyarakat sekeliling, kota, dan Indonesia?”

Posted in Kesaksian.

Perkantas Jakarta