THE HOPE HAS COME “He Turns Hopeless End Into Endless Hope”

“Orang tanpa harapan sering mengungkapkan keadaan dan perasaan diri mereka dengan berkata bahwa mereka ingin mati, dan terkadang mereka berusaha untuk bunuh diri.”
(J. I. Packer)

Pada bulan April tahun 2015 yang lalu, media memberitakan seorang siswa SMA Jakarta yang melakukan bunuh diri. Selang enam bulan kemudian, media kembali memberitakan seorang siswa melakukan bunuh diri dari sekolah yang berbeda. Apa yang menyebabkan mereka bunuh diri? Media memberitakan bahwa siswa yang pertama tidak tahan tinggal bersama orangtua tirinya, kemudian yang satu lagi bunuh diri karena hubungan pacaran yang tidak disetujui oleh orangtuanya. Tidak hanya sampai di situ, tahun 2016 media kembali memberitakan seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi terbaik yang melakukan bunuh diri. Ironisnya, ketiga orang tersebut adalah orang Kristen.

Tidak ada orang yang mau hidup dan dapat hidup tanpa pengharapan. Jika tidak, apa yang dikatakan oleh J.I. Packer di atas akan dialami oleh setiap orang tanpa memandang usia dan tanpa terkecuali termasuk orang percaya. Banyak hal yang menyebabkan kita kehilangan harapan, misalnya bertahun-tahun mengerjakan pelayanan tapi tampak tidak ada hasilnya, kecewa dengan kondisi sekitar yang tidak berubah malahan semakin bobrok, masalah keluarga yang tidak habis-habisnya, pergumulan pribadi terhadap dosa-dosa yang tidak selesai, terasing di tempat kerja karena melakukan hal yang benar, atau penolakan yang kita alami dari lingkungan sekitar secara terus-menerus dalam berbagai bentuk. Semuanya berujung pada keputusasaan. Di sisi lain, sebagian orang merasa telah memiliki harapan walaupun pengharapannya berasal dari dunia ini. Dengan kata lain pengharapan mereka bukanlah pengharapan sesungguhnya. Sifatnya mudah-mudahan dan tidak pasti.

Apakah pengharapan Kristen itu? Mengapa kita membahasnya dalam momen Natal ini? Dalam Lukas 2:25-39, diceritakan bahwa bayi Yesus --seperti yang ditetapkan oleh Hukum Taurat-- dibawa dan diserahkan ke Bait Allah. Setelah itu, perikop ini menyebutkan dua nama yaitu Simeon dan Hana. Siapakah Simeon ini? Dikatakan Simeon adalah seseorang yang benar dan saleh. Ia seorang keturunan Israel. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias yaitu Yesus Kristus. Siapakah Hana? Ayat 36-37 memberi gambaran singkat tentang dia, “Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa”.

Simeon dan Hana, keduanya dapat dikatakan sama-sama sedang “menanti” (Luk. 2:25,38). Simeon menantikan penghiburan bagi Israel dan Hana menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Keduanya menantikan Pribadi yang sama, yaitu Sang Mesias yang pernah dinubuatkan dan dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Oleh pimpinan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah bertemu dengan bayi Sang Mesias yang sejak dari lama dinantikannya. Begitu juga dengan Hana yang sedang berada di Bait Allah bertemu dengan bayi tersebut yang sudah ia nantikan juga dalam usia tuanya. Baik Simeon dan Hana sedang hidup dalam penantian akan Sang Mesias. Mereka sedang hidup dalam pengharapannya. Dalam masa mereka penantian akan Mesias, Simeon disebut sebagai seorang benar dan saleh, seorang yang dipimpin oleh Roh Kudus. Apa yang membuat Simeon disebut demikian? Terletak pada keyakinannya yang dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias yaitu Yesus Kristus. Pengharapan terhadap keyakinan tersebutlah yang membuat Simeon hidup benar dan saleh dalam melakukan kehendak-Nya. Bagaimana dengan Hana? Sekalipun ia adalah seorang janda berumur delapan puluh empat tahun, akan tetapi apa yang ia lakukan? Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Mengapa? Karena keyakinan terhadap pengharapan Sang Mesias yaitu Kristus Yesus. Ketika bertemu dengan Yesus, Simeon memuji Allah (ay.29-32) dan Hana mengucap syukur dan bersaksi tentang Anak itu kepada semua orang (ay.38).

Kelahiran Kristus adalah jawaban atas pengharapan dunia, tidak hanya Israel tetapi juga bangsa-bangsa lain. Seperti yang telah lama dinubuatkan dan dijanjikan kepada dunia. Melihat Sang Natal itu, Simeon menyatakan pujiannya kepada Allah saat menyembah bayi Yesus. Pujian Simeon itu menceritakan tentang indahnya keselamatan, B.J. Boland menyimpulkan bagi kita ke dalam dua hal:

Untuk bangsa-bangsa akan terbit terang, sehingga kepada mereka dinyatakan kebenaran dan mereka menjadi percaya.
Israel boleh bersukaria dan bersyukur kepada Allah karena kehormatan daripada Allah yakni bahwa keselamatan berasal dari umat tersebut.

Natal adalah penggenapan pengharapan manusia atas keselamatan dunia. Allah, Sang Pencipta datang menjadi ciptaan. Allah yang di surga mulia datang ke dalam dunia yang berdosa. Allah yang empunya kuasa di surga dan di bumi datang ke dalam kandang domba yang hina. Demi kita yang dikasihi-Nya. Dialah pengharapan yang sejati dan pasti yaitu Yesus Kristus.

Jika kita sudah memiliki pengharapan dalam Yesus Kristus yang telah datang ke dalam dunia, kita tidak akan berhenti meletakkan pengharapan kepada-Nya. Termasuk pengharapan pada kedatangan-Nya kedua kali yang sudah Dia janjikan kepada kita. Pengharapan inilah yang terus-menerus disampaikan rasul Petrus kepada jemaat yang sedang dalam penganiayaan di perantauan. Demikian juga rasul Paulus menguatkan jemaat-jemaat yang sedang dalam penderitaan dan penganiayaan. Keduanya, baik rasul Petrus dan Paulus, mendorong agar jemaat bertekun dan bertumbuh dalam kondisi yang sedang mereka hadapi. Mari meletakkan pengharapan kita kepada Kristus Yesus yang sudah datang dan yang akan datang. Di mana semua penderitaan dan pergumulan dunia tidak akan ada lagi. Kelak, Kristus akan memerintah dalam kerajaan Allah.

Kita tidak perlu takut menghadapi dunia dengan segala keganasannya. Kristus telah hadir membawa pengharapan yang pasti. Bukan sekedar pengharapan yang semu yang dapat ditawarkan oleh dunia. Yesus, Sang Mesias, Sang pengharapan, telah datang bagi kita menggenapkan janji-Nya. Dia yang mengerti segala pergumulan dan bersama dengan kita menghadapi segala pergumulan. Dia adalah jawaban atas hidup kita dan atas apapun yang sedang kita alami. Yesus memberi jaminan bagi setiap orang yang menaruh pengharapan kepada-Nya. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir (Ibrani 6:19).

“Penderitaan, baik besar atau kecil,
pengharapan orang Kristen tetap ada.
Allah cukup dan setia.”
(R. C. Sproul)

Memperingati 500 Tahun Reformasi: Refleksi Sejarah dan Visi Masa Depan

“Out of love for the truth and from the desire to elucidate it, the Reverend Father Martin Luther, Master of Arts and Sacred Theology, and ordinary lecturer therein at Wittenberg, intends to defend the following statements and to dispute on them in that place Therefore he asks that those who cannot be present and dispute with him orally shall do so in their absence by letter. In the name of our Lord Jesus Christ. Amen.”

Demikianlah salinan terjemahan bagian pembuka dari 95 dalil yang dipakukan oleh Marthin Luther di depan pintu gereja Die Schlosskriche (The Castle Church) yang juga merupakan gereja resmi dari Universitas Wittenberg, pada tanggal 31 Oktober 1517. Dokumen 95 Dalil Luther, yang dikenal sebagai disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum (Latin): Pembantahan atas Deklarasi dari Kekuatan (Keefektivan) Indulgensia (terjemahan penulis), menjadi katalis utama dari inisiasi gerakan reformasi. Di hari yang sama, Luther juga menuliskan surat kepada beberapa pemimpin gereja (uskup) dalam rangka meminta pencabutan kembali surat instruksi untuk memberikan ceramah-ceramah tentang indulgensia; di dalam surat-surat tersebut Luther juga melampirkan ke-95 dalilnya. Tanggal 31 Oktober 1517 pun pada akhirnya dijadikan tanggal dimulainya gerakan reformasi.

Sejarah Singkat

Tujuan dan tema utama dari ke-95 dalil ini adalah pengecaman atas penyelewengan dari praktik penjualan surat indulgensia. Praktik indulgensia ini sesungguhnya adalah praktik sah yang sudah lama dilakukan sebagai bagian dari Sakramen Pengampunan Dosa. Indulgensia awalnya dipahami sebagai upaya untuk mengurangi konsekuensi hukuman dosa temporal yang harus dialami setiap orang setelah kematian di dalam masa pemurnian yang disebut sebagai ‘purgatory’. Penjualan indulgensia ternyata disalahgunakan oleh pemimpin-pemimpin gereja. Paus dan keuskupan di Roma menggunakan dana penjualan indulgensia untuk pembangunan proyek-proyek megah; contohnya pembangunan St. Peter Basilica di Roma. Di pihak lain, Cardinal Albert of Magdeburg, sebagai penanggungjawab untuk penjualan indulgensia di Jerman, berupaya untuk mengambil sebagian uang hasil penjualan indulgensia untuk membayar hutang pribadi yang digunakan untuk mendapatkan jabatan keuskupan di dua wilayah, Magdeburg dan Mainz. Cardinal Albert menyuarakan propaganda besar melalui khotbah-khotbah untuk mendorong masyarakat membeli indulgensia. Lebih jauh lagi, mereka juga mempromosikan indulgensia sebagai dokumen yang dapat mengurangi hukuman dosa bagi orang yang sudah meninggal dan dosa yang terjadi di masa depan. Melihat dengan nyata penyelewengan yang terjadi ini tentu membuat Luther tidak tinggal diam.

Seperti yang kita lihat di bagian pembuka artikel ini, dokumen ke-95 dalil pada awalnya dimaksudkan untuk menstimulasi diskusi atau perdebatan akademis perihal indugensia. Luther menulisnya di dalam bahasa Latin, yang merupakan bahasa yang hanya dimengerti oleh kaum intelektual saat itu. Namun, aksi Luther dianggap membahayakan bagi para birokrat zaman itu. Di kemudian hari, Luther lantas dianggap tidak hanya sebagai penentang penjualan indulgensia, tetapi juga sebagai penentang otoritas Paus. Hingga akhirnya Luther dianggap sebagai ‘pengajar sesat’ dan diekskomunikasi oleh Pope Leo X (1521). Namun, semangat reformasi tidak putus sampai di sana. Semangat ini akhirnya menyebar tidak hanya di Jerman, tetapi juga di wilayah-wilayah lain di Eropa Barat dan terus menyala dari generasi ke generasi.

Ke-Lima Sola Gerakan Reformasi

Seiring dengan berjalan dan berkembangnya gerakan reformasi, para tokoh reformasi merumuskan 5 hal prinsipil dari gerakan ini, yang dikenal dengan ‘5 Sola’. Berikut adalah penjabaran singkat dari ke-5 Sola:

Sola Scriptura (By Scripture Alone)
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Tim3:16-17).”

Doktrin hanya Alkitab yang memiliki kekuasaan tertinggi di dalam kehidupan bergereja dan KeKristenan merupakan prinsip yang utama di dalam teologi reformasi. Otoritas tertinggi Alkitab tentu didasarkan pada keyakinan bahwa Alkitab adalah Firman Allah (divine authorship).

Solo Christo (By Christ’s Work Alone)
“Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia.” (1 Tim 2:5-6)

Gerakan reformasi membawa kembali pentingnya iman kepada Kristus sebagai satu-satunya mediator bagi manusia dan Allah. Keselamatan didasarkan pada karya Kristus dan bukan manusia. Keutamaan Kristus juga menjadi poin penting dalam pengajaran gerakan reformasi (Kol.1:13-18).

Sola Gratia (By Grace Alone) dan Sola Fide (By faith Alone)
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Ef. 2:8-9)

Seruan yang sangat jelas dicetuskan sejak awal gerakan reformasi adalah keselamatan sebagai anugerah dari Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa “we are justified by faith alone, but faith is never alone.” Ketika kita dibenarkan oleh Allah melalui iman, umat Tuhan yang sudah ditebus meresponinya dengan pekerjaan yang dipenuhi kasih kepada Tuhan dan sesama. Status yang baru sebagai umat kepunyaan Allah di dalam Kristus memampukan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef. 2:10). Oleh karena itu perbuatan-perbuatan baik dari umat Allah harus nyata terlihat oleh dunia luar sebagai respon terhadap anugerah Allah yang besar.

Soli deo Gloria (Glory to God Alone)
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rom. 11:36)

Gerakan reformasi menjunjung tinggi kedaulatan Allah atas seluruh aspek hidup manusia. Kemuliaan Tuhan menjadi tujuan utama bagi setiap umat Tuhan, dan bukan ambisi pribadi atau visi dunia. Seperti yang dikatakan di dalam Katekismus Westminster: “Apakah yang menjadi tujuan utama manusia? tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan selamanya.”

Peran Perkantas, Semangat dan Visi Gerakan Reformasi

Saya bersyukur bahwa Perkantas memiliki komitmen yang tinggi pada pemberitaan Alkitab sebagai Firman Allah. Penggalian dan proklamasi Firman Allah terus menjadi bagian utama dan terpenting di dalam setiap kegiatan pelayanan yang dilakukan (baik dalam persekutuan rutin hingga kelompok kecil). Komitmen ini perlu untuk dikobarkan sebagai “jiwa” dari seluruh komponen pelayanan Perkantas agar berdampak besar bagi pertumbuhan setiap siswa, mahasiswa, dan alumni dalam kecintaan mereka akan Firman Allah. Sehingga mereka bisa menjadikan Firman Allah sebagai otoritas dan fondasi dalam kehidupan mereka (Sola Scriptura), dan ketaatan pada Firman menjadi sukacita utama di dalam hidup.

Setiap siswa, mahasiswa, dan alumni juga perlu terus didorong untuk menjadikan kemuliaan Tuhan sebagai tujuan hidup mereka, bukan ambisi pribadi (Soli Deo Gloria). Sehingga mereka selalu mempunyai kesungguhan untuk mencari sungguh-sungguh kehendak Allah dalam sepak terjang kehidupan mereka. Dengan demikian, walaupun perjalanan hidup tidak mudah, jika memang itu adalah panggilan Tuhan, mereka akan tetap melangkah dengan berani dan sukacita.

Pengajaran Firman Tuhan yang dilakukan oleh Perkantas juga kiranya terus mendengungkan karya keselamatan Kristus di kayu salib (Solo Christo). Blaise Pascal, seorang ilmuan besar mengatakan: “Without Jesus Christ man must be in vice and misery; with Jesus Christ man is free from vice and misery; in him is all our virtue and all our happiness. Apart from him there is but vice, misery, darkness, death, despair.” Kepada kaum cendikia yang menjadi ladang pelayanan Perkantas, kita perlu memberitakan bahwa kebahagiaan sejati dari umat manusia, ditemukan di dalam Kristus (bukan pada kekayaan, kemajuan ilmu pengetahuan, atau kemajuan teknologi). Oleh karena itu penghayatan akan karya Kristus juga membawa kita kepada pengharapan besar bukan hanya bagi pengampunan dan keselamatan pribadi, tetapi juga umat manusia, walaupun situasi di sekeliling kita tampak begitu gelap. Kuasa Kristus dan karya penebusan-Nya mampu menghancurkan pengaruh dosa yang sudah menjalar ke berbagai aspek kehidupan, dan memampukan kita menjadi agen-agen perubahan.

Penerapan prinsip Sola Scriptura (by Scripture alone) juga bukan berarti Solo Scriptura (Reading Scripture by [my interpretation] alone). Memahami bahwa Alkitab sebagai kekuasaan tertinggi bukan berarti bahwa jika kita sudah memiliki Alkitab dan membacanya, maka kita meninggalkan tradisi gereja ataupun keabsahan gereja sebagai institusi yang Tuhan khususkan (ordained by God) untuk menggembalakan umatnya. Pemahaman setiap individu akan Alkitab juga dijaga oleh doktrin dan tradisi gereja sebagai komunitas orang percaya. Oleh karena itu, kita perlu kembali menghayati peran Perkantas sebagai para-church, sebagai penolong dan pendukung pelayanan gereja. Perkantas perlu untuk terus menyuarakan kepada setiap siswa, mahasiswa, dan alumni untuk terlibat dalam pelayanan gereja dan menjadi berkat di dalamnya. Sehingga revitalitas dan transformasi gereja dari waktu ke waktu--ketika gereja menjadi kering atau kehilangan arah dan menyimpang--bisa terus terjadi dari dalam gereja itu sendiri, melalui orang-orang yang punya hati sungguh-sungguh untuk melayani Tuhan dan sesama. Seperti yang kita lihat dari awal gerakan reformasi. Status Luther sebagai “insider:” biarawan, pengkotbah, teolog, dan dosen teologia, membuat Luther mempunyai posisi dan pengaruh khusus sebagai katalis gerakan ini. Posisi Luther sebagai bagian dari gereja membawa dia memiliki akses khusus kepada keuskupan di Meinz hingga akhirnya ke 95-dalilnya mendapat perhatian khusus dari kekuasaan tertinggi gereja di Roma.

Saya pikir juga bukan kebetulan juga bahwa kaum cendikia gereja (para teolog dan mereka yang mendalami studi Alkitab) adalah katalisator gerakan reformasi. Di dalam perjalanan dan perkembangan gerakan Reformasi, mayoritas tokoh-tokoh penting saat itu (bahkan hingga abad ke-19) adalah kaum cendikia yang secara khusus mendedikasikan diri dalam mempelajari Alkitab (Philip Melanchton, Ulrich Zwingly, John Calvin, Theodore Beza, Emil Bruner, hingga Karl Barth). Oleh karena itu, Perkantas juga perlu untuk terus memberikan dukungan pada sekolah-sekolah teologia dan seminari-seminari. Dari dalam institusi-institusi inilah lahir pemimpin-pemimpin gereja yang akan punya pengaruh besar di gereja-gereja di seluruh Indonesia.

Inisiasi dan kesetiaan Perkantas dalam melaksanaan event seperti Sola Sciptura perlu diapresiasi dan didukung penuh oleh setiap siswa, mahasiswa, dan alumni, karena saya pikir ini adalah bentuk nyata dukungan Perkantas pada gereja dan sekolah-sekolah teologia. Bentuk dukungan lain juga bisa dilakukan, seperti penggalangan dana untuk memberikan beasiswa bagi siswa-siswi sekolah teologia yang tidak mampu dan membeli buku-buku yang baik yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah Alkitab yang tidak punya cukup dana dalam menyediakan sumber-sumber yang berkualitas. Melalui sekolah-sekolah Alkitab yang berkualitas, maka akan lahir pemimpin-pemimpin gereja yang berkualitas dan punya kerinduan untuk memelihara kemurnian ajaran gereja.

Seperti slogan yang dipopulerkan oleh Karl Barth, Ecclesia reformata semper reformanda (“the reformed church [must] always be reformed”), setiap gereja dengan semangat reformasi perlu terus untuk menjaga dan menguji kemurnian ajaran dan praktik mereka. Demikian juga dengan Perkantas, kiranya momen peringatan reformasi ke 500 tahun ini (dan setiap tahunnya) bisa menjadi waktu yang didedikasikan untuk merenungkan dan menguji: seberapa besar ketekunan gerakan siswa, mahasiswa Perkantas untuk terus memberitakan Injil dan menolong gereja-gereja di Indonesia untuk setia dalam menjaga harta tersebesar gereja yaitu berita Injil Kristus yang mulia yang perlu dijaga kemurniannya dari generasi ke generasi.

“The true treasure of the church is the most holy Gospel of the glory and grace of God.” (Dalil ke-62)

Mengingat Kasih Setia Allah

Bangsa Israel telah mengalami kebaikan Allah, bahkan bukan sekedar kebaikan tetapi mujizat. Salah satu mujizat itu adalah mereka dapat menyebrangi Sungai Yordan yang kondisi airnya sangat deras, Ia sanggup menghentikan air yang deras agar bangsa Israel dapat menyeberanginya. Namun menarik, setelah peristiwa tersebut Allah tidak memerintahkan mereka untuk langsung melanjutkan perjalanan melainkan membentuk batu peringatan.

Dalam Yosua 4, Allah memerintahkan mereka untuk mengangkat batu sesuai jumlah suku dan meletakkannya di tengah-tengah Sungai Yordan untuk menjadi batu peringatan, “Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: ‘Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini? maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! — sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkan-Nya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang, supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu.” – Yosua 4:21-24.

“Melupakan kebaikan Allah adalah musuh dari Iman”

Mengapa batu peringatan penting? Saya pernah menemukan sebuah quote yang mengatakan, “Melupakan kebaikan Allah adalah musuh dari Iman”. Menurut saya hal ini sangatlah tepat, kita harus selalu mengingat setiap kebaikan Allah. Bukan suatu kebetulan Allah memberikan berbagai kebaikan di sepanjang perjalanan hidup kita, tetapi Allah ingin pengalaman tersebut menjadi pendorong dan penyemangat dalam kehidupan kita ke depan terutama ketika dalam keadaan penuh dengan tantangan dan kesulitan. Mengingat kasih setia Allah juga membuat kita dapat menaikkan penyembahan dan syukur yang murni dan dalam kepada Allah betapa kasih-Nya sungguh nyata di tengah-tengah dunia ini.

Tidak hanya bangsa Israel yang mengalami kebaikan Allah, IFES (International Fellowship of Evangelical Students) juga mengalami kebaikan Allah. Salah satu kebaikan Allah yang patut juga kita ingat adalah lahirnya IFES pada tahun 1947 di Harvard University, Amerika Serikat. Tidak ada yang menyangka jika pelayanan mahasiswa yang didirikan oleh 10 gerakan pelayanan mahasiswa kini telah berkembang hingga terdapat di 160 negara, termasuk di Indonesia yang secara resmi bergabung pada tahun 2003 dengan nama PERKANTAS (Persekutuan Kristen Antar Universitas). Perkantas sendiri adalah buah pelayanan dari tiga orang mahasiswa yang menikmati IFES - Australia (AFES) saat berkuliah di sana, yaitu Jonathan Parapak, Jimmy Kuswadi, dan (Alm.) Soen Siregar yang kemudian merintis pelayanan Perkantas di Indonesia pada tahun 1960-an.

Kebaikan Allah juga dirasakan oleh IFES (International Fellowship of Evangelical Students) dan Perkantas Indonesia

Tidak sampai di situ, kebaikan Allah juga nyata melalui dukungan beberapa orang dari berbagai negara. Hal tersebut terdapat dalam artikel yang ditulis oleh Sutrisna Harjanto, Staf Senior Perkantas, dalam Oratio edisi Maret 2006, yang mengatakan: “Para staf IFES dari beberapa negara tetangga secara teratur mengunjungi Indonesia untuk bersekutu, berdoa bersama, dan memberi pembinaan-pembinaan. Nama-nama seperti Chua Wee Hian, Ada Lum, dan Ellie Lau menjadi akrab di telinga generasi terdahulu karena mereka berulang kali berkunjung ke Indonesia untuk memberi dukungan moral bagi perintisan pelayanan di Indonesia. Selanjutnya dalam masa pertumbuhan pelayanan Perkantas pada dekade-dekade berikutnya, nama beberapa Regional Secretary IFES East Asia seperti Bell Magalith, Koiichi Ottawa, dan Gideon Yung bukan nama yang asing bagi banyak staf dan pengurus pelayanan Perkantas karena mereka berulang kali datang untuk bersekutu, berbagi, dan menyampaikan pembinaan bagi staf, pengurus, dan mahasiswa”

Pelayanan yang tadinya hanya berfokus pada pelayanan mahasiswa, sekarang pun telah berkembang sehingga di beberapa negara juga terdapat pelayanan siswa dan Pelayanan Alumni. Injil semakin luas diberitakan di seluruh dunia, bahkan mungkin kita juga adalah salah satu orang yang mengenal Tuhan Yesus Kristus karena Ia memakai pelayanan IFES atau Perkantas Indonesia untuk membawa mengenal Injil keselamatan.

Kiranya Allah terus memakai IFES di seluruh dunia menjadi alat yang efektif dalam mengabarkan kabar baik itu.

Mungkin kita tidak memiliki batu peringatan secara harafiah seperti bangsa Israel, namun untuk mengingat kebaikan Allah tersebut IFES memiliki salah satu momen tahunan yang bernama World Student Day. World Student Day adalah acara tahunan yang mempersatukan seluruh gerakkan pelayanan IFES (siswa, mahasiswa, staf, dan orang-orang yang mendukung) di seluruh dunia setiap hari Jumat ketiga bulan Oktober. Tujuannya adalah untuk merayakan apa yang telah Allah kerjakan melalui IFES serta saling mendoakan antar-negara apa yang menjadi kebutuhan dan tantangan ke depan. Tentu ini adalah momen yang indah karena kita bisa mengingat kasih setia Allah dan mendoakan gerakan pelayanan IFES di negara-negara lain. Jadi mari kita rayakan momen ini dan juga doakan agar Injil juga sampai kepada banyak orang lainnya di dunia terutama mereka yang berada di negara-negara yang sulit. Kiranya Allah terus memakai IFES di seluruh dunia menjadi alat yang efektif dalam mengabarkan kabar baik itu. Soli Deo Gloria!

Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar” - Yesaya 63:7

Amanat Agung KITA

Sejak kedatangan Yesus, banyak orang yang rela mati untuk kebenaran Injil. Hal ini dimulai dengan murid-murid yang sangat mengenal-Nya sehingga mereka pun meresikokan hidup mereka untuk kebenaran ini. Injil itu telah mengubah banyak jiwa-jiwa yang telah meresponi pesan dari Injil tersebut.

Apa itu Injil?

Injil dalam Bahasa Inggris dituliskan sebagai gospel yang berasal dari Bahasa Yunani euanngelion. Kata ini memiliki arti kabar baik. Dalam Perjanjian Baru secara khusus mengarah kepada kabar baik dari Allah kepada manusia mengenai Yesus Kristus. Paulus mendefinisikan Injil dengan singkat sebagai berikut: “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, . . . bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.“ (1 Kor.15 : 1-4).

Injil lebih dari sekedar tiket masuk Surga

Injil merupakan undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah yang Maha Kasih. Injil memberitakan siapa itu Yesus sehingga kita bisa melihat karya anugerah-Nya bagi manusia berdosa.

Injil menyatakan secara eksklusif menjadi satu-satunya jalan kepada Tuhan. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Mengapa kita perlu memberitakan Injil?

J. I. Packer menuliskan setidaknya ada dua motif yang seharusnya mendorong seseorang untuk terus menerus menginjili. Motif pertama adalah kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia; motif kedua adalah kasih kepada sesama manusia dan kepedulian akan keselamatan mereka.

1. Kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia.

Perintah pertama dan terutama adalah “Kasihilah, Tuhan Allahmu” (Mat.22:37). Ketika kasih Allah kepada kita telah nyata melalui karya salib Kristus, maka kita pun mengasihi Dia dengan mewujudkannya melalui ketaatan kita. “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” kata Tuhan Yesus (Yoh.14:21).

Penginjilan adalah perintah Allah sendiri. Kristus berkata, “Injil Kerajaan ini akan (menurut Markus: “harus”) diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa” (Mat.24:14; Mrk.13:10). Sebelum naik ke sorga, Kristus memberi perintah pada murid-murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” (Mat.28:19) disertai dengan janji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat.28:20). Janji ini diberikan untuk menguatkan hati setiap murid karena besar dan sulitnya tugas yang diamanatkan oleh Yesus. Di sisi lain, janji ini mengajarkan kepada setiap orang percaya tugas yang harus dikerjakan senantiasa sampai akhir zaman.

Jonathan K. Dodson menjelaskan amanat yang Yesus berikan ini berfokus pada memaklumkan Injil kepada mereka yang belum menjadi murid dan mengajarkan Injil kepada mereka yang sudah menjadi murid. Yesus mengutamakan Injil, yang menjadikan seseorang murid dan mendewasakan murid. Injil adalah pokok dalam menjadikan seseorang murid, sehingga seorang murid dapat menyerahkan kehidupan lamanya untuk menghidupi kehidupan barunya. Kehidupan baru seorang murid berarti menjadikan Yesus sebagai Tuhan (yang berkuasa) atas seluruh hidupnya dan mendorongnya dalam keataan kepada Allah.

Melalui penginjilan kita memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Allah lakukan untuk manusia berdosa. Allah dimuliakan ketika karya kasih karunia-Nya yang penuh kuasa diberitakan.

Sekretaris International Fellowship of Evangelical Students (IFES) bernama Vinoth Ramachnadra menyatakan “Susunan dan gaya hidup gereja adalah pusat dari Injil Kerajaan Allah. Kapan pun kita menjumpai sekelompok orang (katakanlah di Universitas, perumahan atau kantor) yang menghidupi komitmen penuh kepada Yesus Kristus, dan mempertanyakan dari cara hidup mereka, nilai-nilainya, pola pemikiran, dan struktur sosial di sekitar mereka, kita dapat secara percaya diri menyatakan bahwa kerajaan Allah hadir di sana.”

2. Kasih kepada sesama manusia dan kerinduan untuk melihat mereka diselamatkan.

Apakah yang lebih dibutuhkan manusia selain kebutuhan untuk mengenal Kristus? Apakah kebaikan yang lebih besar bagi sesama selain memberitakan pengenalan tentang Kristus? Jika kita mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka kita ingin mereka menikmati keselamatan yang begitu berharga bagi kita. Naluri itu muncul ketika kita melihat kebutuhan sesama akan Kristus. Memberitakan Injil adalah hal istimewa; mengabarkan kasih Kristus kepada orang lain merupakan hal yang indah, karena kita tahu tidak ada hal lain yang lebih mendesak untuk mereka ketahui, dan tidak ada pengetahuan yang lebih berguna bagi mereka. Karena itu kita tidak perlu enggan dan takut membagikan kabar baik itu kepada semua orang. Kita seharusnya melakukan hal ini dengan gembira dan sukacita.

Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Melihat betapa penting Injil bagi kehidupan manusia, banyak lembaga pelayanan, persekutuan siswa maupun mahasiswa, serta institusi gereja yang menekankan penginjilan. Penginjilan yang dapat diartikan sebagai pemberitaan Injil. Jika mengingat penjelasan Jonathan K. Dodson pada bagian sebelumnya, maka sesungguhnya Injil perlu diberitakan terus-menerus melalui setiap kesempatan yang ada. Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Semua strategi, metode, maupun kegiatan baik melalui media mimbar khotbah, media sosial, media persahabatan dan media lainnya yang digunakan untuk memberitakan Injil sudahkah mendorong seseorang untuk terus memaknai Injil sebagai undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah.

(Dimuat di Oratio edisi September 2017)

Minoritas yang Berdampak

Istilah ‘minoritas’, beberapa waktu lalu sempat ramai muncul di masyarakat. Namun, bukan hadir dalam konteks yang bagus atau kondusif, melainkan dalam hingar-bingar gesekan sosial yang cukup menghangat. Kata ‘minoritas’ yang ramai diperbincangkan tentu dalam konteks jumlah, khususnya jumlah penganut agama tertentu dan atau juga suku tertentu. Dalam demokrasi yang ideal, istilah ‘minoritas-mayoritas’ seharusnya tidak pernah ada bahkan dipertentangkan. Semua individu sama kedudukan dan suaranya. Entah latar belakang agamanya, sukunya, status ekonominya, dan lain-lain. Tapi realitanya, sekat ‘minoritas-mayoritas’ dalam konteks primordialisme masih ada di masyarakat Indonesia. Kadarnya saja yang berbeda-beda antar daerah.

Dalam segala kekurangannya, label minoritas sebenarnya punya sisi positif juga. Salah satunya adalah akan mudah terekspos atau terlihat jika memang memiliki keunggulan. Bukan hanya di antara kalangan minoritas, tetapi juga melebihi kelompok mayoritas.

“Penahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29)

Kata ‘cakap’ disini jika digali lebih jauh sebenarnya memiliki arti: siap, rajin, tekun, dan cekatan. Untuk bisa berdiri di hadapan raja-raja atau para pemimpin atau para orang penting lainnya, maka kita memerlukan kualitas diri yang mumpuni, bukan ala kadarnya. Diperlukan kualitas yang cekatan, rajin, tekun, dan siap mengerjakan apapun yang dipercayakan. Jikalau hal-hal tersebut masih jauh dari diri kita, maka jangan harap kita bisa tampil di hadapan ‘raja-raja’.

Dua tokoh Alkitab yang bisa menggambarkan dengan tepat kualitas di atas adalah Yusuf dan Daniel. Mereka sama-sama berstatus minoritas, namun itu tidak membuat mereka minder. Mereka justru menunjukkan bahwa minoritas bisa memberi andil yang sama bahkan lebih dari kelompok mayoritas.

Mulai dari rumah Potifar, penjara, hingga istana Firaun, Yusuf menunjukkan kualitas yang sama. Kualitasnya lebih unggul dari pada yang lain, sehingga pemimpin-pemimpin di tiga tempat tersebut, Potifar, kepala penjara, dan Firaun percaya kepadanya. Mungkinkah kepercayaan yang besar itu diberikan kepada Yusuf kalau kualitas dirinya biasa-biasa saja?

Daniel juga, hidup di era tiga raja yang berbeda dengan rentang waktu ±65 tahun. Namun, selama itu pula ia tidak membuat kualitas dirinya redup bahkan hingga hari tuanya. Walau diduga tersisih paska Nebukadnezar digantikan oleh Belsyazar, tapi memori orang banyak akan keunggulannya tetap masih ada untuk menafsir penglihatan di pesta Belsyazar. Bahkan di era Darius pun, di usia yang sudah tidak muda lagi, Daniel diangkat menjadi 3 pejabat tinggi di bawah Darius. Kalau kualiatas Daniel biasa-biasa saja, apakah mungkin posisi-posisi penting dia duduki?

Lalu bagaimana kita bisa memiliki kualitas yang ‘cakap’ seperti Yusuf dan Daniel? Di luar penyertaan Tuhan dan komunitas yang mendukung, setidaknya ada 4 hal yang mereka lakukan dan itu bisa kita tiru juga.

Pertama, mau terus belajar terutama hal-hal yang baru. Pindah--walau terpaksa--ke dunia yang baru, jelas tidak mudah. Ada perbedaan budaya, bahasa, pekerjaan yang biasa dilakukan, hingga ilmu pengetahuan. Mau tak mau, Yusuf dan Daniel harus terus belajar untuk bisa beradaptasi atau ’survive’ di tempat baru atau pembuangan mereka.

Kedua, mau terus belajar hal-hal yang baru adalah baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita bisa menemukan apa keahlian kita. Yusuf dan Daniel memiliki keahlian khusus disamping kecerdasan mereka. Hal itu terbukti ketika mereka diingat oleh orang lain karena keahlian khusus mereka tersebut.

Ketiga, Yusuf dan Daniel tidak mudah menyerah. Kita bisa menemukan di Alkitab bahwa mereka berkali-kali berhadapan dengan ‘tembok’ kesulitan. Tapi mereka bisa melaluinya dengan cara mereka dan tentunya pertolongan Tuhan. Kesulitan bahkan kegagalan pasti terjadi, tapi lari dari kedua hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menerimanya, menghadapainya, dan mengatasinya. Menyalahkan kondisi hidup yang sulit dan kegagalan yang terjadi, sama saja seperti menyalahkan Tuhan. Kesulitan dan kegagalan hadir justru untuk membentuk kita menjadi pribadi yang semakin ‘cakap’ lagi. Emas tidak dihasilkan dari proses yang pendek dan suhu yang rendah, tapi sebaliknya.
Keempat, mampu melihat jauh ke depan dan mempersiapkan diri. Dalam konteks Yusuf dan Daniel, Tuhan membantu mereka melalui penglihatan dan pengertian. Lalu bagaimana dalam konteks kita? Sama, kita bisa melihat jauh ke depan juga dengan pertolongan Tuhan. Perubahan di sekitar kita pasti akan terjadi, khususnya di Indonesia. Dan, kita bisa ‘menebak’ perubahan apa yang akan terjadi di Indonesia, dengan melihat kondisi Indonesia sekarang dan membandingkannya dengan kondisi negara sekitar Indonesia dan dunia. Indonesia sekarang bukanlah negara maju ataupun terdepan. Jadi, pastinya Indonesia akan mengikuti trend perkembangan dunia yang sedang terjadi. Sehingga kita bisa melihat ke arah mana Indonesia akan bergerak dan kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15-16)

Tahun ini Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-72. Pembangunan yang sempat berjalan pelan, kini sedang berlari kencang demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kondisi seperti ini, Pricewaterhouse Coopers memprediksi bahwa di tahun 2030, Indonesia akan berada di posisi ke-5 dari 10 negara dengan ekonomi terbesar, di atas posisi Inggris, Jerman, dan Rusia.

Hai adik-adik siswa dan mahasiswa, berapa usia kalian di tahun 2030 nanti? Studi dan keahlian apa yang kalian miliki sekarang? Apakah pencapaian kalian sekarang dapat membawa kalian menjadi pemimpin masa depan Indonesia dan membawa Indonesia bukan hanya berlari kencang, tapi terbang tinggi?

Hai rekan-rekan alumni, berapa usia kita di tahun 2030 nanti? Masih sanggupkah kita menjadi berkat, bahkan pemimpin di tempat kita bekerja, terutama di bangsa ini? Bagaimana kita mempersiapkan keluarga, terutama anak-anak kita untuk bisa menjadi orang-orang yang cakap bagi bangsa Indonesia di masa depan?

Sebagai warga negara, kita patut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Bahkan kalau bisa dan jika Tuhan berkenan, menjadi pemimpin di dalam pembangunan tersebut. Hingga 2030 nanti kita mungkin masih mendapatkan label minoritas. Tapi, mari kita melihat hal tersebut sebagai penyemangat untuk berkontribusi lebih bagi Indonesia. Label minoritas kita pakai sebagai penyadar bahwa kita bukan orang Kristen yang kebetulan lahir di Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang secara sadar memilih Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Hendaknya setiap kontribusi kita sebagai minoritas bisa terlihat di bangsa ini dan menjadi kemuliaan bagi Bapa yang ada di Surga.

(Dimuat di Oratio edisi Agustus 2017)

Perkantas dan Semangat Reformasi

Moto berbahasa Latin, "Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei" (artinya: "Gereja Reformed, selalu direformasi berdasarkan firman Allah"), telah menjadi salah satu diktum penting gerakan Reformasi di abad ke-16 dan gereja-gereja Reformasi sampai hari ini. Sekalipun formulasinya baru ditemukan di abad ke-17 dalam tulisan Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (Contemplation of Zion) di Amsterdam pada tahun 1674. Moto ini secara historis tidak pernah dimaksudkan untuk melegitimasi segala macam inovasi dalam berteologi, sebagaimana banyak orang di zaman sekarang salah mengartikannya. Moto ini lahir pada masa gereja sedang berusaha untuk memurnikan diri dari segala bentuk inovasi manusia yang asing terhadap Alkitab. Dengan prinsip Sola Scriptura, gereja berikrar mereformasi diri dengan panduan Alkitab sebagai standar tertinggi dalam kehidupan Kristiani. Di lain pihak, moto ini juga menyuratkan keterbukaan terhadap perubahan, sebuah sikap anti status quo yang saat itu diperankan oleh gereja Katolik Roma. Di sini tampak ada dua sisi dari satu mata koin semangat Reformasi, yaitu: mempertahankan kontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen yang Alkitabiah dan diskontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen maupun pengaruh zaman yang tidak Alkitabiah.

Kontinu dan Diskontinu

Kontinu

Kitab Nehemia khususnya di pasal 8-10 menjadi salah satu rujukan bagaimana reformasi mewujud. Dikisahkan bangsa Israel yang sudah menetap di kota-kotanya, berkumpul di halaman di depan pintu gerbang air. Mereka meminta Ezra sang ahli kitab membawakan kitab Taurat dan membacakannya di depan mereka (Nehemia 8:1-4). Bangsa Israel menghayati kepulangan ke kota nenek moyang bukan sekedar hanya membangun kembali kehidupan sebagai sebuah bangsa. Tujuan utama mereka adalah membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan, serta pemulihan persekutuan Tuhan dan umat. Taurat pun dibacakan oleh imam Ezra di hadapan bangsa Israel. Dengan bantuan 13 orang Lewi, Taurat yang dibacakan diberikan keterangan-keterangan yang dapat dimengerti (8:5-9). Pada ayat-ayat berikutnya dicatat bagaimana bangsa Israel meresponi Taurat (8:10-9:37) hingga membuat satu piagam perjanjian sebagai bukti tertulis Reformasi umat (9:38-10:39). Sebuah commentary memberi judul pasal 8 "The Foundation of Reformation". Pembacaan dan pemberian keterangan yang jelas pada Firman Tuhan telah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dengan demikian bangsa Israel mengalami reformasi.

Realita saat ini, Perkantas sedang dan terus berada dalam situasi orang-orang yang mencari pengajaran untuk sekedar memuaskan keinginan telinga (2 Tim. 4:3). Maka dari itu, Perkantas mengajarkan Firman di tengah beragam pengajaran yang mungkin lahir dari kesesatan (1 Tes.2:1), bergerak ditengah berbagai jenis pelayanan lain yang mungkin memiliki motivasi yang tidak murni dengan segala tipu daya (1 Tes 2:2). Di tengah realitas ini Perkantas harus terus memelihara semangat ad Fontes (latin: kembali ke sumber, dalam hal ini Alkitab sebagai sumber primer iman Kristen) sebagaimana disuarakan dalam Reformasi. Semangat ini dapat dapat mewujud dalam:

  1. Pemberitaan firman yang ekspositori
  2. Pendalaman Alkitab pribadi dan kelompok
  3. Program pelayanan (goal, indikator, aktivitas dan evaluasi pelayanan) yang kontekstual (the world) berdasarkan penggalian teks Alkitab (the word)

Diskontinu

Tidak mudah menjaga semangat reformasi. Orang Yahudi yang telah mengikat perjanjian (Neh.10) berusaha menegakkan Taurat sedemikian ketat. Namun, dalam perjalanan mereka tergelincir kepada apa yang disebut Jaroslav Pelikan dalam bukunya The Vindication of Tradition sebagai Tradisionalisme (hidup dalam ritual namun kehilangan esensinya yaitu beriman kepada Tuhan). Dalam Injil, Yesus memperingatkan orang Yahudi dalam berbagai kesempatan pelayanan-Nya. Dan, dalam sebuah perumpamaan, Yesus menunjuk orang Yahudi sebagai anak sulung yang juga hilang (Luk.15:11-32). Dalam catatan sejarah paska Reformasi yaitu pada tahun 1685-1725, semangat rasionalisme modern merasuk ke dalam tubuh para pemikir Reformed. Integrasi-integrasi dilakukan. Model penafsiran Alkitab yang pre-critical textual, eksegetikal, dan hermeneutikal mengalami tekanan besar, seiring dengan pergeseran kerangka filsafat yang biasanya digunakan oleh para teolog zaman itu. Dari pendekatan Christian Aristotelian ke salah satu dari dua opsi ekstrem yaitu varian gerakan rasionalisme yang baru populer atau, dogmatika yang sama sekali anti terhadap filsafat. Kenyataan yang disesalkan adalah tidak semua integrasi tersebut dilakukan dengan prinsip Sola Scriptura. Namun, di tengah situasi demikian, muncul gerakan-gerakan yang berusaha melanjutkan semangat reformasi, antara lain: gerakan Pietisme di Jerman, Nadere Reformatie (Further Reformation) di Belanda, dan Puritanisme di Inggris pada saat yang hampir bersamaan. Semua gerakan itu mengembalikan Reformasi kepada hakikatnya yaitu Reformasi kehidupan Spiritual yang dibangun atas kebenaran Firman.

Perkantas yang sudah berusia 44 tahun pun rentan menyimpang dari semangat Reformasi, alih-alih memelihara tradisi justru bisa jatuh kepada tradisionalisme. Pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni masih terus dikerjakan bahkan aktivitas semakin banyak, tetapi amat rentan kehilangan esensi dari berbagai aktivitas tersebut. Perkantas juga rentan disusupi berbagai varian gerakan rasionalisme dalam memahami Firman, berbagai pemahaman teologi populer, berbagai metode yang sedang tren dalam membangun pelayanan yang sesungguhnya jauh dari prinsip Sola Scriptura.

Kiranya Perkantas terus berjaga-jaga dengan dirinya dan ajarannya. Dengan sikap berjaga-jaga, kehadiran Perkantas pun dicatat dalam sejarah kekristenan sebagai penerus semangat Reformasi. Melakukan Reformasi berdasarkan Firman Tuhan.

(Dimuat di Oratio edisi Oktober 2015)