Minoritas yang Berdampak

Istilah ‘minoritas’, beberapa waktu lalu sempat ramai muncul di masyarakat. Namun, bukan hadir dalam konteks yang bagus atau kondusif, melainkan dalam hingar-bingar gesekan sosial yang cukup menghangat. Kata ‘minoritas’ yang ramai diperbincangkan tentu dalam konteks jumlah, khususnya jumlah penganut agama tertentu dan atau juga suku tertentu. Dalam demokrasi yang ideal, istilah ‘minoritas-mayoritas’ seharusnya tidak pernah ada bahkan dipertentangkan. Semua individu sama kedudukan dan suaranya. Entah latar belakang agamanya, sukunya, status ekonominya, dan lain-lain. Tapi realitanya, sekat ‘minoritas-mayoritas’ dalam konteks primordialisme masih ada di masyarakat Indonesia. Kadarnya saja yang berbeda-beda antar daerah.

Dalam segala kekurangannya, label minoritas sebenarnya punya sisi positif juga. Salah satunya adalah akan mudah terekspos atau terlihat jika memang memiliki keunggulan. Bukan hanya di antara kalangan minoritas, tetapi juga melebihi kelompok mayoritas.

“Penahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29)

Kata ‘cakap’ disini jika digali lebih jauh sebenarnya memiliki arti: siap, rajin, tekun, dan cekatan. Untuk bisa berdiri di hadapan raja-raja atau para pemimpin atau para orang penting lainnya, maka kita memerlukan kualitas diri yang mumpuni, bukan ala kadarnya. Diperlukan kualitas yang cekatan, rajin, tekun, dan siap mengerjakan apapun yang dipercayakan. Jikalau hal-hal tersebut masih jauh dari diri kita, maka jangan harap kita bisa tampil di hadapan ‘raja-raja’.

Dua tokoh Alkitab yang bisa menggambarkan dengan tepat kualitas di atas adalah Yusuf dan Daniel. Mereka sama-sama berstatus minoritas, namun itu tidak membuat mereka minder. Mereka justru menunjukkan bahwa minoritas bisa memberi andil yang sama bahkan lebih dari kelompok mayoritas.

Mulai dari rumah Potifar, penjara, hingga istana Firaun, Yusuf menunjukkan kualitas yang sama. Kualitasnya lebih unggul dari pada yang lain, sehingga pemimpin-pemimpin di tiga tempat tersebut, Potifar, kepala penjara, dan Firaun percaya kepadanya. Mungkinkah kepercayaan yang besar itu diberikan kepada Yusuf kalau kualitas dirinya biasa-biasa saja?

Daniel juga, hidup di era tiga raja yang berbeda dengan rentang waktu ±65 tahun. Namun, selama itu pula ia tidak membuat kualitas dirinya redup bahkan hingga hari tuanya. Walau diduga tersisih paska Nebukadnezar digantikan oleh Belsyazar, tapi memori orang banyak akan keunggulannya tetap masih ada untuk menafsir penglihatan di pesta Belsyazar. Bahkan di era Darius pun, di usia yang sudah tidak muda lagi, Daniel diangkat menjadi 3 pejabat tinggi di bawah Darius. Kalau kualiatas Daniel biasa-biasa saja, apakah mungkin posisi-posisi penting dia duduki?

Lalu bagaimana kita bisa memiliki kualitas yang ‘cakap’ seperti Yusuf dan Daniel? Di luar penyertaan Tuhan dan komunitas yang mendukung, setidaknya ada 4 hal yang mereka lakukan dan itu bisa kita tiru juga.

Pertama, mau terus belajar terutama hal-hal yang baru. Pindah--walau terpaksa--ke dunia yang baru, jelas tidak mudah. Ada perbedaan budaya, bahasa, pekerjaan yang biasa dilakukan, hingga ilmu pengetahuan. Mau tak mau, Yusuf dan Daniel harus terus belajar untuk bisa beradaptasi atau ’survive’ di tempat baru atau pembuangan mereka.

Kedua, mau terus belajar hal-hal yang baru adalah baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita bisa menemukan apa keahlian kita. Yusuf dan Daniel memiliki keahlian khusus disamping kecerdasan mereka. Hal itu terbukti ketika mereka diingat oleh orang lain karena keahlian khusus mereka tersebut.

Ketiga, Yusuf dan Daniel tidak mudah menyerah. Kita bisa menemukan di Alkitab bahwa mereka berkali-kali berhadapan dengan ‘tembok’ kesulitan. Tapi mereka bisa melaluinya dengan cara mereka dan tentunya pertolongan Tuhan. Kesulitan bahkan kegagalan pasti terjadi, tapi lari dari kedua hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menerimanya, menghadapainya, dan mengatasinya. Menyalahkan kondisi hidup yang sulit dan kegagalan yang terjadi, sama saja seperti menyalahkan Tuhan. Kesulitan dan kegagalan hadir justru untuk membentuk kita menjadi pribadi yang semakin ‘cakap’ lagi. Emas tidak dihasilkan dari proses yang pendek dan suhu yang rendah, tapi sebaliknya.
Keempat, mampu melihat jauh ke depan dan mempersiapkan diri. Dalam konteks Yusuf dan Daniel, Tuhan membantu mereka melalui penglihatan dan pengertian. Lalu bagaimana dalam konteks kita? Sama, kita bisa melihat jauh ke depan juga dengan pertolongan Tuhan. Perubahan di sekitar kita pasti akan terjadi, khususnya di Indonesia. Dan, kita bisa ‘menebak’ perubahan apa yang akan terjadi di Indonesia, dengan melihat kondisi Indonesia sekarang dan membandingkannya dengan kondisi negara sekitar Indonesia dan dunia. Indonesia sekarang bukanlah negara maju ataupun terdepan. Jadi, pastinya Indonesia akan mengikuti trend perkembangan dunia yang sedang terjadi. Sehingga kita bisa melihat ke arah mana Indonesia akan bergerak dan kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15-16)

Tahun ini Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-72. Pembangunan yang sempat berjalan pelan, kini sedang berlari kencang demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kondisi seperti ini, Pricewaterhouse Coopers memprediksi bahwa di tahun 2030, Indonesia akan berada di posisi ke-5 dari 10 negara dengan ekonomi terbesar, di atas posisi Inggris, Jerman, dan Rusia.

Hai adik-adik siswa dan mahasiswa, berapa usia kalian di tahun 2030 nanti? Studi dan keahlian apa yang kalian miliki sekarang? Apakah pencapaian kalian sekarang dapat membawa kalian menjadi pemimpin masa depan Indonesia dan membawa Indonesia bukan hanya berlari kencang, tapi terbang tinggi?

Hai rekan-rekan alumni, berapa usia kita di tahun 2030 nanti? Masih sanggupkah kita menjadi berkat, bahkan pemimpin di tempat kita bekerja, terutama di bangsa ini? Bagaimana kita mempersiapkan keluarga, terutama anak-anak kita untuk bisa menjadi orang-orang yang cakap bagi bangsa Indonesia di masa depan?

Sebagai warga negara, kita patut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Bahkan kalau bisa dan jika Tuhan berkenan, menjadi pemimpin di dalam pembangunan tersebut. Hingga 2030 nanti kita mungkin masih mendapatkan label minoritas. Tapi, mari kita melihat hal tersebut sebagai penyemangat untuk berkontribusi lebih bagi Indonesia. Label minoritas kita pakai sebagai penyadar bahwa kita bukan orang Kristen yang kebetulan lahir di Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang secara sadar memilih Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Hendaknya setiap kontribusi kita sebagai minoritas bisa terlihat di bangsa ini dan menjadi kemuliaan bagi Bapa yang ada di Surga.

(Dimuat di Oratio edisi Agustus 2017)

Dicari! Pemimpin Yang Berintegritas, Mengasihi, dan Bervisi

Bukankah kita sudah merdeka? Tetapi, kok kita masih saja terbelenggu oleh kemiskinan dan  penderitaan yang tidak habis-habisnya? Bukankah saatnya masa membangun dan memperbaiki  kondisi bangsa yang sudah kacau balau? Bukankah sangat dibutuhkan para pemimpin yang memiliki keadilan,  belas kasihan, dan kesetiaan? Sungguh! Betapa sulitnya menemukan para pemimpin yang melayani dan bukan melayani kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan orang lain, kepentingan rakyat banyak, kepentingan bangsa dan negara kita (Flp 2:3-4), pemimpin-pemimpin yang memiliki kasih dan kerelaan berkorban seperti Yesus (Flp 2:6-8). Sulit sekali menemukan  pemimpin-pemimpin yang sejati! Ada sebuah definisi pemimpin yang cukup baik, yakni : “Who is a leader” Leader is who knows the way (punya visi). Leader is who shows the way (mampu memperlihatkan visi dan memotivasi orang untuk menuju visi itu), leader is who goes the way (dia sendiri mampu melakukan visinya).

Di manakah kita dapat menemukan orang-orang yang demikian? Jawabannya sederhana : di gereja. Yang dimaksudkan dengan gereja bukanlah bangunan secara fisik, melainkan sebagai kumpulan orang percaya atau persekutuan orang beriman. Definisi gereja dalam Alkitab disajikan dalam metafora garam dan terang (Mt.5:13-16). Artinya gereja perlu masuk dan meresap ke dalam masyarakat. Persekutuan gereja adalah demi penyebarannya : membina diri ke dalam agar bisa lebih baik melayani ke luar. Gereja terpanggil untuk berpartisipasi aktif dalam sejarah kehidupan dunia, dan bukan hanya sibuk dengan kekudusan dan pelestarian identitasnya saja. Gereja tidaklah perlu berpolitik untuk mendapatkan pengaruh. Gereja akan memiliki kuasa jika ia menjadi dirinya sendiri serta berjalan sesuai dengan kekuatan keyakinan dan kemurnian tujuannya. Otoritasnya ada pada kapasitasnya untuk mengajak orang lain percaya pada integritas propagandanya dan bukan pada kepemilikan kuasa politik dan merendahkan diri sebagai sebuah kekuatan politik.

Mengapa harus di persekutuan orang beriman? Karena di sanalah tempat pendidikan, pembinaan, dan penggemblengan anak-anak Tuhan sehingga menjadi seorang pribadi yang berintegritas, berjiwa seorang pelayan yang rendah hati, dan mengasihi sesama manusia. Di sekolah dan di kampus, kita mengenal persekutuan orang beriman dengan nama PSK (Persekutuan Siswa Kristen) dan PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sebagai wadah yang mempersiapkan pribadi-pribadi yang dilayani menjadi alumni siswa dan mahasiswa yang akan menjadi garam dan terang dunia di tengah-tengah keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh sebab itu, misi penginjilan, pemuridan, pelipatgandaan, dan pengutusan (Mt.28:19-20) mutlak dikerjakan dengan kesungguhan, ketekunan, dan kerja keras yang terbaik.

Kesetiaan dan ketekunan melakukan suatu tugas, keberanian untuk berbeda, dan kerelaan untuk membayar harga demi suatu panggilan hidup telah nyata menjadi fondasi yang telah ditanamkan dan dihidupi dalam PSK dan PMK. Hal-hal inilah yang tidak dimiliki oleh pemimpin-pemimpin kita sekarang, dan bahkan kelihatannya semakin jauh dari pola hidup seperti itu, Jika demikian, kepada siapa kita berharap untuk menghasilkan pemerintahan atau wakil rakyat yang baik dan bersih? Hanya kepada Allah jawabannya. Kita doakan agar Allah terus mengaruniakan hati nurani dan pikiran yang bersih kepada para pemimpin kita mulai dari pusat hingga daerah. Patut diingat, Allah juga sedang ‘berharap’ dan ‘mengandalkan’ kita, khususnya alumni yang sudah dibina dan dipersiapkan sejak di PMK, yang jumlahnya ribuan di persada Nusantara ini. Oleh karena itulah, penulis sebagai alumni melihat betapa signifikan/penting-nya kehadiran Kamp Kepemimpinan Siswa Jakarta (KKSJ) 1-4 Oktober 2005, Retret Koordinator Mahasiswa (RK) IX pada 17-21 Agustus 2005,    dan Kamp Nasional Alumni (KNA) 1-5 September 2005, yang akan datang ini sebagai momentum penting untuk mengobarkan api pelayanan dan semangat penyerahan diri siswa, mahasiswa, dan alumni dalam bidang atau profesi masing-masing sehingga dapat   membawa perubahan sosial, moral, dan spiritual bagi bangsa dan negara tercinta ini. Kita sangat mengharapkan agar baik siswa, mahasiswa, dan alumni mengalami pembentukan dalam Firman Tuhan sehingga menjadi pemimpin-pemimpin yang berintegritas, mengasihi, dan bervisi.

Maukah kita menjadi pribadi-pribadi yang demikian? Mari kita perjuangkan bersama-sama. Kiranya Tuhan menyertai kita. Amin.

May we be a people, a people of integrity
Being who we say we are and doing what we say
May we a people, a people with humility
Reconciled to God and man, in Jesus’ name

Reff :

Bring Your healing to the nation
Through our lives and through our hands
Bring Your healing to the nation, dear Lord
Change our lives and change our land

May we be a people, a people mending broken lives
Giving hope to broken world by the grace of God
May we be a people, a people serving God and man
Bringing love and dignity, in Jesus’ name

May we be a people, a people of sincerity
Unafraid and unashamed speaking truth in love
May we be a people, a people of fidelity
Trusting God for miracle, in Jesus’ name

Memilih Sebagai Hak Politik

Sejauh ini, partai politik belum berhasil dalam melakukan kaderisasi. Kaderisasi cenderung karbitan. Ada kader yang tidak jelas kualitasnya. Partai lebih suka menempuh jalan pintas dengan mencalonkan incumbent atau sosok dari luar partai. Pertarungan sengit terjadi di antara (pro-)status quo dan yang menginginkan perubahan. Namun, perubahan itu belum tentu menyentuh kesejahteraan rakyat. Mungkin hanya aktor politiknya saja yang berubah. Nasib bangsa tetap sama. Dari banyaknya calon, segera tampak para politisi kita masih belum bisa menyingkirkan egoismenya. Mereka tidak suka mengarahkan suara konstituen agar mengerucut kepada pilihan yang lebih baik demi masa depan bangsa. Sikap kenegarawanan masih langka.

Lebih buruk lagi, tak tampak upaya partai untuk mengikat kandidat dalam suatu kontrak politik untuk mereformasi birokrasi, memberantas KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), atau membuahkan kebijakan yang memihak kepentingan rakyat kecil. Mekanisme pemilihan boleh langsung, tetapi rakyat seperti membeli kucing dalam karung. Partai terasa jauh dari aspirasi masyarakat. Pesta demokrasi hanya menjadi pestanya parpol atau elite politik, bahkan pestanya politisi busuk. Rakyat diposisikan sebagai penggembira. Usai pesta, elite politik sibuk bagi-bagi hasil kekuasaan. Tinggal rakyat menggigit jari. Bukan pesta rakyat.

I. Harus memilih?

Dapat dimengerti, sebagian warga cenderung tidak memakai hak pilihnya (golput). Mereka merasa tidak sreg dengan pilihan yang ada. Jika tetap memilih, mereka merasa ikut bersalah secara moral. Memang memilih pada dasarnya adalah hak warga negara, bukan kewajiban. Tingginya angka golput harus dibaca sebagai peringatan bagi figur terpilih kelak bahwa mereka terpilih disertai banyak catatan. Maka, skeptisisme golput bisa menjadi cambuk untuk lebih berprestasi. Karena itu, yang menang tidak perlu jumawa. Pemenang harus menepis keraguan golput dengan bukti yang tidak mengecewakan.
Namun, berapa pun banyaknya mereka yang melepaskan hak pilih, tetap akan ada yang terpilih. Pilihan itu ditentukan mereka yang memakai hak pilihnya. Apakah orang yang golput bisa menerima siapa saja yang bakal terpilih? Jika yang terpilih adalah calon-calon yang tidak bisa diterimanya, sebenarnya ada alasan baginya untuk memilih calon (yang tidak ideal di matanya) yang tidak ditolaknya jika orang lain memilihnya. Jika tidak ada figur politisi yang cukup baik di mata orang tadinya akan golput, setidak-tidaknya ada yang lebih baik di antara yang kurang baik itu. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Ada alasan untuk tidak golput.

Pemilih harus pandai menjatuhkan pilihan. Kampanye politik biasanya menjual citra dan mengusung tema-tema yang layak jual. Politisi memanfaatkan keawaman pemilih dan menjual kesan seolah-olah merekalah yang paling peduli nasib bangsa. Seolah-olah merekalah yang paling mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Begitulah cara mengambil hati rakyat yang didekati saat kampanye namun kemudian dilupakan.

Agar tidak terbuai dan termakan janji-janji kosong, pakailah hak pilih dengan bertanggung jawab. Cermati rekam jejak politisi atau partai. Apakah kata dan laku mereka konsisten? Masih ada calon yang berkualitas dan belum terkontaminasi mentalitas KKN. Mereka tersebar di partai besar hingga kecil. Kita juga perlu mempertimbangkan rekam jejak calon sebelum atau selama mengemban jabatan publik, perilakunya semasa kampanye, partisipasinya dalam melanggengkan praktik KKN, akuntabilitasnya kepada rakyat.

Layak pilih figur politisi berintegritas. Di tengah kesulitan ekonomi, layak pilih figur yang mau berkeringat untuk negara dan bangsa. Politisi yang baik memperjuangkan tata laksana pemerintahan (good governance) dan pro-pemberantasan korupsi. Pertanyaan besar yang harus dijawab pemimpin terpilih adalah apakah akan terjadi perubahan substansial, apakah birokrasi lebih bersih dan sigap dalam melayani rakyat, apakah layanan publik lebih berkualitas, apakah antre kebutuhan pokok masih menjadi pemandangan umum, apakah jalan raya tetap rusak tak terurus, apakah banjir tetap melanda.

Kita juga harus cerdik dalam menyalurkan suara, khususnya terkait kebijakan ambang batas bagi penghitungan kursi di DPR (parliamentary threshold) dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008. Menurut pendapat para pakar politik, yang bakal lolos ke Senayan paling banyak caleg dari sepertiga jumlah partai peserta pemilu peraih suara terbanyak. Suara pemilih di luar itu berarti hangus.

II. Harus seagama?

Politisi berkualitas tidak memiliki korelasi langsung dengan penghayatan agamanya. Yang dicari adalah wakil rakyat dan pemimpin bangsa yang kompeten menjalankan fungsinya, yang beragama secukupnya tetapi berkelas dalam memimpin dan tidak diskriminatif. Musuh bersama kita adalah sergapan kemiskinan yang dalam jangka panjang mematikan. Jika kita terus mengedepankan keumatan dan mengabaikan spirit kebangsaan, tiada cukup kekuatan kita menghadapi musuh yang mematikan itu. Jika bangsa sejahtera, umat di dalamnya pasti sejahtera.

Pemimpin bangsa bukan pemimpin umat. Sebagian kecil kriterianya mungkin beririsan, namun sebagian besar tidak cocok. Panggung politik Indonesia harus dipenuhi orang yang berorientasi kebangsaan. Maka, pemilih jangan sampai terjebak dalam primordialisme, mencampuradukkan antara kepentingan umat dan bangsa.

Kebangkitan umat tidak serta-merta kebangkitan bangsa yang heterogen. Kebangkitan agama-agama di Indonesia belum berdampak positif terhadap bangsa, malah dalam arti tertentu menjadi faktor kemunduran hidup berbangsa. Agamawan lebih tertarik mengembangkan teologi yang menguatkan identitas kelompok. Teologi yang berkarakteristik aliran. Dari umat untuk umat, bukan dari umat untuk bangsa. Bangsa direduksi menjadi umat. Kekitaan (inklusif) merosot menjadi kekamian (eksklusif). Kekamian dibayangi kehadiran liyan sebagai saingan. Komunitas-komunitas berbeda hidup berdampingan namun tak bersinggungan (monokulturalisme majemuk), tak saling sapa dalam konteks berbangsa (multikulturalisme).

Seabad kebangkitan nasional membuktikan kebangsaan melemah dan primordialisme menguat. Kesukuan, kedaerahan, dan sentimen keagamaan bersaing dengan nasionalisme. Eksklusivisme merupakan reaksi atas hilangnya dimensi manusiawi dalam ekonomi pasar bebas. Nilai sekuler pasar mendegradasi kemanusiaan. Karena itu, ikatan-ikatan primordial ditegaskan kembali dan menjadi asilum sosial. Elite politik di pusat maupun daerah memainkan isu primordial untuk kepentingan politik jangka pendek. Tujuannya tidak lain untuk menaikkan popularitasnya di mata calon pemilih.

Propaganda partai berasas agama adalah memperjuangkan kesejahteraan umat. Agama dipropagandakan mampu menyelesaikan persoalan bangsa, padahal kesalehan sosial roboh di mana-mana. Umat didorong menjadi fanatik seolah-olah fanatisme berkorelasi dengan kesejahteraan. Maraklah simbol dan pernak-pernik agama. Stan promosi teologi keumatan bermunculan di ruang publik tanpa pintu dialog. Kesucian agama yang notabene ciptaan manusia diutamakan melebihi kesucian harkat kemanusiaan yang notabene ciptaan Tuhan.

Teologi keumatan membuat antarumat tidak menjunjung toleransi. Umat tersandera teologi yang membuat mereka tidak leluasa memberi selamat hari raya kepada umat lain. Umat mudah terjangkit rasa curiga, reaktif, bahkan agresif. Republik demokratis pun tidak menjaga jarak dalam hal keyakinan agama. Negara pun terjebak dalam wacana teologi keumatan. Fungsi publik polisi tersandera saat anarkisme diusung atas nama agama. Republik Indonesia dibangun di atas kebangsaan. Bangunan republik menjadi goyah saat ikatan berbangsa menjadi lemah. Budaya toleransi menjadi luntur. Kohesi sosial menjadi lemah.

Jika bangsa yang majemuk seperti Indonesia terus merasa nyaman dengan pengotak-ngotakan primordial, mustahil kita bangkit dari keterpurukan. Sebagai bangsa religius, agama dapat menjadi berkah namun juga dapat menghalangi kemajuan bangsa. Dibutuhkan kelapangan hati dan tekad bulat semua pihak untuk melakukan terobosan dalam berteologi dan kehidupan berbangsa. Berpikir dan bertindak dalam koridor teologi kebangsaan berarti meletakkan kepentingan dan kesejahteraan bangsa di atas kepentingan kelompok.

III.  “Quid pro quo”

Berbeda dari politik konvensional, kampanye modern bertumpu pada periklanan dan media. Pengeluaran terbesar dalam kampanye adalah iklan politik untuk menggiring opini publik agar memilih kandidat tertentu. Kampanye padat modal itu akhirnya adalah soal berapa banyak iklan politik bisa dibeli. Maka, sibuklah tim sukses dan partai pendukung menjadi broker politik yang menghubungkan kepentingan penguasa dan pengusaha sebagai penyumbang potensial.

Di negeri yang maju penegakan hukumnya, sumbangan yang memihak kandidat tertentu diatur dalam regulasi Komisi Pemilihan Umum, menyangkut besaran jumlah dan siapa yang boleh menyumbang hard money. Sumbangan untuk kegiatan kampanye yang bersifat mengedukasi masyarakat dan tidak memihak kandidat tertentu di luar regulasi itu (soft money).

Indonesia baru belajar berdemokrasi. Celah hukum regulasi sumbangan dana kampanye amat lebar. Kebanyakan penyumbang besar tak disebut namanya. Kalaupun disebut, sering fiktif. Berlakulah prinsip quid pro quo (sesuatu untuk sesuatu). Memberi sesuatu untuk menerima sesuatu apakah itu dalam bentuk konsesi, tender, kelanjutan relasi bisnis, proyek, (perubahan) muatan suatu kebijakan. Sumbangan dari pengusaha besar bisa membeli pengaruh, mengamankan kontrak besar, atau melindungi kepentingannya. Maka, meski dipilih secara demokratis, pejabat terpilih yang lebih merasa berutang kepada donatur dalam praktiknya cenderung mengakomodasi kepentingan pengusaha. Terjadilah pembajakan demokrasi.

IV. Sukses rakyat?

Akhirnya, ajang pemilu perlu menjadi sukses rakyat, bukan hanya sukses politisi dan pemerintah sebagai penyelenggara pemilu. Pesta demokrasi harus menjadi pestanya rakyat. Maka, yang sedikit tercerahkan, seperti kaum melek politik, lembaga swadaya masyarakat dan media yang netral, harus menolong rakyat agar cerdas memilih. Rakyat dapat membuat hasil pemilu menjadi lebih berkualitas. Pemilu demokratis bukan cuma soal prosedur, tetapi juga hasil. Kualitas hasil pemilu ini harus lebih baik dari pemilu sebelumnya. Karena itu, tidak salah mengatakan kunci sukses pemilu juga terletak di tangan masyarakat pemilih. Semoga yang terpilih kelak setidak-tidaknya mencerminkan aspirasi rakyat untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Pembaruan Kristen untuk Indonesia Baru

“Demikian  juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru  ke dalam  kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur  itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi, anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Markus 2:22).

Tak dapat dipungkiri, Indonesia adalah negara dan bangsa yang kini dalam keadaan sangat terpuruk. Sementara kondisi moneter-ekonomi dalam negeri yang dilanda krisis sejak pertengahan 1997 belum betul-betul pulih, gejolak demi gejolak di pelbagai bidang lainnya terus-menerus terjadi. Di tengah kedua problema besar itu, bencana pun datang silih-berganti, seakan ingin mempercepat kehancuran negeri ini. Wajar saja jika kita pesimis menatap masa depan Indonesia. Tapi, dengan mengimani bahwa Tuhan senantiasa mendengar doa-doa syafaat kita selaku orang percaya, tak berlebihan rasanya jika kita tetap optimis menatap masa depan negara dan bangsa yang dikasihi-Nya ini. Jadi, alih-alih terpaku pada aneka problema di depan mata, lebih arif lah memandang secercah harapan di balik kelabunya awan yang berarak-arakan di atas negeri ini.

Benar, negara dan bangsa ini memang seribu-satu masalahnya. Tapi ingatlah juga, pintu-pintu perubahan menuju kemajuan itu sudah terbuka satu persatu. Memang, ada banyak kelompok lain yang saling berlomba melintasi pintu-pintu perubahan itu, demi mewujudkan setumpuk agenda yang mereka rancang untuk kepentingan grup-sentris mereka sendiri. Tak heran jika di mana-mana kini kita terkepung dengan pelbagai peraturan dan perundang-undangan yang bernuansa aneh-sekaligus-usang. Tak heran pula jika secara legal-administratif daerah-daerah di negara ini berkembang kian banyak, padahal secara teritorial justru kian menyusut. Memang, yang sesungguhnya terjadi hanyalah perlombaan mengejar harta dan tahta belaka. Dengan dalih pemekaran, padahal yang berlangsung adalah penggerusan. Akibatnya, negeri ini pun mengalami involusi – sebuah proses perkembangan ke dalam yang dipaksakan, sehingga kian lama kian menyesakkan. Di satu sisi ada yang mengeksploitasi, di sisi lain ada yang teralienasi. Yang kuat tinggal menunggu waktu menikmati kemenangan, tapi yang lemah tak rela termarjinalisasi begitu saja. Maka, resistensi pun merebak di mana-mana. Itulah titik-nadir Indonesia – yang mungkin akan menyusul jejak Uni Soviet.

Namun, mungkin mimpi-buruk itu tak akan menjadi kenyataan, jika Kristen turut berpartisipasi aktif di dalam guliran proses perubahan tersebut. Terkait itu, maka renungkanlah baik-baik: “berpartisipasi aktif”, tidakkah itu berarti “memimpin” dan “bukan sekedar ikut-ikutan”? Sampai di sini, mungkin muncul pertanyaan: bagaimana mungkin Kristen yang minoritas secara kuantitatif ini memimpin proses perubahan Indonesia menuju masa depan yang gemilang? Mungkin ada benarnya juga (meski tak absolut) pesimisme semacam itu, jika yang dimaksud “memimpin” adalah menjadi pemimpin secara struktural-institusional semisal menjadi presiden atau wakil presiden – seperti yang dulu pernah diimpikan oleh salah satu partai Kristen. Tapi, bukankah Tuhan telah berjanji untuk mengangkat kita menjadi “kepala dan bukan ekor” (Ulangan 28: 13)? Bukankah ayat ini yang dulu selalu dijadikan landasan partai Kristen itu untuk memimpikan posisi “orang nomor satu” di negeri yang mana Kristen menjadi minoritas ini? Lalu, bagaimana kenyataannya sekarang?

Saya tak sekali-kali bermaksud mengekspos “kesalahan” partai ini di masa lalu.  Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengajak kita memperbarui paradigma usang, bahwa “Kristen yang memimpin” itu selalu identik dengan posisi atau jabatan. Jelas bukan begitu maknanya. Melainkan, “Kristen yang memengaruhi orang-orang lain”. Begitulah seharusnya menjadi “kepala”: yang memberi arahan, yang menunjukkan jalan, dan yang sejenisnya.   

Persoalannya, mampukah Kristen menjadi seperti itu? Harus mampu, itulah jawabannya. Ingatlah kisah Yosua, yang dijanjikan Tuhan untuk menjadi pemimpin dan memperoleh kemenangan begitu gemilangnya (Yosua 1: 3-5). Untuk itu, Tuhan memberikan syarat: kuatkan dan teguhkan hati, bertindak hati-hati, jangan menyimpang ke kiri-kanan, merenungkan firman Tuhan siang-malam, jangan kecut dan tawar hati (Yosua 1: 6-9).

Nah, inilah soalnya. Mungkin, di dalam hal-hal itu, Kristen memang perlu memperbarui paradigma-paradigmanya yang sudah banyak usang. Sebutlah, misalnya, ketakutan kita untuk berseru keras menyuarakan kebenaran. Bukankah selama ini kita lebih memilih bersuara perlahan saja? Itu pun jangan melulu hanya kebenaran tentang keselamatan surgawi. Suarakanlah juga kebenaran-kebenaran di bidang ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya. Sebab, pikirkanlah baik-baik hal ini: Indonesia tak serta-merta berubah menjadi negara dan bangsa yang berkeadilan, yang sejahtera lahir-batin, yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, yang minim praktik korupsinya, yang aman dan tenteram, dan yang sejenis itu, hanya dengan menambah banyak orang-orang yang menerima keselamatan surgawi itu.

Bukankah gerakan pekabaran Injil yang meluas dan intensif di Indonesia selama ini sudah membuktikan kurangnya dampak positif dari upaya mewartakan Kabar Sukacita itu terhadap perbaikan dan pemulihan negara dan bangsa yang amburadul ini? Maka, di dalam hal ini pun Kristen perlu memperbarui paradigma. Sadarilah bahwa pekabaran Injil tak sekali-kali boleh dan dapat dijadikan alternatif bagi gerakan-gerakan mereformasi negara dan bangsa ini terus-menerus. Itu berarti, Kristen tak hanya harus bersuara lantang menyuarakan kebenaran dan keadilan, tapi juga berjuang dengan aksi-aksi konkret di pelbagai arena kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Untuk itu, Kristen harus berada di mana-mana, berbuat apa saja yang kiranya baik dan berdampak positif.  

Dalam kaitan itu pula maka paradigma usang kita yang lainnya pun perlu diperbarui. Yang dimaksud dengan itu adalah, berjejaringlah dan bersinergilah seluas-luasnya di dalam arak-arakan perjuangan ini. Baik dengan sesama yang seiman, juga dengan sesama yang tak seiman. Untuk itu, semua sikap phobia terhadap umat lain perlu dibuang jauh-jauh. Jadikanlah mereka kawan, bukan lawan. Sering-seringlah berdialog, tapi bukan dalam hal ajaran, melainkan dalam hal etika. Inilah yang niscaya membuka pintu-pintu untuk terjalinnya relasi yang lebih baik dan yang pada gilirannya menciptakan peluang-peluang untuk bekerja sama demi mewujudkan agenda-agenda mereformasi negara dan bangsa ini.

Kalau mau diurai lebih jauh dalam inci yang rinci, rasanya masih banyak paradigma usang Kristen yang perlu diperbarui terlebih dulu untuk dapat berpartisipasi aktif membangun Indonesia Baru di masa depan. Tapi, pada intinya, hakikat pembaruan yang sejati itu tercakup dalam perumpamaan Yesus tentang “kirbat baru dan anggur baru”. Dengan kirbat (kantong yang terbuat dari kulit), yang dimaksud adalah sistem: yang mencakup struktur, pranata atau institusi, peraturan, mekanisme operasional dan saling hubungan di antara unsur-unsur tersebut. Akan halnya anggur (baru), yang dimaksud adalah orang-orang baru: orang-orang yang tidak mengidap penyakit gila harta, rakus kuasa, kemaruk jabatan, yang suka menghalalkan segala cara dan kekerasan demi mencapai tujuan, dan yang sejenisnya.

Tapi, siapa gerangan yang memerlukan kirbat dan anggur baru itu? Alih-alih menunjuk orang lain, lebih bijaklah menunjuk diri sendiri. Sebab, kitalah yang memang harus diperbarui. Karena kita masih takut bersuara lantang. Karena kita lebih gemar mengurusi yang itu-itu saja. Karena kita lebih suka menyerahkan persoa­lan pengurusan negara dan bangsa ini kepada segelintir orang -- yang kita elu-elukan sebagai “tokoh” padahal korup. Karena kita abai bahwa reformasi justru harus menjadi fokus Kristen, sesuai prinsip “semper reformanda ecclesia reformata” -- gereja yang reformis adalah yang terus-menerus mereformasi dirinya. Dan bukankah gereja itu adalah kita sendiri?

(Dimuat di Oratio Edisi Agustus 2006)

Model Kepemimpinan Kristus

…untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan proses panjang yang harus dilalui dengan perjuangan, pengalaman, pembelajaran, ketekunan dan kerja keras, dan harus ditempuh dengan cara-cara yang benar.

Krisis moneter tahun 1997 akibat turunnya secara drastis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengakibatkan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sebagai contoh di bidang ekonomi: banyak pengusaha dan pemilik bank mengalami kebangkrutan karena utang mereka dalam mata uang dolar menjadi lima kali lipat lebih besar dan modal usaha mereka menciut secara drastis. Utang pemerintah dan swasta kepada luar negeri menjadi berlipat ganda dan pemerintah tidak sanggup lagi memberi subsidi untuk kebutuhan pokok rakyat yang begitu besar dan subsidi harus dikurangi. Krisis ekonomi itu disusul dengan krisis politik, krisis hukum, krisis moral, krisis budaya dan krisis keamanan yang lazim disebut dengan krisis multidimensi.

Namun, krisis multidimensi masih ditambah lagi dengan krisis kepercayaan. Masyarakat makin hilang kepercayaannya kepada pemimpin karena hilangnya roh kepemimpinan sejati dari sebagian besar pemimpin. Bangsa Indonesia menghadapi suatu situasi berat karena selain menghadapi krisis multidimensi, mereka juga kehilangan kepercayaan kepada para pemimpinnya karena lebih mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat. Padahal kepemimpinan sejati merupakan harapan dan benteng terakhir bangsa ini untuk membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis-krisis lainnya.

Seperti apakah model kepemimpinan sejati itu? Dan, dari Siapakah pemimpin-pemimpin bangsa kita bisa belajar tentang kepemimpinan sejati? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, marilah kita belajar dari Kristus, Sang Pemimpin Sejati. Model kepemimpinan Kristus dalam Yohanes 12:23-26 ditandai dengan tiga hal, yaitu :

  • KASIH adalah motivasi mendasar dalam kepemimpinan Yesus. Gambarannya adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati. Hal ini menunjukkan bagaimana Yesus membicarakan tentang kematian-Nya. Kematian-Nya di kayu salib merupakan perwujudan KASIH-Nya yang sangat besar (Yoh.3:16) dengan memberikan hidup-Nya sendiri untuk menebus dosa-dosa manusia. Diri-Nya siap memberi hidup-Nya dengan KASIH yang penuh pengorbanan.

He gave His life with His sacrificial love,

He gave His life to ransom my soul.

  • KETELADANAN merupakan pengaruh kunci dalam kepemimpinan Yesus. Keteladanan dalam ketaatan kepada kehendak Bapa-Nya (Yoh.4:34). Baik dalam pengajaran maupun perbuatan nyata, Yesus memberikan contoh diri-Nya sendiri. Yesus konsisten atas apa yang Dia katakan dan Dia lakukan, menjadi seorang pribadi yang berintegritas: tak ada jarak antara apa yang Dia lakukan dan katakan. Contohnya, di Yohanes 13. Yesus memberi teladan kehambaan-Nya kepada murid-murid-Nya. ”Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yoh.13:14-15).
  • ORIENTASI dari kepemimpinan Yesus adalah menghasilkan banyak buah. Contoh kepemimpinan yang demikian disebut dengan “Fruitful Leadership” yaitu kepemimpinan yang berorientasi kepada perubahan hidup dan keselamatan jiwa banyak orang. Fruitful Leadership sangat bertolak belakang dengan kepemimpinan duniawi yang berorientasi kepada kesejahteraan pribadi. “Leadership is not about status. It’s about the function and purpose.”

Apa yang Tuhan Yesus “tuntut” dari kita? Dalam ayat 26 Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Tuhan Yesus meminta kita untuk mengikuti Dia karena di mana Yesus berada, di sana pengikut-Nya berada.

Lalu, apa yang dapat kita harapkan dari para pemimpin bangsa kita sekarang? Kita berharap mereka meniru model kepemimpinan Kristus. Model kepemimpinan yang ditandai dengan kasih, ketaatan, dan berorientasi jiwa. “Not power leadership model, but Jesus leadership model.”

Mari kita doakan kiranya Tuhan dalam wahyu umumnya menganugerahkan hal-hal itu kepada pemimpin-pemimpin bangsa kita tercinta.

(Dimuat di Oratio Edisi Agustus 2004)