Minoritas yang Berdampak

Istilah ‘minoritas’, beberapa waktu lalu sempat ramai muncul di masyarakat. Namun, bukan hadir dalam konteks yang bagus atau kondusif, melainkan dalam hingar-bingar gesekan sosial yang cukup menghangat. Kata ‘minoritas’ yang ramai diperbincangkan tentu dalam konteks jumlah, khususnya jumlah penganut agama tertentu dan atau juga suku tertentu. Dalam demokrasi yang ideal, istilah ‘minoritas-mayoritas’ seharusnya tidak pernah ada bahkan dipertentangkan. Semua individu sama kedudukan dan suaranya. Entah latar belakang agamanya, sukunya, status ekonominya, dan lain-lain. Tapi realitanya, sekat ‘minoritas-mayoritas’ dalam konteks primordialisme masih ada di masyarakat Indonesia. Kadarnya saja yang berbeda-beda antar daerah.

Dalam segala kekurangannya, label minoritas sebenarnya punya sisi positif juga. Salah satunya adalah akan mudah terekspos atau terlihat jika memang memiliki keunggulan. Bukan hanya di antara kalangan minoritas, tetapi juga melebihi kelompok mayoritas.

“Penahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29)

Kata ‘cakap’ disini jika digali lebih jauh sebenarnya memiliki arti: siap, rajin, tekun, dan cekatan. Untuk bisa berdiri di hadapan raja-raja atau para pemimpin atau para orang penting lainnya, maka kita memerlukan kualitas diri yang mumpuni, bukan ala kadarnya. Diperlukan kualitas yang cekatan, rajin, tekun, dan siap mengerjakan apapun yang dipercayakan. Jikalau hal-hal tersebut masih jauh dari diri kita, maka jangan harap kita bisa tampil di hadapan ‘raja-raja’.

Dua tokoh Alkitab yang bisa menggambarkan dengan tepat kualitas di atas adalah Yusuf dan Daniel. Mereka sama-sama berstatus minoritas, namun itu tidak membuat mereka minder. Mereka justru menunjukkan bahwa minoritas bisa memberi andil yang sama bahkan lebih dari kelompok mayoritas.

Mulai dari rumah Potifar, penjara, hingga istana Firaun, Yusuf menunjukkan kualitas yang sama. Kualitasnya lebih unggul dari pada yang lain, sehingga pemimpin-pemimpin di tiga tempat tersebut, Potifar, kepala penjara, dan Firaun percaya kepadanya. Mungkinkah kepercayaan yang besar itu diberikan kepada Yusuf kalau kualitas dirinya biasa-biasa saja?

Daniel juga, hidup di era tiga raja yang berbeda dengan rentang waktu ±65 tahun. Namun, selama itu pula ia tidak membuat kualitas dirinya redup bahkan hingga hari tuanya. Walau diduga tersisih paska Nebukadnezar digantikan oleh Belsyazar, tapi memori orang banyak akan keunggulannya tetap masih ada untuk menafsir penglihatan di pesta Belsyazar. Bahkan di era Darius pun, di usia yang sudah tidak muda lagi, Daniel diangkat menjadi 3 pejabat tinggi di bawah Darius. Kalau kualiatas Daniel biasa-biasa saja, apakah mungkin posisi-posisi penting dia duduki?

Lalu bagaimana kita bisa memiliki kualitas yang ‘cakap’ seperti Yusuf dan Daniel? Di luar penyertaan Tuhan dan komunitas yang mendukung, setidaknya ada 4 hal yang mereka lakukan dan itu bisa kita tiru juga.

Pertama, mau terus belajar terutama hal-hal yang baru. Pindah--walau terpaksa--ke dunia yang baru, jelas tidak mudah. Ada perbedaan budaya, bahasa, pekerjaan yang biasa dilakukan, hingga ilmu pengetahuan. Mau tak mau, Yusuf dan Daniel harus terus belajar untuk bisa beradaptasi atau ’survive’ di tempat baru atau pembuangan mereka.

Kedua, mau terus belajar hal-hal yang baru adalah baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita bisa menemukan apa keahlian kita. Yusuf dan Daniel memiliki keahlian khusus disamping kecerdasan mereka. Hal itu terbukti ketika mereka diingat oleh orang lain karena keahlian khusus mereka tersebut.

Ketiga, Yusuf dan Daniel tidak mudah menyerah. Kita bisa menemukan di Alkitab bahwa mereka berkali-kali berhadapan dengan ‘tembok’ kesulitan. Tapi mereka bisa melaluinya dengan cara mereka dan tentunya pertolongan Tuhan. Kesulitan bahkan kegagalan pasti terjadi, tapi lari dari kedua hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menerimanya, menghadapainya, dan mengatasinya. Menyalahkan kondisi hidup yang sulit dan kegagalan yang terjadi, sama saja seperti menyalahkan Tuhan. Kesulitan dan kegagalan hadir justru untuk membentuk kita menjadi pribadi yang semakin ‘cakap’ lagi. Emas tidak dihasilkan dari proses yang pendek dan suhu yang rendah, tapi sebaliknya.
Keempat, mampu melihat jauh ke depan dan mempersiapkan diri. Dalam konteks Yusuf dan Daniel, Tuhan membantu mereka melalui penglihatan dan pengertian. Lalu bagaimana dalam konteks kita? Sama, kita bisa melihat jauh ke depan juga dengan pertolongan Tuhan. Perubahan di sekitar kita pasti akan terjadi, khususnya di Indonesia. Dan, kita bisa ‘menebak’ perubahan apa yang akan terjadi di Indonesia, dengan melihat kondisi Indonesia sekarang dan membandingkannya dengan kondisi negara sekitar Indonesia dan dunia. Indonesia sekarang bukanlah negara maju ataupun terdepan. Jadi, pastinya Indonesia akan mengikuti trend perkembangan dunia yang sedang terjadi. Sehingga kita bisa melihat ke arah mana Indonesia akan bergerak dan kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15-16)

Tahun ini Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-72. Pembangunan yang sempat berjalan pelan, kini sedang berlari kencang demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kondisi seperti ini, Pricewaterhouse Coopers memprediksi bahwa di tahun 2030, Indonesia akan berada di posisi ke-5 dari 10 negara dengan ekonomi terbesar, di atas posisi Inggris, Jerman, dan Rusia.

Hai adik-adik siswa dan mahasiswa, berapa usia kalian di tahun 2030 nanti? Studi dan keahlian apa yang kalian miliki sekarang? Apakah pencapaian kalian sekarang dapat membawa kalian menjadi pemimpin masa depan Indonesia dan membawa Indonesia bukan hanya berlari kencang, tapi terbang tinggi?

Hai rekan-rekan alumni, berapa usia kita di tahun 2030 nanti? Masih sanggupkah kita menjadi berkat, bahkan pemimpin di tempat kita bekerja, terutama di bangsa ini? Bagaimana kita mempersiapkan keluarga, terutama anak-anak kita untuk bisa menjadi orang-orang yang cakap bagi bangsa Indonesia di masa depan?

Sebagai warga negara, kita patut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Bahkan kalau bisa dan jika Tuhan berkenan, menjadi pemimpin di dalam pembangunan tersebut. Hingga 2030 nanti kita mungkin masih mendapatkan label minoritas. Tapi, mari kita melihat hal tersebut sebagai penyemangat untuk berkontribusi lebih bagi Indonesia. Label minoritas kita pakai sebagai penyadar bahwa kita bukan orang Kristen yang kebetulan lahir di Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang secara sadar memilih Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Hendaknya setiap kontribusi kita sebagai minoritas bisa terlihat di bangsa ini dan menjadi kemuliaan bagi Bapa yang ada di Surga.

(Dimuat di Oratio edisi Agustus 2017)

Pengabdian Seorang Dokter

Seorang teman saya yang berprofesi sebagai dokter umum, memiliki seorang anak perempuan yang saat ini sedang mengambil fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta. Ia harus membayar biaya masuk sebesar 80 juta rupiah. Mula-mula ia keberatan dengan biaya sebesar itu. Namun, ketika menyadari bahwa biaya tersebut relatif murah dibandingkan perguruan tinggi lain, maka akhirnya ia ‘terpaksa’ menyekolahkan anaknya di sana. Luar biasa! Sungguh mahal biaya kuliah seorang calon dokter. Sangat tidak bisa dibayangkan sekarang bagaimana seorang PNS biasa dapat menyekolahkan anaknya untuk menjadi seorang dokter.

Terus terang, saya agak merasa heran bila fakultas kedokteran tetap menjadi salah satu fakultas favorit di masyarakat. Sebab, saya dengar di negara maju orang enggan sekolah kedokteran. Selain mahal, lama, dan berat mata kuliahnya, setelah lulus pun dihadang oleh tuntutan-tuntutan hukum. Bukan hal yang aneh bila terdengar selentingan bahwa di banyak rumah sakit berkeliaran orang-orang yang memanfaatkan kelengahan dokter untuk mencari uang. Dokter yang relatif ‘buta’ hukum dapat menjadi makanan empuk bagi orang-orang ini. Tingginya tuntutan hukum inilah yang menjadi salah satu alasan banyak orang di negara maju enggan menjadi dokter yang berisiko tinggi. Bahkan di Australia, perusahaan asuransi pun malas membiayai asuransi dokter kebidanan dan anestesi. Kalau pun ada, preminya amat tinggi. Apa dampaknya bagi masyarakat? Hal yang pasti adalah tingginya biaya kesehatan dan semakin renggangnya hubungan dokter dan pasien. Masyarakat menjerit karena biaya kesehatan amat mahal, tetapi di sisi lain para dokter juga terancam tuntutan hukum setiap saat.

Setelah lulus dari fakultas kedokteran yang melelahkan, seorang dokter muda harus memutuskan kemana ia selanjutnya. Bagi dokter baru yang kaya -- karena orangtuanya -- maka ia dapat langsung melanjutkan spesialisasi. Walaupun dengan biaya yang amat tinggi. Tidak heran bila terdengar informasi bahwa biaya masuk spesialisasi favorit berkisar 300 juta – 1 milyar. Sungguh jumlah rupiah yang amat besar.

Sedangkan bagi dokter yang modalnya pas-pasan maka ia akan bekerja di puskesmas atau buka klinik sendiri. Tingginya biaya hidup, apalagi bila sudah berkeluarga dan menyekolahkan anak, akan menyebabkan dokter yang penghasilannya pas-pasan melupakan mimpinya menjadi seorang dokter spesialis. Harapannya dan orang tuanya di masa awal kuliah, serta idealismenya saat mahasiswa untuk membantu orang miskin, menjadi sirna ketika ia bekerja sebagai dokter muda.

Di lain pihak, seorang dokter muda yang sudah mengabdi kepada masyarakat selama 3 tahun di daerah terpencil akan merasa iri terhadap rekan-rekannya yang bukan dokter -- yang seusianya sudah memiliki kehidupan yang mapan. Saya sendiri merasakan betapa tuanya saya ketika baru bisa bekerja secara benar saat berusia 33 tahun, yaitu saat lulus spesialisasi. Saya sudah menghabiskan waktu 6 tahun di fakultas kedokteran, 3 tahun bekerja di pedalaman, dan 4 tahun menjalani spesialisasi. Seorang teman yang mengambil bidang manajemen -- pada saat yang sama di usia sebaya -- sudah melanglang buana dan bekerja di perusahaan terkemuka.

Mengapa masih ada orang yang mau jadi dokter? Apakah para mahasiswa kedokteran masih mengharapkan dirinya kelak dapat menjadi dokter yang kaya? Kalau ia ingin kaya, apakah ada tempat baginya untuk mengabdi kepada masyarakat?

Di atas kertas atau sesuai logika sehat, maka seseorang akan dikatakan sejahtera bila memiliki pekerjaan yang mencukupkan kebutuhan hidupnya. Masalahnya, sulit bagi kita untuk menentukan kelayakan hidup. Contohnya, sewaktu kami belum punya uang cukup, kami merasa bahwa mobil Daihatsu Ceria sudah amat memuaskan. Kami puas dengan mobil tersebut. Namun, saat anak-anak mulai agak besar dan mobil tersebut mulai kekecilan, maka kepuasan kami terusik. Kami butuh mobil yang lebih besar. Oleh karena itu kami membeli mobil Xenia 1000 cc. Mula-mula kami juga senang dengan mobil tersebut. Mobil ini terasa luas, bertenaga lumayan besar, dan cukup irit. Tetapi ketika kami pindah ke Sumatera, dimana jalanan berbelok-belok, naik turun, maka kami merasa bahwa tenaga 1000 cc pun kurang. Kami merasa kepuasan kami terusik lagi. Jadi, sebenarnya seberapa besar tingkat kepuasan kami terhadap mobil? Apakah mobil kami saat ini cukup memuaskan sampai 5 tahun ke depan?

Saya merasa bahwa peningkatan kebutuhan seseorang terhadap kebendaan berlaku umum pada semua orang. Manusia cenderung tidak puas dengan miliknya sendiri. Mereka mau menguasai apa pun yang diingininya. Seorang Kristen pun tidak akan terlepas dari hasrat kemanusiaannya. Sepanjang hari dalam hidupnya, maka tingkat kepuasan pun akan terus bertambah. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak mendasarkan kebahagiaan pada tingkat kepuasan materi, sebab kebahagiaan tersebut tidak menentu (1 Tim. 6:17-19).

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa masih ada orang yang mau menjadi dokter? Jawabannya adalah karena ingin mengabdi kepada Tuhan dan sesama. Pengabdian tertinggi seseorang adalah pengabdian kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan membuat orang berbahagia, bahkan ada orang yang rela mati demi Tuhan. Dan, kematian pun dianggap sebagai puncak dari kebahagiaan itu sendiri. Pilot-pilot Jepang dalam perang dunia terdahulu merelakan dirinya mati demi pengabdiannya pada negara dan tuhannya. Mereka berbahagia mati melalui tindakan kamikaze (red: pengorbanan diri demi menjalankan tugas). Para martir Kristen pun rela mengorbankan dirinya bagi Kerajaan Allah. Mereka pun berbahagia menyongsong kematiannya. Kunci kebahagiaan mereka adalah pengabdian pada Tuhan dan sesama.

Pengabdian mempunyai nilai pengorbanan, penderitaan, harapan, dan kesetiaan. Pengabdian kepada Tuhan dan sesama membuat seorang dokter mampu membuang keinginan memuaskan diri semata. Mengapa? Karena ketertarikan kita pada kebendaan bersifat fana sedangkan pengabdian kepada Tuhan bersifat kekal. Kita tidak mungkin terus berbahagia dengan materi yang kita miliki.

Pengabdian kepada Tuhan memampukan kita untuk tetap menikmati hidup walaupun telah banyak mengorbankan diri. Mengapa? Karena keindahan hidup kita tidak tergantung pada seberapa banyak materi yang kita peroleh, sebab hidup kita telah difokuskan pada keinginan untuk menyenangkan Allah. Pengabdian kepada masyarakat membuat kita pun dapat menikmati hubungan antara dokter dan pasien yang tulus dan tidak dibatasi oleh status sosial. Hal ini membuat dokter dapat bekerja maksimal, entah di desa maupun di kota. Kebanggaan yang dirasakan seorang dokter bukan dalam jumlah uang tetapi kebahagiaan melihat kesembuhan pasien.

Di sinilah pentingnya para mahasiswa kedokteran diyakinkan, bahwa walaupun mereka sudah mengeluarkan banyak uang tetapi tidaklah tepat bagi mereka bila setelah menjadi dokter mereka berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya. Keterikatan kita pada kebendaan akan memperbudak diri kita. Mereka perlu mengabdikan dirinya kepada Tuhan, sehingga mereka siap ditempatkan di mana saja. Saya yakin bahwa pengabdian kepada Tuhan tidaklah sia-sia. Allah yang akan menolong kita untuk menemukan bentuk pengabdian kita dalam kehidupan sehari-hari. Hidup tanpa pengabdian kepada Allah adalah hidup yang kosong.

Ketika kita memahami arti pengabdian, maka kita pun akan mengerti bahwa Tuhan memanggil kita untuk mengabdikan hidup kepada-Nya, melalui pekerjaan atau pelayanan kepada masyarakat. Tuhan memanggil kita untuk melakukan pekerjaan baik.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef.2:10).

Pembaruan Kristen untuk Indonesia Baru

“Demikian  juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru  ke dalam  kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur  itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi, anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Markus 2:22).

Tak dapat dipungkiri, Indonesia adalah negara dan bangsa yang kini dalam keadaan sangat terpuruk. Sementara kondisi moneter-ekonomi dalam negeri yang dilanda krisis sejak pertengahan 1997 belum betul-betul pulih, gejolak demi gejolak di pelbagai bidang lainnya terus-menerus terjadi. Di tengah kedua problema besar itu, bencana pun datang silih-berganti, seakan ingin mempercepat kehancuran negeri ini. Wajar saja jika kita pesimis menatap masa depan Indonesia. Tapi, dengan mengimani bahwa Tuhan senantiasa mendengar doa-doa syafaat kita selaku orang percaya, tak berlebihan rasanya jika kita tetap optimis menatap masa depan negara dan bangsa yang dikasihi-Nya ini. Jadi, alih-alih terpaku pada aneka problema di depan mata, lebih arif lah memandang secercah harapan di balik kelabunya awan yang berarak-arakan di atas negeri ini.

Benar, negara dan bangsa ini memang seribu-satu masalahnya. Tapi ingatlah juga, pintu-pintu perubahan menuju kemajuan itu sudah terbuka satu persatu. Memang, ada banyak kelompok lain yang saling berlomba melintasi pintu-pintu perubahan itu, demi mewujudkan setumpuk agenda yang mereka rancang untuk kepentingan grup-sentris mereka sendiri. Tak heran jika di mana-mana kini kita terkepung dengan pelbagai peraturan dan perundang-undangan yang bernuansa aneh-sekaligus-usang. Tak heran pula jika secara legal-administratif daerah-daerah di negara ini berkembang kian banyak, padahal secara teritorial justru kian menyusut. Memang, yang sesungguhnya terjadi hanyalah perlombaan mengejar harta dan tahta belaka. Dengan dalih pemekaran, padahal yang berlangsung adalah penggerusan. Akibatnya, negeri ini pun mengalami involusi – sebuah proses perkembangan ke dalam yang dipaksakan, sehingga kian lama kian menyesakkan. Di satu sisi ada yang mengeksploitasi, di sisi lain ada yang teralienasi. Yang kuat tinggal menunggu waktu menikmati kemenangan, tapi yang lemah tak rela termarjinalisasi begitu saja. Maka, resistensi pun merebak di mana-mana. Itulah titik-nadir Indonesia – yang mungkin akan menyusul jejak Uni Soviet.

Namun, mungkin mimpi-buruk itu tak akan menjadi kenyataan, jika Kristen turut berpartisipasi aktif di dalam guliran proses perubahan tersebut. Terkait itu, maka renungkanlah baik-baik: “berpartisipasi aktif”, tidakkah itu berarti “memimpin” dan “bukan sekedar ikut-ikutan”? Sampai di sini, mungkin muncul pertanyaan: bagaimana mungkin Kristen yang minoritas secara kuantitatif ini memimpin proses perubahan Indonesia menuju masa depan yang gemilang? Mungkin ada benarnya juga (meski tak absolut) pesimisme semacam itu, jika yang dimaksud “memimpin” adalah menjadi pemimpin secara struktural-institusional semisal menjadi presiden atau wakil presiden – seperti yang dulu pernah diimpikan oleh salah satu partai Kristen. Tapi, bukankah Tuhan telah berjanji untuk mengangkat kita menjadi “kepala dan bukan ekor” (Ulangan 28: 13)? Bukankah ayat ini yang dulu selalu dijadikan landasan partai Kristen itu untuk memimpikan posisi “orang nomor satu” di negeri yang mana Kristen menjadi minoritas ini? Lalu, bagaimana kenyataannya sekarang?

Saya tak sekali-kali bermaksud mengekspos “kesalahan” partai ini di masa lalu.  Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengajak kita memperbarui paradigma usang, bahwa “Kristen yang memimpin” itu selalu identik dengan posisi atau jabatan. Jelas bukan begitu maknanya. Melainkan, “Kristen yang memengaruhi orang-orang lain”. Begitulah seharusnya menjadi “kepala”: yang memberi arahan, yang menunjukkan jalan, dan yang sejenisnya.   

Persoalannya, mampukah Kristen menjadi seperti itu? Harus mampu, itulah jawabannya. Ingatlah kisah Yosua, yang dijanjikan Tuhan untuk menjadi pemimpin dan memperoleh kemenangan begitu gemilangnya (Yosua 1: 3-5). Untuk itu, Tuhan memberikan syarat: kuatkan dan teguhkan hati, bertindak hati-hati, jangan menyimpang ke kiri-kanan, merenungkan firman Tuhan siang-malam, jangan kecut dan tawar hati (Yosua 1: 6-9).

Nah, inilah soalnya. Mungkin, di dalam hal-hal itu, Kristen memang perlu memperbarui paradigma-paradigmanya yang sudah banyak usang. Sebutlah, misalnya, ketakutan kita untuk berseru keras menyuarakan kebenaran. Bukankah selama ini kita lebih memilih bersuara perlahan saja? Itu pun jangan melulu hanya kebenaran tentang keselamatan surgawi. Suarakanlah juga kebenaran-kebenaran di bidang ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya. Sebab, pikirkanlah baik-baik hal ini: Indonesia tak serta-merta berubah menjadi negara dan bangsa yang berkeadilan, yang sejahtera lahir-batin, yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, yang minim praktik korupsinya, yang aman dan tenteram, dan yang sejenis itu, hanya dengan menambah banyak orang-orang yang menerima keselamatan surgawi itu.

Bukankah gerakan pekabaran Injil yang meluas dan intensif di Indonesia selama ini sudah membuktikan kurangnya dampak positif dari upaya mewartakan Kabar Sukacita itu terhadap perbaikan dan pemulihan negara dan bangsa yang amburadul ini? Maka, di dalam hal ini pun Kristen perlu memperbarui paradigma. Sadarilah bahwa pekabaran Injil tak sekali-kali boleh dan dapat dijadikan alternatif bagi gerakan-gerakan mereformasi negara dan bangsa ini terus-menerus. Itu berarti, Kristen tak hanya harus bersuara lantang menyuarakan kebenaran dan keadilan, tapi juga berjuang dengan aksi-aksi konkret di pelbagai arena kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Untuk itu, Kristen harus berada di mana-mana, berbuat apa saja yang kiranya baik dan berdampak positif.  

Dalam kaitan itu pula maka paradigma usang kita yang lainnya pun perlu diperbarui. Yang dimaksud dengan itu adalah, berjejaringlah dan bersinergilah seluas-luasnya di dalam arak-arakan perjuangan ini. Baik dengan sesama yang seiman, juga dengan sesama yang tak seiman. Untuk itu, semua sikap phobia terhadap umat lain perlu dibuang jauh-jauh. Jadikanlah mereka kawan, bukan lawan. Sering-seringlah berdialog, tapi bukan dalam hal ajaran, melainkan dalam hal etika. Inilah yang niscaya membuka pintu-pintu untuk terjalinnya relasi yang lebih baik dan yang pada gilirannya menciptakan peluang-peluang untuk bekerja sama demi mewujudkan agenda-agenda mereformasi negara dan bangsa ini.

Kalau mau diurai lebih jauh dalam inci yang rinci, rasanya masih banyak paradigma usang Kristen yang perlu diperbarui terlebih dulu untuk dapat berpartisipasi aktif membangun Indonesia Baru di masa depan. Tapi, pada intinya, hakikat pembaruan yang sejati itu tercakup dalam perumpamaan Yesus tentang “kirbat baru dan anggur baru”. Dengan kirbat (kantong yang terbuat dari kulit), yang dimaksud adalah sistem: yang mencakup struktur, pranata atau institusi, peraturan, mekanisme operasional dan saling hubungan di antara unsur-unsur tersebut. Akan halnya anggur (baru), yang dimaksud adalah orang-orang baru: orang-orang yang tidak mengidap penyakit gila harta, rakus kuasa, kemaruk jabatan, yang suka menghalalkan segala cara dan kekerasan demi mencapai tujuan, dan yang sejenisnya.

Tapi, siapa gerangan yang memerlukan kirbat dan anggur baru itu? Alih-alih menunjuk orang lain, lebih bijaklah menunjuk diri sendiri. Sebab, kitalah yang memang harus diperbarui. Karena kita masih takut bersuara lantang. Karena kita lebih gemar mengurusi yang itu-itu saja. Karena kita lebih suka menyerahkan persoa­lan pengurusan negara dan bangsa ini kepada segelintir orang -- yang kita elu-elukan sebagai “tokoh” padahal korup. Karena kita abai bahwa reformasi justru harus menjadi fokus Kristen, sesuai prinsip “semper reformanda ecclesia reformata” -- gereja yang reformis adalah yang terus-menerus mereformasi dirinya. Dan bukankah gereja itu adalah kita sendiri?

(Dimuat di Oratio Edisi Agustus 2006)

Model Kepemimpinan Kristus

…untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan proses panjang yang harus dilalui dengan perjuangan, pengalaman, pembelajaran, ketekunan dan kerja keras, dan harus ditempuh dengan cara-cara yang benar.

Krisis moneter tahun 1997 akibat turunnya secara drastis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengakibatkan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sebagai contoh di bidang ekonomi: banyak pengusaha dan pemilik bank mengalami kebangkrutan karena utang mereka dalam mata uang dolar menjadi lima kali lipat lebih besar dan modal usaha mereka menciut secara drastis. Utang pemerintah dan swasta kepada luar negeri menjadi berlipat ganda dan pemerintah tidak sanggup lagi memberi subsidi untuk kebutuhan pokok rakyat yang begitu besar dan subsidi harus dikurangi. Krisis ekonomi itu disusul dengan krisis politik, krisis hukum, krisis moral, krisis budaya dan krisis keamanan yang lazim disebut dengan krisis multidimensi.

Namun, krisis multidimensi masih ditambah lagi dengan krisis kepercayaan. Masyarakat makin hilang kepercayaannya kepada pemimpin karena hilangnya roh kepemimpinan sejati dari sebagian besar pemimpin. Bangsa Indonesia menghadapi suatu situasi berat karena selain menghadapi krisis multidimensi, mereka juga kehilangan kepercayaan kepada para pemimpinnya karena lebih mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat. Padahal kepemimpinan sejati merupakan harapan dan benteng terakhir bangsa ini untuk membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis-krisis lainnya.

Seperti apakah model kepemimpinan sejati itu? Dan, dari Siapakah pemimpin-pemimpin bangsa kita bisa belajar tentang kepemimpinan sejati? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, marilah kita belajar dari Kristus, Sang Pemimpin Sejati. Model kepemimpinan Kristus dalam Yohanes 12:23-26 ditandai dengan tiga hal, yaitu :

  • KASIH adalah motivasi mendasar dalam kepemimpinan Yesus. Gambarannya adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati. Hal ini menunjukkan bagaimana Yesus membicarakan tentang kematian-Nya. Kematian-Nya di kayu salib merupakan perwujudan KASIH-Nya yang sangat besar (Yoh.3:16) dengan memberikan hidup-Nya sendiri untuk menebus dosa-dosa manusia. Diri-Nya siap memberi hidup-Nya dengan KASIH yang penuh pengorbanan.

He gave His life with His sacrificial love,

He gave His life to ransom my soul.

  • KETELADANAN merupakan pengaruh kunci dalam kepemimpinan Yesus. Keteladanan dalam ketaatan kepada kehendak Bapa-Nya (Yoh.4:34). Baik dalam pengajaran maupun perbuatan nyata, Yesus memberikan contoh diri-Nya sendiri. Yesus konsisten atas apa yang Dia katakan dan Dia lakukan, menjadi seorang pribadi yang berintegritas: tak ada jarak antara apa yang Dia lakukan dan katakan. Contohnya, di Yohanes 13. Yesus memberi teladan kehambaan-Nya kepada murid-murid-Nya. ”Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yoh.13:14-15).
  • ORIENTASI dari kepemimpinan Yesus adalah menghasilkan banyak buah. Contoh kepemimpinan yang demikian disebut dengan “Fruitful Leadership” yaitu kepemimpinan yang berorientasi kepada perubahan hidup dan keselamatan jiwa banyak orang. Fruitful Leadership sangat bertolak belakang dengan kepemimpinan duniawi yang berorientasi kepada kesejahteraan pribadi. “Leadership is not about status. It’s about the function and purpose.”

Apa yang Tuhan Yesus “tuntut” dari kita? Dalam ayat 26 Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Tuhan Yesus meminta kita untuk mengikuti Dia karena di mana Yesus berada, di sana pengikut-Nya berada.

Lalu, apa yang dapat kita harapkan dari para pemimpin bangsa kita sekarang? Kita berharap mereka meniru model kepemimpinan Kristus. Model kepemimpinan yang ditandai dengan kasih, ketaatan, dan berorientasi jiwa. “Not power leadership model, but Jesus leadership model.”

Mari kita doakan kiranya Tuhan dalam wahyu umumnya menganugerahkan hal-hal itu kepada pemimpin-pemimpin bangsa kita tercinta.

(Dimuat di Oratio Edisi Agustus 2004)