Mengingat Kasih Setia Allah

Bangsa Israel telah mengalami kebaikan Allah, bahkan bukan sekedar kebaikan tetapi mujizat. Salah satu mujizat itu adalah mereka dapat menyebrangi Sungai Yordan yang kondisi airnya sangat deras, Ia sanggup menghentikan air yang deras agar bangsa Israel dapat menyeberanginya. Namun menarik, setelah peristiwa tersebut Allah tidak memerintahkan mereka untuk langsung melanjutkan perjalanan melainkan membentuk batu peringatan.

Dalam Yosua 4, Allah memerintahkan mereka untuk mengangkat batu sesuai jumlah suku dan meletakkannya di tengah-tengah Sungai Yordan untuk menjadi batu peringatan, “Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: ‘Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini? maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! — sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkan-Nya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang, supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu.” – Yosua 4:21-24.

“Melupakan kebaikan Allah adalah musuh dari Iman”

Mengapa batu peringatan penting? Saya pernah menemukan sebuah quote yang mengatakan, “Melupakan kebaikan Allah adalah musuh dari Iman”. Menurut saya hal ini sangatlah tepat, kita harus selalu mengingat setiap kebaikan Allah. Bukan suatu kebetulan Allah memberikan berbagai kebaikan di sepanjang perjalanan hidup kita, tetapi Allah ingin pengalaman tersebut menjadi pendorong dan penyemangat dalam kehidupan kita ke depan terutama ketika dalam keadaan penuh dengan tantangan dan kesulitan. Mengingat kasih setia Allah juga membuat kita dapat menaikkan penyembahan dan syukur yang murni dan dalam kepada Allah betapa kasih-Nya sungguh nyata di tengah-tengah dunia ini.

Tidak hanya bangsa Israel yang mengalami kebaikan Allah, IFES (International Fellowship of Evangelical Students) juga mengalami kebaikan Allah. Salah satu kebaikan Allah yang patut juga kita ingat adalah lahirnya IFES pada tahun 1947 di Harvard University, Amerika Serikat. Tidak ada yang menyangka jika pelayanan mahasiswa yang didirikan oleh 10 gerakan pelayanan mahasiswa kini telah berkembang hingga terdapat di 160 negara, termasuk di Indonesia yang secara resmi bergabung pada tahun 2003 dengan nama PERKANTAS (Persekutuan Kristen Antar Universitas). Perkantas sendiri adalah buah pelayanan dari tiga orang mahasiswa yang menikmati IFES - Australia (AFES) saat berkuliah di sana, yaitu Jonathan Parapak, Jimmy Kuswadi, dan (Alm.) Soen Siregar yang kemudian merintis pelayanan Perkantas di Indonesia pada tahun 1960-an.

Kebaikan Allah juga dirasakan oleh IFES (International Fellowship of Evangelical Students) dan Perkantas Indonesia

Tidak sampai di situ, kebaikan Allah juga nyata melalui dukungan beberapa orang dari berbagai negara. Hal tersebut terdapat dalam artikel yang ditulis oleh Sutrisna Harjanto, Staf Senior Perkantas, dalam Oratio edisi Maret 2006, yang mengatakan: “Para staf IFES dari beberapa negara tetangga secara teratur mengunjungi Indonesia untuk bersekutu, berdoa bersama, dan memberi pembinaan-pembinaan. Nama-nama seperti Chua Wee Hian, Ada Lum, dan Ellie Lau menjadi akrab di telinga generasi terdahulu karena mereka berulang kali berkunjung ke Indonesia untuk memberi dukungan moral bagi perintisan pelayanan di Indonesia. Selanjutnya dalam masa pertumbuhan pelayanan Perkantas pada dekade-dekade berikutnya, nama beberapa Regional Secretary IFES East Asia seperti Bell Magalith, Koiichi Ottawa, dan Gideon Yung bukan nama yang asing bagi banyak staf dan pengurus pelayanan Perkantas karena mereka berulang kali datang untuk bersekutu, berbagi, dan menyampaikan pembinaan bagi staf, pengurus, dan mahasiswa”

Pelayanan yang tadinya hanya berfokus pada pelayanan mahasiswa, sekarang pun telah berkembang sehingga di beberapa negara juga terdapat pelayanan siswa dan Pelayanan Alumni. Injil semakin luas diberitakan di seluruh dunia, bahkan mungkin kita juga adalah salah satu orang yang mengenal Tuhan Yesus Kristus karena Ia memakai pelayanan IFES atau Perkantas Indonesia untuk membawa mengenal Injil keselamatan.

Kiranya Allah terus memakai IFES di seluruh dunia menjadi alat yang efektif dalam mengabarkan kabar baik itu.

Mungkin kita tidak memiliki batu peringatan secara harafiah seperti bangsa Israel, namun untuk mengingat kebaikan Allah tersebut IFES memiliki salah satu momen tahunan yang bernama World Student Day. World Student Day adalah acara tahunan yang mempersatukan seluruh gerakkan pelayanan IFES (siswa, mahasiswa, staf, dan orang-orang yang mendukung) di seluruh dunia setiap hari Jumat ketiga bulan Oktober. Tujuannya adalah untuk merayakan apa yang telah Allah kerjakan melalui IFES serta saling mendoakan antar-negara apa yang menjadi kebutuhan dan tantangan ke depan. Tentu ini adalah momen yang indah karena kita bisa mengingat kasih setia Allah dan mendoakan gerakan pelayanan IFES di negara-negara lain. Jadi mari kita rayakan momen ini dan juga doakan agar Injil juga sampai kepada banyak orang lainnya di dunia terutama mereka yang berada di negara-negara yang sulit. Kiranya Allah terus memakai IFES di seluruh dunia menjadi alat yang efektif dalam mengabarkan kabar baik itu. Soli Deo Gloria!

Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar” - Yesaya 63:7

Amanat Agung KITA

Sejak kedatangan Yesus, banyak orang yang rela mati untuk kebenaran Injil. Hal ini dimulai dengan murid-murid yang sangat mengenal-Nya sehingga mereka pun meresikokan hidup mereka untuk kebenaran ini. Injil itu telah mengubah banyak jiwa-jiwa yang telah meresponi pesan dari Injil tersebut.

Apa itu Injil?

Injil dalam Bahasa Inggris dituliskan sebagai gospel yang berasal dari Bahasa Yunani euanngelion. Kata ini memiliki arti kabar baik. Dalam Perjanjian Baru secara khusus mengarah kepada kabar baik dari Allah kepada manusia mengenai Yesus Kristus. Paulus mendefinisikan Injil dengan singkat sebagai berikut: “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, . . . bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.“ (1 Kor.15 : 1-4).

Injil lebih dari sekedar tiket masuk Surga

Injil merupakan undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah yang Maha Kasih. Injil memberitakan siapa itu Yesus sehingga kita bisa melihat karya anugerah-Nya bagi manusia berdosa.

Injil menyatakan secara eksklusif menjadi satu-satunya jalan kepada Tuhan. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Mengapa kita perlu memberitakan Injil?

J. I. Packer menuliskan setidaknya ada dua motif yang seharusnya mendorong seseorang untuk terus menerus menginjili. Motif pertama adalah kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia; motif kedua adalah kasih kepada sesama manusia dan kepedulian akan keselamatan mereka.

1. Kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia.

Perintah pertama dan terutama adalah “Kasihilah, Tuhan Allahmu” (Mat.22:37). Ketika kasih Allah kepada kita telah nyata melalui karya salib Kristus, maka kita pun mengasihi Dia dengan mewujudkannya melalui ketaatan kita. “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” kata Tuhan Yesus (Yoh.14:21).

Penginjilan adalah perintah Allah sendiri. Kristus berkata, “Injil Kerajaan ini akan (menurut Markus: “harus”) diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa” (Mat.24:14; Mrk.13:10). Sebelum naik ke sorga, Kristus memberi perintah pada murid-murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” (Mat.28:19) disertai dengan janji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat.28:20). Janji ini diberikan untuk menguatkan hati setiap murid karena besar dan sulitnya tugas yang diamanatkan oleh Yesus. Di sisi lain, janji ini mengajarkan kepada setiap orang percaya tugas yang harus dikerjakan senantiasa sampai akhir zaman.

Jonathan K. Dodson menjelaskan amanat yang Yesus berikan ini berfokus pada memaklumkan Injil kepada mereka yang belum menjadi murid dan mengajarkan Injil kepada mereka yang sudah menjadi murid. Yesus mengutamakan Injil, yang menjadikan seseorang murid dan mendewasakan murid. Injil adalah pokok dalam menjadikan seseorang murid, sehingga seorang murid dapat menyerahkan kehidupan lamanya untuk menghidupi kehidupan barunya. Kehidupan baru seorang murid berarti menjadikan Yesus sebagai Tuhan (yang berkuasa) atas seluruh hidupnya dan mendorongnya dalam keataan kepada Allah.

Melalui penginjilan kita memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Allah lakukan untuk manusia berdosa. Allah dimuliakan ketika karya kasih karunia-Nya yang penuh kuasa diberitakan.

Sekretaris International Fellowship of Evangelical Students (IFES) bernama Vinoth Ramachnadra menyatakan “Susunan dan gaya hidup gereja adalah pusat dari Injil Kerajaan Allah. Kapan pun kita menjumpai sekelompok orang (katakanlah di Universitas, perumahan atau kantor) yang menghidupi komitmen penuh kepada Yesus Kristus, dan mempertanyakan dari cara hidup mereka, nilai-nilainya, pola pemikiran, dan struktur sosial di sekitar mereka, kita dapat secara percaya diri menyatakan bahwa kerajaan Allah hadir di sana.”

2. Kasih kepada sesama manusia dan kerinduan untuk melihat mereka diselamatkan.

Apakah yang lebih dibutuhkan manusia selain kebutuhan untuk mengenal Kristus? Apakah kebaikan yang lebih besar bagi sesama selain memberitakan pengenalan tentang Kristus? Jika kita mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka kita ingin mereka menikmati keselamatan yang begitu berharga bagi kita. Naluri itu muncul ketika kita melihat kebutuhan sesama akan Kristus. Memberitakan Injil adalah hal istimewa; mengabarkan kasih Kristus kepada orang lain merupakan hal yang indah, karena kita tahu tidak ada hal lain yang lebih mendesak untuk mereka ketahui, dan tidak ada pengetahuan yang lebih berguna bagi mereka. Karena itu kita tidak perlu enggan dan takut membagikan kabar baik itu kepada semua orang. Kita seharusnya melakukan hal ini dengan gembira dan sukacita.

Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Melihat betapa penting Injil bagi kehidupan manusia, banyak lembaga pelayanan, persekutuan siswa maupun mahasiswa, serta institusi gereja yang menekankan penginjilan. Penginjilan yang dapat diartikan sebagai pemberitaan Injil. Jika mengingat penjelasan Jonathan K. Dodson pada bagian sebelumnya, maka sesungguhnya Injil perlu diberitakan terus-menerus melalui setiap kesempatan yang ada. Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Semua strategi, metode, maupun kegiatan baik melalui media mimbar khotbah, media sosial, media persahabatan dan media lainnya yang digunakan untuk memberitakan Injil sudahkah mendorong seseorang untuk terus memaknai Injil sebagai undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah.

(Dimuat di Oratio edisi September 2017)

Minoritas yang Berdampak

Istilah ‘minoritas’, beberapa waktu lalu sempat ramai muncul di masyarakat. Namun, bukan hadir dalam konteks yang bagus atau kondusif, melainkan dalam hingar-bingar gesekan sosial yang cukup menghangat. Kata ‘minoritas’ yang ramai diperbincangkan tentu dalam konteks jumlah, khususnya jumlah penganut agama tertentu dan atau juga suku tertentu. Dalam demokrasi yang ideal, istilah ‘minoritas-mayoritas’ seharusnya tidak pernah ada bahkan dipertentangkan. Semua individu sama kedudukan dan suaranya. Entah latar belakang agamanya, sukunya, status ekonominya, dan lain-lain. Tapi realitanya, sekat ‘minoritas-mayoritas’ dalam konteks primordialisme masih ada di masyarakat Indonesia. Kadarnya saja yang berbeda-beda antar daerah.

Dalam segala kekurangannya, label minoritas sebenarnya punya sisi positif juga. Salah satunya adalah akan mudah terekspos atau terlihat jika memang memiliki keunggulan. Bukan hanya di antara kalangan minoritas, tetapi juga melebihi kelompok mayoritas.

“Penahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29)

Kata ‘cakap’ disini jika digali lebih jauh sebenarnya memiliki arti: siap, rajin, tekun, dan cekatan. Untuk bisa berdiri di hadapan raja-raja atau para pemimpin atau para orang penting lainnya, maka kita memerlukan kualitas diri yang mumpuni, bukan ala kadarnya. Diperlukan kualitas yang cekatan, rajin, tekun, dan siap mengerjakan apapun yang dipercayakan. Jikalau hal-hal tersebut masih jauh dari diri kita, maka jangan harap kita bisa tampil di hadapan ‘raja-raja’.

Dua tokoh Alkitab yang bisa menggambarkan dengan tepat kualitas di atas adalah Yusuf dan Daniel. Mereka sama-sama berstatus minoritas, namun itu tidak membuat mereka minder. Mereka justru menunjukkan bahwa minoritas bisa memberi andil yang sama bahkan lebih dari kelompok mayoritas.

Mulai dari rumah Potifar, penjara, hingga istana Firaun, Yusuf menunjukkan kualitas yang sama. Kualitasnya lebih unggul dari pada yang lain, sehingga pemimpin-pemimpin di tiga tempat tersebut, Potifar, kepala penjara, dan Firaun percaya kepadanya. Mungkinkah kepercayaan yang besar itu diberikan kepada Yusuf kalau kualitas dirinya biasa-biasa saja?

Daniel juga, hidup di era tiga raja yang berbeda dengan rentang waktu ±65 tahun. Namun, selama itu pula ia tidak membuat kualitas dirinya redup bahkan hingga hari tuanya. Walau diduga tersisih paska Nebukadnezar digantikan oleh Belsyazar, tapi memori orang banyak akan keunggulannya tetap masih ada untuk menafsir penglihatan di pesta Belsyazar. Bahkan di era Darius pun, di usia yang sudah tidak muda lagi, Daniel diangkat menjadi 3 pejabat tinggi di bawah Darius. Kalau kualiatas Daniel biasa-biasa saja, apakah mungkin posisi-posisi penting dia duduki?

Lalu bagaimana kita bisa memiliki kualitas yang ‘cakap’ seperti Yusuf dan Daniel? Di luar penyertaan Tuhan dan komunitas yang mendukung, setidaknya ada 4 hal yang mereka lakukan dan itu bisa kita tiru juga.

Pertama, mau terus belajar terutama hal-hal yang baru. Pindah--walau terpaksa--ke dunia yang baru, jelas tidak mudah. Ada perbedaan budaya, bahasa, pekerjaan yang biasa dilakukan, hingga ilmu pengetahuan. Mau tak mau, Yusuf dan Daniel harus terus belajar untuk bisa beradaptasi atau ’survive’ di tempat baru atau pembuangan mereka.

Kedua, mau terus belajar hal-hal yang baru adalah baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita bisa menemukan apa keahlian kita. Yusuf dan Daniel memiliki keahlian khusus disamping kecerdasan mereka. Hal itu terbukti ketika mereka diingat oleh orang lain karena keahlian khusus mereka tersebut.

Ketiga, Yusuf dan Daniel tidak mudah menyerah. Kita bisa menemukan di Alkitab bahwa mereka berkali-kali berhadapan dengan ‘tembok’ kesulitan. Tapi mereka bisa melaluinya dengan cara mereka dan tentunya pertolongan Tuhan. Kesulitan bahkan kegagalan pasti terjadi, tapi lari dari kedua hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menerimanya, menghadapainya, dan mengatasinya. Menyalahkan kondisi hidup yang sulit dan kegagalan yang terjadi, sama saja seperti menyalahkan Tuhan. Kesulitan dan kegagalan hadir justru untuk membentuk kita menjadi pribadi yang semakin ‘cakap’ lagi. Emas tidak dihasilkan dari proses yang pendek dan suhu yang rendah, tapi sebaliknya.
Keempat, mampu melihat jauh ke depan dan mempersiapkan diri. Dalam konteks Yusuf dan Daniel, Tuhan membantu mereka melalui penglihatan dan pengertian. Lalu bagaimana dalam konteks kita? Sama, kita bisa melihat jauh ke depan juga dengan pertolongan Tuhan. Perubahan di sekitar kita pasti akan terjadi, khususnya di Indonesia. Dan, kita bisa ‘menebak’ perubahan apa yang akan terjadi di Indonesia, dengan melihat kondisi Indonesia sekarang dan membandingkannya dengan kondisi negara sekitar Indonesia dan dunia. Indonesia sekarang bukanlah negara maju ataupun terdepan. Jadi, pastinya Indonesia akan mengikuti trend perkembangan dunia yang sedang terjadi. Sehingga kita bisa melihat ke arah mana Indonesia akan bergerak dan kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15-16)

Tahun ini Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-72. Pembangunan yang sempat berjalan pelan, kini sedang berlari kencang demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kondisi seperti ini, Pricewaterhouse Coopers memprediksi bahwa di tahun 2030, Indonesia akan berada di posisi ke-5 dari 10 negara dengan ekonomi terbesar, di atas posisi Inggris, Jerman, dan Rusia.

Hai adik-adik siswa dan mahasiswa, berapa usia kalian di tahun 2030 nanti? Studi dan keahlian apa yang kalian miliki sekarang? Apakah pencapaian kalian sekarang dapat membawa kalian menjadi pemimpin masa depan Indonesia dan membawa Indonesia bukan hanya berlari kencang, tapi terbang tinggi?

Hai rekan-rekan alumni, berapa usia kita di tahun 2030 nanti? Masih sanggupkah kita menjadi berkat, bahkan pemimpin di tempat kita bekerja, terutama di bangsa ini? Bagaimana kita mempersiapkan keluarga, terutama anak-anak kita untuk bisa menjadi orang-orang yang cakap bagi bangsa Indonesia di masa depan?

Sebagai warga negara, kita patut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Bahkan kalau bisa dan jika Tuhan berkenan, menjadi pemimpin di dalam pembangunan tersebut. Hingga 2030 nanti kita mungkin masih mendapatkan label minoritas. Tapi, mari kita melihat hal tersebut sebagai penyemangat untuk berkontribusi lebih bagi Indonesia. Label minoritas kita pakai sebagai penyadar bahwa kita bukan orang Kristen yang kebetulan lahir di Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang secara sadar memilih Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Hendaknya setiap kontribusi kita sebagai minoritas bisa terlihat di bangsa ini dan menjadi kemuliaan bagi Bapa yang ada di Surga.

(Dimuat di Oratio edisi Agustus 2017)

Perkantas dan Semangat Reformasi

Moto berbahasa Latin, "Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei" (artinya: "Gereja Reformed, selalu direformasi berdasarkan firman Allah"), telah menjadi salah satu diktum penting gerakan Reformasi di abad ke-16 dan gereja-gereja Reformasi sampai hari ini. Sekalipun formulasinya baru ditemukan di abad ke-17 dalam tulisan Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (Contemplation of Zion) di Amsterdam pada tahun 1674. Moto ini secara historis tidak pernah dimaksudkan untuk melegitimasi segala macam inovasi dalam berteologi, sebagaimana banyak orang di zaman sekarang salah mengartikannya. Moto ini lahir pada masa gereja sedang berusaha untuk memurnikan diri dari segala bentuk inovasi manusia yang asing terhadap Alkitab. Dengan prinsip Sola Scriptura, gereja berikrar mereformasi diri dengan panduan Alkitab sebagai standar tertinggi dalam kehidupan Kristiani. Di lain pihak, moto ini juga menyuratkan keterbukaan terhadap perubahan, sebuah sikap anti status quo yang saat itu diperankan oleh gereja Katolik Roma. Di sini tampak ada dua sisi dari satu mata koin semangat Reformasi, yaitu: mempertahankan kontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen yang Alkitabiah dan diskontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen maupun pengaruh zaman yang tidak Alkitabiah.

Kontinu dan Diskontinu

Kontinu

Kitab Nehemia khususnya di pasal 8-10 menjadi salah satu rujukan bagaimana reformasi mewujud. Dikisahkan bangsa Israel yang sudah menetap di kota-kotanya, berkumpul di halaman di depan pintu gerbang air. Mereka meminta Ezra sang ahli kitab membawakan kitab Taurat dan membacakannya di depan mereka (Nehemia 8:1-4). Bangsa Israel menghayati kepulangan ke kota nenek moyang bukan sekedar hanya membangun kembali kehidupan sebagai sebuah bangsa. Tujuan utama mereka adalah membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan, serta pemulihan persekutuan Tuhan dan umat. Taurat pun dibacakan oleh imam Ezra di hadapan bangsa Israel. Dengan bantuan 13 orang Lewi, Taurat yang dibacakan diberikan keterangan-keterangan yang dapat dimengerti (8:5-9). Pada ayat-ayat berikutnya dicatat bagaimana bangsa Israel meresponi Taurat (8:10-9:37) hingga membuat satu piagam perjanjian sebagai bukti tertulis Reformasi umat (9:38-10:39). Sebuah commentary memberi judul pasal 8 "The Foundation of Reformation". Pembacaan dan pemberian keterangan yang jelas pada Firman Tuhan telah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dengan demikian bangsa Israel mengalami reformasi.

Realita saat ini, Perkantas sedang dan terus berada dalam situasi orang-orang yang mencari pengajaran untuk sekedar memuaskan keinginan telinga (2 Tim. 4:3). Maka dari itu, Perkantas mengajarkan Firman di tengah beragam pengajaran yang mungkin lahir dari kesesatan (1 Tes.2:1), bergerak ditengah berbagai jenis pelayanan lain yang mungkin memiliki motivasi yang tidak murni dengan segala tipu daya (1 Tes 2:2). Di tengah realitas ini Perkantas harus terus memelihara semangat ad Fontes (latin: kembali ke sumber, dalam hal ini Alkitab sebagai sumber primer iman Kristen) sebagaimana disuarakan dalam Reformasi. Semangat ini dapat dapat mewujud dalam:

  1. Pemberitaan firman yang ekspositori
  2. Pendalaman Alkitab pribadi dan kelompok
  3. Program pelayanan (goal, indikator, aktivitas dan evaluasi pelayanan) yang kontekstual (the world) berdasarkan penggalian teks Alkitab (the word)

Diskontinu

Tidak mudah menjaga semangat reformasi. Orang Yahudi yang telah mengikat perjanjian (Neh.10) berusaha menegakkan Taurat sedemikian ketat. Namun, dalam perjalanan mereka tergelincir kepada apa yang disebut Jaroslav Pelikan dalam bukunya The Vindication of Tradition sebagai Tradisionalisme (hidup dalam ritual namun kehilangan esensinya yaitu beriman kepada Tuhan). Dalam Injil, Yesus memperingatkan orang Yahudi dalam berbagai kesempatan pelayanan-Nya. Dan, dalam sebuah perumpamaan, Yesus menunjuk orang Yahudi sebagai anak sulung yang juga hilang (Luk.15:11-32). Dalam catatan sejarah paska Reformasi yaitu pada tahun 1685-1725, semangat rasionalisme modern merasuk ke dalam tubuh para pemikir Reformed. Integrasi-integrasi dilakukan. Model penafsiran Alkitab yang pre-critical textual, eksegetikal, dan hermeneutikal mengalami tekanan besar, seiring dengan pergeseran kerangka filsafat yang biasanya digunakan oleh para teolog zaman itu. Dari pendekatan Christian Aristotelian ke salah satu dari dua opsi ekstrem yaitu varian gerakan rasionalisme yang baru populer atau, dogmatika yang sama sekali anti terhadap filsafat. Kenyataan yang disesalkan adalah tidak semua integrasi tersebut dilakukan dengan prinsip Sola Scriptura. Namun, di tengah situasi demikian, muncul gerakan-gerakan yang berusaha melanjutkan semangat reformasi, antara lain: gerakan Pietisme di Jerman, Nadere Reformatie (Further Reformation) di Belanda, dan Puritanisme di Inggris pada saat yang hampir bersamaan. Semua gerakan itu mengembalikan Reformasi kepada hakikatnya yaitu Reformasi kehidupan Spiritual yang dibangun atas kebenaran Firman.

Perkantas yang sudah berusia 44 tahun pun rentan menyimpang dari semangat Reformasi, alih-alih memelihara tradisi justru bisa jatuh kepada tradisionalisme. Pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni masih terus dikerjakan bahkan aktivitas semakin banyak, tetapi amat rentan kehilangan esensi dari berbagai aktivitas tersebut. Perkantas juga rentan disusupi berbagai varian gerakan rasionalisme dalam memahami Firman, berbagai pemahaman teologi populer, berbagai metode yang sedang tren dalam membangun pelayanan yang sesungguhnya jauh dari prinsip Sola Scriptura.

Kiranya Perkantas terus berjaga-jaga dengan dirinya dan ajarannya. Dengan sikap berjaga-jaga, kehadiran Perkantas pun dicatat dalam sejarah kekristenan sebagai penerus semangat Reformasi. Melakukan Reformasi berdasarkan Firman Tuhan.

(Dimuat di Oratio edisi Oktober 2015)

Form & Meaning

Saya berasal dari sebuah gereja yang dapat disebut sebagai gereja tradisional. Ada banyak tradisi baik yang saya warisi dari gereja saya semenjak kanak-kanak sampai saat ini. Salah satunya adalah lagu-lagu pujian hymnal yang saya kenal akrab karena sering dinyanyikan tiap minggu, walau saya belum mengalami maknanya saat itu. Kelak ini menjadi kenangan yang sangat berguna setelah saya mengalami hidup baru dalam Kristus.

Namun, harus saya akui ada momen-momen yang seharusnya menjadi momen rohani bagi saya telah berlalu begitu saja. Saya teringat masa-masa mengikuti kelas katekisasi, ketika sosok pendeta seolah menjadi ‘dua’ dalam pandangan mata saya di tengah rasa kantuk pada jam 3 siang di hari Minggu. Kendati demikian, saya tetap lolos mengikuti Sidi (pengakuan percaya) yang menjadi sebuah seremonial saja bagi saya. Pada masa-masa itu, saya juga mengikuti persekutuan mahasiswa di kampus. Di persekutuan mahasiswa inilah saya baru mengalami Injil dengan sesungguhnya. Hati saya diperbaharui oleh Injil yang saya dengar dan pelajari lewat kamp Perkabaran Injil, Persekutuan Jumat, PA kelompok dan Kelompok Kecil (KK), serta kegiatan lainnya. Hal itu terjadi pada tahun 1980-an. Pada waktu itu pelayanan Persekutuan mahasiswa baru berusia sekitar 5 tahun.

Mengapa bisa terjadi perbedaan seperti itu? Tentu ada banyak faktor. Salah satu faktor utamanya adalah gereja yang sudah berusia puluhan tahun mulai terjebak kepada tradisi. Kegiatan gereja dilakukan dengan teratur dan rapih tapi sering menjadi sebuah seremonial saja. Sedangkan persekutuan mahasiswa yang masih sangat baru waktu itu melakukan kegiatan pelayanannya dengan penuh penghayatan makna dan tujuannya. Tanpa makna dan tujuan yang jelas, pengurus PMK tidak akan mau mengerjakannya.

Saya masih ingat, kami akan terlebih dahulu bertanya ‘mengapa’ sebelum bertanya ‘bagaimana’ bila merencanakan sebuah program pelayanan. Namun, saat ini Perkantas bersama dengan persekutuan siswa dan mahasiswanya sudah tidak baru lagi, melainkan sudah masuk kepada pelayanan yang berusia ‘puluhan tahun’. Sebagai sebuah komunitas kerohanian ataupun sosial, Perkantas juga bisa terjebak kepada tradisi yang terbatas pada bentuknya saja tapi sudah kehilangan makna terdalamnya. Sudah ada banyak pemahaman, pola, kegiatan-kegiatan pelayanan Perkantas yang sudah berlangsung puluhan tahun, yang bila tidak hati-hati akan menjadi tradisi yang sepi makna dan kekuatan rohani. Tampaknya kita cenderung akan melakukan sebuah bentuk kegiatan yang sudah menjadi tradisi tanpa perlu mengerti dan menghayati maknanya. Apalagi bila tradisi itu diberi kekuatan hukum struktural atau organisasi, menjadi sebuah tata tertib atau kegiatan wajib.

Apakah tradisi itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar: perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan tradisi, melainkan haruslah dihayati maknanya.

Dari definisi di atas, kita melihat sebuah kenyataan bahwa tradisi itu adalah sebuah kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Kenyataan ini tidak bisa kita ubah. Semua komunitas yang berlangsung puluhan tahun bahkan ratusan tahun akan mengalaminya. Juga mungkin tidak perlu kita ubah karena ada tradisi yang memang baik dan patut diteruskan. Namun, penilaian atau anggapan bahwa suatu tradisi tertentu adalah yang paling baik dan benar itu seringkali membawa kita kepada bahaya melakukan tradisi tanpa makna. Sekalipun itu tradisi yang sangat baik dan masih “up to date”. Pasalnya, ketika kita sudah diyakinkan dan dikondisikan begitu rupa untuk melakukannya tanpa ragu, kita tidak terkondisikan untuk berjuang mencari maknanya.

Artikel ini bermaksud untuk mengajak Perkantas dengan seluruh komponen pelayanannya, bersikap kritis dan berjagajaga untuk tidak terjebak kepada jerat tradisi meneruskan “form” tanpa “meaning” supaya bisa terus dapat dipakai Tuhan menjangkau generasi muda zaman ini. Melewati usianya yang ke 40, Perkantas meninggalkan banyak kebiasaan yang diwariskan dari tahun 70-an. Sehingga pelayanan Perkantas pun bisa ada dalam bahaya melakukan tradisi kegiatan atau pola pelayanan tanpa menghayati maknanya. Apa yang saya alami di gereja tradisional dahulu, dapat dialami oleh siswa, mahasiswa, alumni, dan staf generasi sekarang. Kita tetap menjalankan bentuk kegiatan KK, Kamp, retret dsb, tapi kita tidak lagi mengerjakannya dengan makna, visi, misi yang sama. Saya sempat terkejut, ketika staf dan pengurus persekutuan sangat terkesan dengan ide KK berdasarkan profil. Bukankah, memang begitu seharusnya. Dulu tidak ada kewajiban harus pakai ataupun menyelesaikan buku Memulai Hidup Baru (red: buku penuntun Kelompok Kecil di kampus). Kami menggunakan buku tersebut karena buku MHB sangat menjadi berkat bagi kami dan kami teruskan kepada anak kelompok kecil kami. Kami menyelesaikannya karena apa yang dibagikan dalam MHB sangat berguna untuk menolong mahasiswa menjalani kehidupan barunya dalam Kristus. Sampai kini, sudah ada sekian angkatan yang memakai MHB karena itulah tradisi KK di kampusnya.

Tadinya saya pikir siswa, mahasiswa, dan staf baru yang bergantian masuk ke dalam ladang pelayanan siswa dan mahasiswa, bahkan bisa tiap tahun berganti, akan dapat luput dari bahaya tradisi ini. Pasalnya, mereka adalah orang-orang yang belum terjebak rutinitas. Namun, ternyata tidak. Tradisi bukan hanya sanggup menguasai ‘orang lama’ atau ‘orang tua’ yang sering kali disebut kelompok konservatif, tapi tradisi sanggup menguasai orang baru yang masuk ke dalam sistem yang sudah dikuasai oleh tradisi. Entahkah dia sebagai ‘korban’ tradisi atau kemudian menjadi pelaku tradisi.

Sebetulnya apa bahaya dari melakukan tradisi, tanpa menggali maknanya?

  1. Kita akan Kehilangan Generasi Kini dan Mendatang

Yesus berkata: “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Anggur yang baru menggambarkan Injil keselamatan, kabar sukacita yang tidak bisa ditampung dalam ‘kantong yang lama’ yaitu upacara seremonial. Puasa sebetulnya adalah sebuah bentuk ibadah yang melaluinya umat datang kepada Allah, memohon dan menerima belas kasihan dan rahmatNya. Namun, orang Farisi terjebak melihat puasa hanya sebagai bentuk ibadah yang harus dilakukan dengan teratur. Sebuah tradisi keagamaan yang wajib dilakukan. Mereka kehilangan makna ibadah puasa sehingga puasa menjadi upacara seremonial yang kaku. Tradisi seremonial tidak sanggup menampung berita Injil yang penuh sukacita dan kuasa. Seperti kantong lama tidak sanggup menyimpan anggur baru. “And by these very apt illustrations our Lord teaches us that it is a vain thing to attempt to mingle together the spiritual freedom of the gospel with the old ceremonies of the Law” (Calvin).

Hal yang sama juga bisa terjadi pada pelayanan Perkantas. Tradisi tanpa makna akan menjadi sebuah seremonial keagamaan yang tidak sanggup menampung kuasa Injil yang membebaskan. KKR, Kelompok PIPA (Perkabaran Injil lewat Pemahaman Alkitab), KK (Kelompok Kecil), PI Pribadi bila dilakukan tanpa penghayatan makna tidak bisa menjadi alat kasih karunia menghantar siswa, mahasiswa berjumpa dengan Kristus. Bila hal ini terjadi, maka tidak ada petobat baru dan tidak ada murid Kristus baru. Perkantas, PMK, PSK akan kehilangan generasi kini dan mendatang. Kita juga akan kehilangan generasi baru pemimpin yang sebenarnya. “Student today, leader tomorrow” tinggal menjadi slogan belaka.

  1. Kita Tidak Bisa Melakukan Kontekstualisasi Zaman

Ada tradisi baik yang harus terus kita lakukan. Tanggung jawab tiap generasi untuk terus menggali maknanya. Dan, tanggung jawab generasi sebelumnya untuk meneruskan makna tidak hanya berbentuk kegiatan atau pola pelayanan. “We need to pass onto the next generation the meanings and not just the form” (Perry Shaw). Tapi ada pola-pola atau kegiatan yang tidak lagi komunikatif dengan generasi sekarang. Kita harus sanggup menyampaikan Injil yang sama dengan ‘bungkus’ kegiatan yang berbeda. Disinilah tradisi bisa menghambat kontekstualisasi Injil. Tradisi yang tidak dihayati maknanya cenderung akan kaku dengan bentuk-bentuk yang diwariskannya. Kekakuan dan ketakutan ini timbul karena menaruh tempat yang sama tinggi antara bentuk dan makna. Sehingga muncul pemikiran bahwa merubah bentuk sama dengan merubah makna. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk sanggup membedakan antara bentuk ibadah dan makna. Bentuk boleh fleksibel bahkan diubah, tapi makna tinggal tetap.

  1. Tradisi tanpa Makna akan Menghasilkan ‘Penguasa-penguasa’ dalam Pelayanan bukan Pemimpin yang Melayani dengan Wibawa Rohani

Sebuah kalimat dari Perry Shaw, memberikan peringatan yang tajam akan bahaya ini: ‘The people who control the form have the political power; the people who control the meaning have the spiritual power, for good or evil. The people with either type of power determine who the church is really serving. The political power-keepers maintain a form and the spiritual power-keepers use that form intentionally to teach a spiritual lesson. The political power keepers want to keep or institute a form which the spiritual power-keepers consider unhelpful”.

Di sinilah tradisi akan berkolaborasi dengan institusi, tradisi diberi kekuatan hukum yang mengikat para anggota untuk wajib melakukannya. Warna pelayanan mahasiswa yang kuat dengan suasana fellowship dan kekeluargaan akan berubah pelan-pelan menjadi komunitas yang kaku dan formal. Sehingga kita akan memiliki ‘budak-budak program’ yaitu panitia atau pengurus yang bekerja keras tanpa tahu apa yang mau dicapai. Mereka mau melakukannya, karena mereka takut ‘dihukum’ dan dialienasi oleh ‘penguasa-penguasa’ pelayanan.

Memahami dinamika tradisi beserta bahayanya, kiranya Perkantas berhati-hati menjaga semangat dan makna setiap pola dan aktivitas pelayanan yang dikerjakannya. Perkantas saat ini sedang berada dalam masa transisi. Melewati 40 tahun pertamanya dan memasuki 40 tahun keduanya. Mari kita berjaga-jaga dan berdoa supaya pelayanan Perkantas terhindar dari jerat tradisi tanpa makna. Di masa tuanya, Rasul Petrus seorang gembala yang sudah melayani puluhan tahun lamanya mengingatkan orang percaya untuk bersungguh-sungguh bertumbuh dalam kehidupan rohani mereka -- yang disebutnya sebagai iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri dan kasih -- oleh kuasa Roh Kudus yang sudah dikerjakan dalam diri orang percaya.

Rasul Petrus berkata: “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan” (2 Petrus 1:8-9).

Hanya kerohanian yang berlimpah-limpah yang dapat membebaskan kita dari jerat tradisi tanpa makna, karena makna ada dalam hati yang mengenal Kristus, Tuhan JuruselamatNya. Selamat Ulang Tahun Perkantas!

(Dimuat di Oratio Edisi Juli 2013)

Nasihat Katharine

Suatu kali Martin Luther, sang tokoh Reformasi, mengalami depresi berlarut-larut dan sangat murung. Melihat kondisi tersebut, Katharine sang istri kemudian bergegas mengganti bajunya dengan baju hitam, simbol baju berkabung.

Melihat hal tersebut Luther bertanya, "Apa maksudnya ini, siapa yang mati?"

"Tuhan sudah mati", sahut Katharine.

Mendengar hal tersebut, Luther marah luar biasa, "Mana mungkin Tuhan mati!"

"Kalau begitu...", ujar Katharine, "berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati!"

Cerita di atas pernah saya baca entah kapan. Karena sudah lama ada beberapa bagian yang mungkin sudah tidak tepat lagi, meski intinya kurang lebih sama. Ah, ingatan yang memudar hanya menghasilkan lupa. Penuaan dini? Mungkin. Bagi sebagian orang, saya dianggap masih cukup muda (masih umur 30-an). Bagi mahasiswa sekarang, saya sudah termasuk angkatan fosil. Nah, sejak anak kedua lahir baru-baru ini, saya benar-benar merasakan penuaan dini. Bayangkan, kalau terkena flu sewaktu masih jomblo dulu, saya cukup istirahat 1-2 hari agar sembuh. Tapi, semenjak punya anak pertama dua tahun yang lalu, butuh sekitar satu minggu untuk dapat sembuh. Sekarang dengan dua anak, tetap hanya butuh satu minggu sembuh. Namun, selang beberapa hari akan flu lagi. Dulu tidur bisa delapan jam sehari. Sekarang paling sekitar empat jam (anak kedua kami belum bisa membedakan siang dan malam, jadi dia tidur seharian, dan aktif semalaman). Hampir setiap kali main dengan anak pertama, saya ketiduran. Walaupun begitu, hidup harus jalan terus (life must goes on, katanya).

Pertanyaannya: Bagaimana bisa mengerjakan aktivitas sehari-hari, kerja, atau bahkan melayani dengan kondisi setengah hidup? Bagaimana bisa doa sepenuh hati dan fokus? Bagaimana bisa mendengar dengan penuh perhatian? Memberi nasehat dengan bijak? Maksimal melayani, maksimal bekerja? Bukankah jika kita punya banyak masalah dan pergumulan, kerja dan pelayanan jadi hanya seadanya saja?

Katharine, istri Martin Luther, memberikan satu solusi: berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati. Ini bukan sekedar menerima fakta bahwa Tuhan sungguh bangkit. Lebih dari itu, ini berarti meyakini bahwa kuasa Allah yang membangkitkan Kristus sanggup mengubah realita yang ada dan memberi kekuatan untuk melayani Tuhan. Satu hal yang saya amati, kita sering pasrah kepada 'realita'. Sakit, jadi tidak bisa melayani. Ada masalah, jadi pelayanan ditunda. Mental "apa boleh buat" atau "mau gimana lagi" menjadi alasan standar. Semua ini adalah bentuk dari iman Tuhan sudah mati. Sebaliknya, maka iman Tuhan yang bangkit akan berkata, "Saya sakit, tapi saya mau melayani, Tuhan tolong sembuhkan saya." Iman Tuhan yang bangkit berkata, "Saya ada masalah, Tuhan tolong, jangan sampai menghalangi pekerjaan Tuhan." Iman Tuhan yang bangkit berkata, "Tuhan adalah Tuhan atas realita; Tidak ada yang mustahil. Toh kita melayani bukan dengan kekuatan diri kita sendiri."

Maka bagi saya, vitamin jalan terus, makan jalan terus, sebisa mungkin istirahat. Namun, yang lebih utama, bersandar pada kuasa Tuhan juga harus jalan terus. Untungnya, istri saya juga mendukung dan menyadari hal ini. Meskipun dia jauh lebih lelah dibanding saya (dan saya rasa semua ibu-ibu juga demikian), toh masih menyempatkan diri untuk berdoa entah tengah malam atau subuh. Saya mengerjakan bagian saya, dia akan mengerjakan bagian dia, dan Tuhan akan mengerjakan bagian Tuhan. 'Penuaan Dini' bukan satu-satunya pergumulan yang dihadapi. Ada satu hal lain lagi, yaitu kepribadian. Saya adalah seorang introvert, plegmatik, pendiam sejati, lambat. Seorang rekan suka memanggil saya "flat face" (padahal wajah saya tidak flat sama sekali dan berbeda dengan TV flat, muka flat sama sekali bukan sebuah pujian). Tidak heran di zaman kuliah ketika ada yang tanya tentang kelebihan saya, teman-teman akan menjawab "sabar". Lalu ketika ditanya apa kelemahan saya, mereka menjawab "lamban". Sebagai oleh-oleh, seorang staf senior di Perkantas pernah memberi kenang-kenangan berupa boneka kura-kura.

Pertanyaannya, bagaimana seorang introvert, plegmatik yang lamban bisa melayani secara maksimal? Bukankah seorang pelayan dituntut untuk memperhatikan domba-dombanya? Ia harus bisa bersosialisasi dengan baik. Bayangkan jika seorang hamba Tuhan melakukan kunjungan ke jemaat, tapi sesampainya ia hanya diam. Tentunya, ia harus bisa membicarakan topik A sampai Z agar cepat klik dengan orang baru. Tak hanya itu, ia juga harus bisa berkhotbah atau mengajar dengan penuh ekspresi dan dinamis. Apakah masih ada tempat bagi seorang introvert-lamban untuk melayani?

Jawabannya ternyata tetap sama dengan isu pertama di atas: berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati. Kelemahan dalam karakter tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melayani secara maksimal. Kelemahan dalam karakter juga tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mau berubah dan belajar. Allah dengan kuasanya yang membangkitkan akan sanggup memakai dan membentuk seorang introvert lamban sekalipun. Iman Tuhan sudah mati berkata, "Saya memang begitu dari sono-nya, jadi ga bakal bisa deh." Iman Tuhan sudah mati berkata, "Maaf, Tuhan salah pilih; saya tidak cocok." Iman Tuhan sudah mati berkata, "Hanya orang dengan kepribadian tertentu yang akan dipakai Tuhan." Sebaliknya iman Tuhan yang hidup berkata, "Jika Tuhan yang memanggil, maka Tuhan juga yang akan memperlengkapi." Iman Tuhan yang hidup berkata, "Ini aku, utuslah aku." Iman Tuhan yang hidup berkata, "Saya lemah, tapi di dalam Tuhan saya kuat."

Baru-baru ini sebuah khotbah di gereja mengingatkan dan menguatkan saya. Sang pengkhotbah sedang berbicara mengenai hubungan antara hal kuasa Tuhan dan misi hidup kita. Ia berkata, "Jangan berdoa: Tuhan berikan tugas yang sesuai dengan kekuatanku. Tapi berdoalah: Tuhan berikan kekuatan sesuai dengan tugasku."

"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya" (Filipi 3:10)

(Dimuat di Oratio Edisi April 2010)