Perkantas dan Semangat Reformasi

Moto berbahasa Latin, "Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei" (artinya: "Gereja Reformed, selalu direformasi berdasarkan firman Allah"), telah menjadi salah satu diktum penting gerakan Reformasi di abad ke-16 dan gereja-gereja Reformasi sampai hari ini. Sekalipun formulasinya baru ditemukan di abad ke-17 dalam tulisan Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (Contemplation of Zion) di Amsterdam pada tahun 1674. Moto ini secara historis tidak pernah dimaksudkan untuk melegitimasi segala macam inovasi dalam berteologi, sebagaimana banyak orang di zaman sekarang salah mengartikannya. Moto ini lahir pada masa gereja sedang berusaha untuk memurnikan diri dari segala bentuk inovasi manusia yang asing terhadap Alkitab. Dengan prinsip Sola Scriptura, gereja berikrar mereformasi diri dengan panduan Alkitab sebagai standar tertinggi dalam kehidupan Kristiani. Di lain pihak, moto ini juga menyuratkan keterbukaan terhadap perubahan, sebuah sikap anti status quo yang saat itu diperankan oleh gereja Katolik Roma. Di sini tampak ada dua sisi dari satu mata koin semangat Reformasi, yaitu: mempertahankan kontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen yang Alkitabiah dan diskontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen maupun pengaruh zaman yang tidak Alkitabiah.

Kontinu dan Diskontinu

Kontinu

Kitab Nehemia khususnya di pasal 8-10 menjadi salah satu rujukan bagaimana reformasi mewujud. Dikisahkan bangsa Israel yang sudah menetap di kota-kotanya, berkumpul di halaman di depan pintu gerbang air. Mereka meminta Ezra sang ahli kitab membawakan kitab Taurat dan membacakannya di depan mereka (Nehemia 8:1-4). Bangsa Israel menghayati kepulangan ke kota nenek moyang bukan sekedar hanya membangun kembali kehidupan sebagai sebuah bangsa. Tujuan utama mereka adalah membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan, serta pemulihan persekutuan Tuhan dan umat. Taurat pun dibacakan oleh imam Ezra di hadapan bangsa Israel. Dengan bantuan 13 orang Lewi, Taurat yang dibacakan diberikan keterangan-keterangan yang dapat dimengerti (8:5-9). Pada ayat-ayat berikutnya dicatat bagaimana bangsa Israel meresponi Taurat (8:10-9:37) hingga membuat satu piagam perjanjian sebagai bukti tertulis Reformasi umat (9:38-10:39). Sebuah commentary memberi judul pasal 8 "The Foundation of Reformation". Pembacaan dan pemberian keterangan yang jelas pada Firman Tuhan telah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dengan demikian bangsa Israel mengalami reformasi.

Realita saat ini, Perkantas sedang dan terus berada dalam situasi orang-orang yang mencari pengajaran untuk sekedar memuaskan keinginan telinga (2 Tim. 4:3). Maka dari itu, Perkantas mengajarkan Firman di tengah beragam pengajaran yang mungkin lahir dari kesesatan (1 Tes.2:1), bergerak ditengah berbagai jenis pelayanan lain yang mungkin memiliki motivasi yang tidak murni dengan segala tipu daya (1 Tes 2:2). Di tengah realitas ini Perkantas harus terus memelihara semangat ad Fontes (latin: kembali ke sumber, dalam hal ini Alkitab sebagai sumber primer iman Kristen) sebagaimana disuarakan dalam Reformasi. Semangat ini dapat dapat mewujud dalam:

  1. Pemberitaan firman yang ekspositori
  2. Pendalaman Alkitab pribadi dan kelompok
  3. Program pelayanan (goal, indikator, aktivitas dan evaluasi pelayanan) yang kontekstual (the world) berdasarkan penggalian teks Alkitab (the word)

Diskontinu

Tidak mudah menjaga semangat reformasi. Orang Yahudi yang telah mengikat perjanjian (Neh.10) berusaha menegakkan Taurat sedemikian ketat. Namun, dalam perjalanan mereka tergelincir kepada apa yang disebut Jaroslav Pelikan dalam bukunya The Vindication of Tradition sebagai Tradisionalisme (hidup dalam ritual namun kehilangan esensinya yaitu beriman kepada Tuhan). Dalam Injil, Yesus memperingatkan orang Yahudi dalam berbagai kesempatan pelayanan-Nya. Dan, dalam sebuah perumpamaan, Yesus menunjuk orang Yahudi sebagai anak sulung yang juga hilang (Luk.15:11-32). Dalam catatan sejarah paska Reformasi yaitu pada tahun 1685-1725, semangat rasionalisme modern merasuk ke dalam tubuh para pemikir Reformed. Integrasi-integrasi dilakukan. Model penafsiran Alkitab yang pre-critical textual, eksegetikal, dan hermeneutikal mengalami tekanan besar, seiring dengan pergeseran kerangka filsafat yang biasanya digunakan oleh para teolog zaman itu. Dari pendekatan Christian Aristotelian ke salah satu dari dua opsi ekstrem yaitu varian gerakan rasionalisme yang baru populer atau, dogmatika yang sama sekali anti terhadap filsafat. Kenyataan yang disesalkan adalah tidak semua integrasi tersebut dilakukan dengan prinsip Sola Scriptura. Namun, di tengah situasi demikian, muncul gerakan-gerakan yang berusaha melanjutkan semangat reformasi, antara lain: gerakan Pietisme di Jerman, Nadere Reformatie (Further Reformation) di Belanda, dan Puritanisme di Inggris pada saat yang hampir bersamaan. Semua gerakan itu mengembalikan Reformasi kepada hakikatnya yaitu Reformasi kehidupan Spiritual yang dibangun atas kebenaran Firman.

Perkantas yang sudah berusia 44 tahun pun rentan menyimpang dari semangat Reformasi, alih-alih memelihara tradisi justru bisa jatuh kepada tradisionalisme. Pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni masih terus dikerjakan bahkan aktivitas semakin banyak, tetapi amat rentan kehilangan esensi dari berbagai aktivitas tersebut. Perkantas juga rentan disusupi berbagai varian gerakan rasionalisme dalam memahami Firman, berbagai pemahaman teologi populer, berbagai metode yang sedang tren dalam membangun pelayanan yang sesungguhnya jauh dari prinsip Sola Scriptura.

Kiranya Perkantas terus berjaga-jaga dengan dirinya dan ajarannya. Dengan sikap berjaga-jaga, kehadiran Perkantas pun dicatat dalam sejarah kekristenan sebagai penerus semangat Reformasi. Melakukan Reformasi berdasarkan Firman Tuhan.

(Dimuat di Oratio edisi Oktober 2015)

Form & Meaning

Saya berasal dari sebuah gereja yang dapat disebut sebagai gereja tradisional. Ada banyak tradisi baik yang saya warisi dari gereja saya semenjak kanak-kanak sampai saat ini. Salah satunya adalah lagu-lagu pujian hymnal yang saya kenal akrab karena sering dinyanyikan tiap minggu, walau saya belum mengalami maknanya saat itu. Kelak ini menjadi kenangan yang sangat berguna setelah saya mengalami hidup baru dalam Kristus.

Namun, harus saya akui ada momen-momen yang seharusnya menjadi momen rohani bagi saya telah berlalu begitu saja. Saya teringat masa-masa mengikuti kelas katekisasi, ketika sosok pendeta seolah menjadi ‘dua’ dalam pandangan mata saya di tengah rasa kantuk pada jam 3 siang di hari Minggu. Kendati demikian, saya tetap lolos mengikuti Sidi (pengakuan percaya) yang menjadi sebuah seremonial saja bagi saya. Pada masa-masa itu, saya juga mengikuti persekutuan mahasiswa di kampus. Di persekutuan mahasiswa inilah saya baru mengalami Injil dengan sesungguhnya. Hati saya diperbaharui oleh Injil yang saya dengar dan pelajari lewat kamp Perkabaran Injil, Persekutuan Jumat, PA kelompok dan Kelompok Kecil (KK), serta kegiatan lainnya. Hal itu terjadi pada tahun 1980-an. Pada waktu itu pelayanan Persekutuan mahasiswa baru berusia sekitar 5 tahun.

Mengapa bisa terjadi perbedaan seperti itu? Tentu ada banyak faktor. Salah satu faktor utamanya adalah gereja yang sudah berusia puluhan tahun mulai terjebak kepada tradisi. Kegiatan gereja dilakukan dengan teratur dan rapih tapi sering menjadi sebuah seremonial saja. Sedangkan persekutuan mahasiswa yang masih sangat baru waktu itu melakukan kegiatan pelayanannya dengan penuh penghayatan makna dan tujuannya. Tanpa makna dan tujuan yang jelas, pengurus PMK tidak akan mau mengerjakannya.

Saya masih ingat, kami akan terlebih dahulu bertanya ‘mengapa’ sebelum bertanya ‘bagaimana’ bila merencanakan sebuah program pelayanan. Namun, saat ini Perkantas bersama dengan persekutuan siswa dan mahasiswanya sudah tidak baru lagi, melainkan sudah masuk kepada pelayanan yang berusia ‘puluhan tahun’. Sebagai sebuah komunitas kerohanian ataupun sosial, Perkantas juga bisa terjebak kepada tradisi yang terbatas pada bentuknya saja tapi sudah kehilangan makna terdalamnya. Sudah ada banyak pemahaman, pola, kegiatan-kegiatan pelayanan Perkantas yang sudah berlangsung puluhan tahun, yang bila tidak hati-hati akan menjadi tradisi yang sepi makna dan kekuatan rohani. Tampaknya kita cenderung akan melakukan sebuah bentuk kegiatan yang sudah menjadi tradisi tanpa perlu mengerti dan menghayati maknanya. Apalagi bila tradisi itu diberi kekuatan hukum struktural atau organisasi, menjadi sebuah tata tertib atau kegiatan wajib.

Apakah tradisi itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar: perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan tradisi, melainkan haruslah dihayati maknanya.

Dari definisi di atas, kita melihat sebuah kenyataan bahwa tradisi itu adalah sebuah kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Kenyataan ini tidak bisa kita ubah. Semua komunitas yang berlangsung puluhan tahun bahkan ratusan tahun akan mengalaminya. Juga mungkin tidak perlu kita ubah karena ada tradisi yang memang baik dan patut diteruskan. Namun, penilaian atau anggapan bahwa suatu tradisi tertentu adalah yang paling baik dan benar itu seringkali membawa kita kepada bahaya melakukan tradisi tanpa makna. Sekalipun itu tradisi yang sangat baik dan masih “up to date”. Pasalnya, ketika kita sudah diyakinkan dan dikondisikan begitu rupa untuk melakukannya tanpa ragu, kita tidak terkondisikan untuk berjuang mencari maknanya.

Artikel ini bermaksud untuk mengajak Perkantas dengan seluruh komponen pelayanannya, bersikap kritis dan berjagajaga untuk tidak terjebak kepada jerat tradisi meneruskan “form” tanpa “meaning” supaya bisa terus dapat dipakai Tuhan menjangkau generasi muda zaman ini. Melewati usianya yang ke 40, Perkantas meninggalkan banyak kebiasaan yang diwariskan dari tahun 70-an. Sehingga pelayanan Perkantas pun bisa ada dalam bahaya melakukan tradisi kegiatan atau pola pelayanan tanpa menghayati maknanya. Apa yang saya alami di gereja tradisional dahulu, dapat dialami oleh siswa, mahasiswa, alumni, dan staf generasi sekarang. Kita tetap menjalankan bentuk kegiatan KK, Kamp, retret dsb, tapi kita tidak lagi mengerjakannya dengan makna, visi, misi yang sama. Saya sempat terkejut, ketika staf dan pengurus persekutuan sangat terkesan dengan ide KK berdasarkan profil. Bukankah, memang begitu seharusnya. Dulu tidak ada kewajiban harus pakai ataupun menyelesaikan buku Memulai Hidup Baru (red: buku penuntun Kelompok Kecil di kampus). Kami menggunakan buku tersebut karena buku MHB sangat menjadi berkat bagi kami dan kami teruskan kepada anak kelompok kecil kami. Kami menyelesaikannya karena apa yang dibagikan dalam MHB sangat berguna untuk menolong mahasiswa menjalani kehidupan barunya dalam Kristus. Sampai kini, sudah ada sekian angkatan yang memakai MHB karena itulah tradisi KK di kampusnya.

Tadinya saya pikir siswa, mahasiswa, dan staf baru yang bergantian masuk ke dalam ladang pelayanan siswa dan mahasiswa, bahkan bisa tiap tahun berganti, akan dapat luput dari bahaya tradisi ini. Pasalnya, mereka adalah orang-orang yang belum terjebak rutinitas. Namun, ternyata tidak. Tradisi bukan hanya sanggup menguasai ‘orang lama’ atau ‘orang tua’ yang sering kali disebut kelompok konservatif, tapi tradisi sanggup menguasai orang baru yang masuk ke dalam sistem yang sudah dikuasai oleh tradisi. Entahkah dia sebagai ‘korban’ tradisi atau kemudian menjadi pelaku tradisi.

Sebetulnya apa bahaya dari melakukan tradisi, tanpa menggali maknanya?

  1. Kita akan Kehilangan Generasi Kini dan Mendatang

Yesus berkata: “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Anggur yang baru menggambarkan Injil keselamatan, kabar sukacita yang tidak bisa ditampung dalam ‘kantong yang lama’ yaitu upacara seremonial. Puasa sebetulnya adalah sebuah bentuk ibadah yang melaluinya umat datang kepada Allah, memohon dan menerima belas kasihan dan rahmatNya. Namun, orang Farisi terjebak melihat puasa hanya sebagai bentuk ibadah yang harus dilakukan dengan teratur. Sebuah tradisi keagamaan yang wajib dilakukan. Mereka kehilangan makna ibadah puasa sehingga puasa menjadi upacara seremonial yang kaku. Tradisi seremonial tidak sanggup menampung berita Injil yang penuh sukacita dan kuasa. Seperti kantong lama tidak sanggup menyimpan anggur baru. “And by these very apt illustrations our Lord teaches us that it is a vain thing to attempt to mingle together the spiritual freedom of the gospel with the old ceremonies of the Law” (Calvin).

Hal yang sama juga bisa terjadi pada pelayanan Perkantas. Tradisi tanpa makna akan menjadi sebuah seremonial keagamaan yang tidak sanggup menampung kuasa Injil yang membebaskan. KKR, Kelompok PIPA (Perkabaran Injil lewat Pemahaman Alkitab), KK (Kelompok Kecil), PI Pribadi bila dilakukan tanpa penghayatan makna tidak bisa menjadi alat kasih karunia menghantar siswa, mahasiswa berjumpa dengan Kristus. Bila hal ini terjadi, maka tidak ada petobat baru dan tidak ada murid Kristus baru. Perkantas, PMK, PSK akan kehilangan generasi kini dan mendatang. Kita juga akan kehilangan generasi baru pemimpin yang sebenarnya. “Student today, leader tomorrow” tinggal menjadi slogan belaka.

  1. Kita Tidak Bisa Melakukan Kontekstualisasi Zaman

Ada tradisi baik yang harus terus kita lakukan. Tanggung jawab tiap generasi untuk terus menggali maknanya. Dan, tanggung jawab generasi sebelumnya untuk meneruskan makna tidak hanya berbentuk kegiatan atau pola pelayanan. “We need to pass onto the next generation the meanings and not just the form” (Perry Shaw). Tapi ada pola-pola atau kegiatan yang tidak lagi komunikatif dengan generasi sekarang. Kita harus sanggup menyampaikan Injil yang sama dengan ‘bungkus’ kegiatan yang berbeda. Disinilah tradisi bisa menghambat kontekstualisasi Injil. Tradisi yang tidak dihayati maknanya cenderung akan kaku dengan bentuk-bentuk yang diwariskannya. Kekakuan dan ketakutan ini timbul karena menaruh tempat yang sama tinggi antara bentuk dan makna. Sehingga muncul pemikiran bahwa merubah bentuk sama dengan merubah makna. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk sanggup membedakan antara bentuk ibadah dan makna. Bentuk boleh fleksibel bahkan diubah, tapi makna tinggal tetap.

  1. Tradisi tanpa Makna akan Menghasilkan ‘Penguasa-penguasa’ dalam Pelayanan bukan Pemimpin yang Melayani dengan Wibawa Rohani

Sebuah kalimat dari Perry Shaw, memberikan peringatan yang tajam akan bahaya ini: ‘The people who control the form have the political power; the people who control the meaning have the spiritual power, for good or evil. The people with either type of power determine who the church is really serving. The political power-keepers maintain a form and the spiritual power-keepers use that form intentionally to teach a spiritual lesson. The political power keepers want to keep or institute a form which the spiritual power-keepers consider unhelpful”.

Di sinilah tradisi akan berkolaborasi dengan institusi, tradisi diberi kekuatan hukum yang mengikat para anggota untuk wajib melakukannya. Warna pelayanan mahasiswa yang kuat dengan suasana fellowship dan kekeluargaan akan berubah pelan-pelan menjadi komunitas yang kaku dan formal. Sehingga kita akan memiliki ‘budak-budak program’ yaitu panitia atau pengurus yang bekerja keras tanpa tahu apa yang mau dicapai. Mereka mau melakukannya, karena mereka takut ‘dihukum’ dan dialienasi oleh ‘penguasa-penguasa’ pelayanan.

Memahami dinamika tradisi beserta bahayanya, kiranya Perkantas berhati-hati menjaga semangat dan makna setiap pola dan aktivitas pelayanan yang dikerjakannya. Perkantas saat ini sedang berada dalam masa transisi. Melewati 40 tahun pertamanya dan memasuki 40 tahun keduanya. Mari kita berjaga-jaga dan berdoa supaya pelayanan Perkantas terhindar dari jerat tradisi tanpa makna. Di masa tuanya, Rasul Petrus seorang gembala yang sudah melayani puluhan tahun lamanya mengingatkan orang percaya untuk bersungguh-sungguh bertumbuh dalam kehidupan rohani mereka -- yang disebutnya sebagai iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri dan kasih -- oleh kuasa Roh Kudus yang sudah dikerjakan dalam diri orang percaya.

Rasul Petrus berkata: “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan” (2 Petrus 1:8-9).

Hanya kerohanian yang berlimpah-limpah yang dapat membebaskan kita dari jerat tradisi tanpa makna, karena makna ada dalam hati yang mengenal Kristus, Tuhan JuruselamatNya. Selamat Ulang Tahun Perkantas!

(Dimuat di Oratio Edisi Juli 2013)

Nasihat Katharine

Suatu kali Martin Luther, sang tokoh Reformasi, mengalami depresi berlarut-larut dan sangat murung. Melihat kondisi tersebut, Katharine sang istri kemudian bergegas mengganti bajunya dengan baju hitam, simbol baju berkabung.

Melihat hal tersebut Luther bertanya, "Apa maksudnya ini, siapa yang mati?"

"Tuhan sudah mati", sahut Katharine.

Mendengar hal tersebut, Luther marah luar biasa, "Mana mungkin Tuhan mati!"

"Kalau begitu...", ujar Katharine, "berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati!"

Cerita di atas pernah saya baca entah kapan. Karena sudah lama ada beberapa bagian yang mungkin sudah tidak tepat lagi, meski intinya kurang lebih sama. Ah, ingatan yang memudar hanya menghasilkan lupa. Penuaan dini? Mungkin. Bagi sebagian orang, saya dianggap masih cukup muda (masih umur 30-an). Bagi mahasiswa sekarang, saya sudah termasuk angkatan fosil. Nah, sejak anak kedua lahir baru-baru ini, saya benar-benar merasakan penuaan dini. Bayangkan, kalau terkena flu sewaktu masih jomblo dulu, saya cukup istirahat 1-2 hari agar sembuh. Tapi, semenjak punya anak pertama dua tahun yang lalu, butuh sekitar satu minggu untuk dapat sembuh. Sekarang dengan dua anak, tetap hanya butuh satu minggu sembuh. Namun, selang beberapa hari akan flu lagi. Dulu tidur bisa delapan jam sehari. Sekarang paling sekitar empat jam (anak kedua kami belum bisa membedakan siang dan malam, jadi dia tidur seharian, dan aktif semalaman). Hampir setiap kali main dengan anak pertama, saya ketiduran. Walaupun begitu, hidup harus jalan terus (life must goes on, katanya).

Pertanyaannya: Bagaimana bisa mengerjakan aktivitas sehari-hari, kerja, atau bahkan melayani dengan kondisi setengah hidup? Bagaimana bisa doa sepenuh hati dan fokus? Bagaimana bisa mendengar dengan penuh perhatian? Memberi nasehat dengan bijak? Maksimal melayani, maksimal bekerja? Bukankah jika kita punya banyak masalah dan pergumulan, kerja dan pelayanan jadi hanya seadanya saja?

Katharine, istri Martin Luther, memberikan satu solusi: berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati. Ini bukan sekedar menerima fakta bahwa Tuhan sungguh bangkit. Lebih dari itu, ini berarti meyakini bahwa kuasa Allah yang membangkitkan Kristus sanggup mengubah realita yang ada dan memberi kekuatan untuk melayani Tuhan. Satu hal yang saya amati, kita sering pasrah kepada 'realita'. Sakit, jadi tidak bisa melayani. Ada masalah, jadi pelayanan ditunda. Mental "apa boleh buat" atau "mau gimana lagi" menjadi alasan standar. Semua ini adalah bentuk dari iman Tuhan sudah mati. Sebaliknya, maka iman Tuhan yang bangkit akan berkata, "Saya sakit, tapi saya mau melayani, Tuhan tolong sembuhkan saya." Iman Tuhan yang bangkit berkata, "Saya ada masalah, Tuhan tolong, jangan sampai menghalangi pekerjaan Tuhan." Iman Tuhan yang bangkit berkata, "Tuhan adalah Tuhan atas realita; Tidak ada yang mustahil. Toh kita melayani bukan dengan kekuatan diri kita sendiri."

Maka bagi saya, vitamin jalan terus, makan jalan terus, sebisa mungkin istirahat. Namun, yang lebih utama, bersandar pada kuasa Tuhan juga harus jalan terus. Untungnya, istri saya juga mendukung dan menyadari hal ini. Meskipun dia jauh lebih lelah dibanding saya (dan saya rasa semua ibu-ibu juga demikian), toh masih menyempatkan diri untuk berdoa entah tengah malam atau subuh. Saya mengerjakan bagian saya, dia akan mengerjakan bagian dia, dan Tuhan akan mengerjakan bagian Tuhan. 'Penuaan Dini' bukan satu-satunya pergumulan yang dihadapi. Ada satu hal lain lagi, yaitu kepribadian. Saya adalah seorang introvert, plegmatik, pendiam sejati, lambat. Seorang rekan suka memanggil saya "flat face" (padahal wajah saya tidak flat sama sekali dan berbeda dengan TV flat, muka flat sama sekali bukan sebuah pujian). Tidak heran di zaman kuliah ketika ada yang tanya tentang kelebihan saya, teman-teman akan menjawab "sabar". Lalu ketika ditanya apa kelemahan saya, mereka menjawab "lamban". Sebagai oleh-oleh, seorang staf senior di Perkantas pernah memberi kenang-kenangan berupa boneka kura-kura.

Pertanyaannya, bagaimana seorang introvert, plegmatik yang lamban bisa melayani secara maksimal? Bukankah seorang pelayan dituntut untuk memperhatikan domba-dombanya? Ia harus bisa bersosialisasi dengan baik. Bayangkan jika seorang hamba Tuhan melakukan kunjungan ke jemaat, tapi sesampainya ia hanya diam. Tentunya, ia harus bisa membicarakan topik A sampai Z agar cepat klik dengan orang baru. Tak hanya itu, ia juga harus bisa berkhotbah atau mengajar dengan penuh ekspresi dan dinamis. Apakah masih ada tempat bagi seorang introvert-lamban untuk melayani?

Jawabannya ternyata tetap sama dengan isu pertama di atas: berhentilah bersikap seakan Tuhan sudah mati. Kelemahan dalam karakter tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melayani secara maksimal. Kelemahan dalam karakter juga tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mau berubah dan belajar. Allah dengan kuasanya yang membangkitkan akan sanggup memakai dan membentuk seorang introvert lamban sekalipun. Iman Tuhan sudah mati berkata, "Saya memang begitu dari sono-nya, jadi ga bakal bisa deh." Iman Tuhan sudah mati berkata, "Maaf, Tuhan salah pilih; saya tidak cocok." Iman Tuhan sudah mati berkata, "Hanya orang dengan kepribadian tertentu yang akan dipakai Tuhan." Sebaliknya iman Tuhan yang hidup berkata, "Jika Tuhan yang memanggil, maka Tuhan juga yang akan memperlengkapi." Iman Tuhan yang hidup berkata, "Ini aku, utuslah aku." Iman Tuhan yang hidup berkata, "Saya lemah, tapi di dalam Tuhan saya kuat."

Baru-baru ini sebuah khotbah di gereja mengingatkan dan menguatkan saya. Sang pengkhotbah sedang berbicara mengenai hubungan antara hal kuasa Tuhan dan misi hidup kita. Ia berkata, "Jangan berdoa: Tuhan berikan tugas yang sesuai dengan kekuatanku. Tapi berdoalah: Tuhan berikan kekuatan sesuai dengan tugasku."

"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya" (Filipi 3:10)

(Dimuat di Oratio Edisi April 2010)

Dicari! Pemimpin Yang Berintegritas, Mengasihi, dan Bervisi

Bukankah kita sudah merdeka? Tetapi, kok kita masih saja terbelenggu oleh kemiskinan dan  penderitaan yang tidak habis-habisnya? Bukankah saatnya masa membangun dan memperbaiki  kondisi bangsa yang sudah kacau balau? Bukankah sangat dibutuhkan para pemimpin yang memiliki keadilan,  belas kasihan, dan kesetiaan? Sungguh! Betapa sulitnya menemukan para pemimpin yang melayani dan bukan melayani kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan orang lain, kepentingan rakyat banyak, kepentingan bangsa dan negara kita (Flp 2:3-4), pemimpin-pemimpin yang memiliki kasih dan kerelaan berkorban seperti Yesus (Flp 2:6-8). Sulit sekali menemukan  pemimpin-pemimpin yang sejati! Ada sebuah definisi pemimpin yang cukup baik, yakni : “Who is a leader” Leader is who knows the way (punya visi). Leader is who shows the way (mampu memperlihatkan visi dan memotivasi orang untuk menuju visi itu), leader is who goes the way (dia sendiri mampu melakukan visinya).

Di manakah kita dapat menemukan orang-orang yang demikian? Jawabannya sederhana : di gereja. Yang dimaksudkan dengan gereja bukanlah bangunan secara fisik, melainkan sebagai kumpulan orang percaya atau persekutuan orang beriman. Definisi gereja dalam Alkitab disajikan dalam metafora garam dan terang (Mt.5:13-16). Artinya gereja perlu masuk dan meresap ke dalam masyarakat. Persekutuan gereja adalah demi penyebarannya : membina diri ke dalam agar bisa lebih baik melayani ke luar. Gereja terpanggil untuk berpartisipasi aktif dalam sejarah kehidupan dunia, dan bukan hanya sibuk dengan kekudusan dan pelestarian identitasnya saja. Gereja tidaklah perlu berpolitik untuk mendapatkan pengaruh. Gereja akan memiliki kuasa jika ia menjadi dirinya sendiri serta berjalan sesuai dengan kekuatan keyakinan dan kemurnian tujuannya. Otoritasnya ada pada kapasitasnya untuk mengajak orang lain percaya pada integritas propagandanya dan bukan pada kepemilikan kuasa politik dan merendahkan diri sebagai sebuah kekuatan politik.

Mengapa harus di persekutuan orang beriman? Karena di sanalah tempat pendidikan, pembinaan, dan penggemblengan anak-anak Tuhan sehingga menjadi seorang pribadi yang berintegritas, berjiwa seorang pelayan yang rendah hati, dan mengasihi sesama manusia. Di sekolah dan di kampus, kita mengenal persekutuan orang beriman dengan nama PSK (Persekutuan Siswa Kristen) dan PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sebagai wadah yang mempersiapkan pribadi-pribadi yang dilayani menjadi alumni siswa dan mahasiswa yang akan menjadi garam dan terang dunia di tengah-tengah keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh sebab itu, misi penginjilan, pemuridan, pelipatgandaan, dan pengutusan (Mt.28:19-20) mutlak dikerjakan dengan kesungguhan, ketekunan, dan kerja keras yang terbaik.

Kesetiaan dan ketekunan melakukan suatu tugas, keberanian untuk berbeda, dan kerelaan untuk membayar harga demi suatu panggilan hidup telah nyata menjadi fondasi yang telah ditanamkan dan dihidupi dalam PSK dan PMK. Hal-hal inilah yang tidak dimiliki oleh pemimpin-pemimpin kita sekarang, dan bahkan kelihatannya semakin jauh dari pola hidup seperti itu, Jika demikian, kepada siapa kita berharap untuk menghasilkan pemerintahan atau wakil rakyat yang baik dan bersih? Hanya kepada Allah jawabannya. Kita doakan agar Allah terus mengaruniakan hati nurani dan pikiran yang bersih kepada para pemimpin kita mulai dari pusat hingga daerah. Patut diingat, Allah juga sedang ‘berharap’ dan ‘mengandalkan’ kita, khususnya alumni yang sudah dibina dan dipersiapkan sejak di PMK, yang jumlahnya ribuan di persada Nusantara ini. Oleh karena itulah, penulis sebagai alumni melihat betapa signifikan/penting-nya kehadiran Kamp Kepemimpinan Siswa Jakarta (KKSJ) 1-4 Oktober 2005, Retret Koordinator Mahasiswa (RK) IX pada 17-21 Agustus 2005,    dan Kamp Nasional Alumni (KNA) 1-5 September 2005, yang akan datang ini sebagai momentum penting untuk mengobarkan api pelayanan dan semangat penyerahan diri siswa, mahasiswa, dan alumni dalam bidang atau profesi masing-masing sehingga dapat   membawa perubahan sosial, moral, dan spiritual bagi bangsa dan negara tercinta ini. Kita sangat mengharapkan agar baik siswa, mahasiswa, dan alumni mengalami pembentukan dalam Firman Tuhan sehingga menjadi pemimpin-pemimpin yang berintegritas, mengasihi, dan bervisi.

Maukah kita menjadi pribadi-pribadi yang demikian? Mari kita perjuangkan bersama-sama. Kiranya Tuhan menyertai kita. Amin.

May we be a people, a people of integrity
Being who we say we are and doing what we say
May we a people, a people with humility
Reconciled to God and man, in Jesus’ name

Reff :

Bring Your healing to the nation
Through our lives and through our hands
Bring Your healing to the nation, dear Lord
Change our lives and change our land

May we be a people, a people mending broken lives
Giving hope to broken world by the grace of God
May we be a people, a people serving God and man
Bringing love and dignity, in Jesus’ name

May we be a people, a people of sincerity
Unafraid and unashamed speaking truth in love
May we be a people, a people of fidelity
Trusting God for miracle, in Jesus’ name

Injil adalah Kekuatan Allah

"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil,karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." (Roma 1:16)

Dalam versi NIV Study Bible, Rasul Paulus berkata:
“I am not ashamed of the Gospel, because it is the power of God for the salvation of everyone who believes:first for the Jew, then for the Gentile.” (Romans 1:16).

Bila kita menganalisa ayat di atas dalam kombinasi terjemahan yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa keyakinan Paulus yang kokoh dalam Injil membuat Ia tidak malu (I am not ashamed of the Gospel) terhadap siapa pun bahkan Kekaisaran Romawi yang sedang berkuasa. Pasti ada penyebab -- alasan yang mendorong atau memotivasi -- sehingga seseorang bisa memiliki keyakinan yang kokoh akan suatu paham atau ajaran atau pengetahuan. Dan, dalam hal ini, kita dengan jelas melihat bahwa Paulus meyakini Injil sebagai kekuatan Allah (power of God) yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Tidak jadi soal apakah dia itu suku bangsa Yahudi (Jew) maupun Yunani (Gentile).

Mengapa Rasul Paulus menegaskan keyakinan yang luar biasa itu kepada orang Kristen di Roma dan kita pada saat ini? Kalau kita telusuri ayat-ayat sebelumnya, maka kita mendapati bahwa perasaan berhutang adalah alasan yang membuat Paulus rindu untuk memberitakan Injil Allah juga kepada orang-orang yang diam di Roma (ayat 14 dan 15). Waktu menulis surat ini, Paulus mungkin sedang memikirkan dua hal. Ia merasa berhutang karena kebaikan yang telah ia terima dan ia juga merasa berhutang karena bebannya untuk memberitakan Injil pada mereka. Kalimat yang sangat padat ini dapat berarti demikian: “Karena segala sesuatu yang telah aku terima dari mereka dan karena segala kewajibanku untuk memberi kepada mereka, saya berhutang kepada segala macam orang.” Lebih khusus lagi, apa yang dimaksudkan Paulus adalah bahwa berita yang ia sampaikan, perasaan dan rasa berhutangnya adalah pada orang-orang yang bijaksana dan orang yang sederhana. Mereka yang berkebudayaan tinggi maupun rendah, yang berpendidikan maupun yang tidak. Beritanya adalah untuk seluruh dunia dan keinginannya adalah supaya suatu hari ia menyampaikan berita itu di Roma juga.

Rasul Paulus sangat menyadari betapa pentingnya memberitakan Injil, sehingga dengan berani dan dengan kemurnian hati, di hadapan jemaat Korintus dia berkata,
“Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” ( I Kor. 9:16)

ARTI PENGINJILAN

Penginjilan tidaklah semata-mata bicara tentang metode yang tepat atau kontekstualisasi pendengar, meskipun hal itu harus   dipelajari. Melainkan, penginjilan berbicara tentang suatu semangat dan kerinduan untuk membawa jiwa-jiwa yang tersesat kepada Kristus, Sang Jurus'lamat dan Tuhan atas hidup manusia. Penginjilan itu bukanlah semata-mata :

  1. Memberitakan kebenaran umum tentang keberadaan Allah atau aturan/ hukum moral.
  2. Memberitakan pengajaran dan teladan Yesus, tetapi menghadirkan Yesus Kristus itu sendiri, Jurus'lamat yang hidup dan   Tuhan yang memerintah (to present Jesus Christ himself, the living Savior and the reigning Lord).
  3. Memberitakan Yesus yang hidup sebagai Penolong dan teman tanpa mengacu kepada karya keselamatan-Nya di atas kayu salib.

Jika demikian, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Penginjilan? Penginjilan adalah :

  1. Memberitakan berita yang spesifik
    Menyatakan Yesus Kristus, hamba yang diurapi Allah, pengantara Allah dan manusia (I Tim 2:5), satu-satunya pribadi yang melalui-Nya maka manusia dapat datang untuk percaya kepada Allah (Yoh. 14:6), satu-satunya jalan keselamatan (Kis. 4:12)
  2. Memberitakan berita yang spesifik dengan aplikasi yang spesifik
    Dosa telah menghancurkan hubungan antara Allah dan manusia. Dosa telah membuat semua manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rom 3:23). Memberitakan Injil berarti menyatakan kepada manusia bahwa ada jalan keluar dari segala penderitaan yang mereka alami karena dosa, di dalam dan melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, penginjilan berarti mendorong orang berdosa untuk menerima Yesus sebagai Jurus'lamat mereka, menyadarkan mereka bahwa tanpa Kristus mereka akan binasa.

PESAN PENGINJILAN

INJIL adalah berita anugerah Allah. Berita anugerah yang meliputi :

  1. Pengenalan akan Allah yaitu sifat-sifat-Nya yang kudus, benar, adil dan mulia serta tuntutan-Nya terhadap manusia ciptaan-Nya untuk menyembah dan memuliakan Dia.
  2. Kesadaran manusia akan dosa. Injil menyatakan betapa kita telah jatuh, gagal memenuhi hukum-hukum Allah. Kita telah terhukum, tak berdaya diperbudak oleh dosa, dan berada di bawah hukuman Allah. Dan, tidak ada suatu pun yang dapat manusia perbuat untuk memperoleh perkenanan Allah. Injil menuntun kita kepada keputusasaan terhadap diri sendiri. Ini adalah langkah yang penting untuk datang kepada Kristus, memohon anugerah keselamatan dari Tuhan.”Setiap orang sedang menghadapi masalah. Kita semua mempunyai masalah. Tidak ada satu orang pun yang lebih baik daripada yang lain. Kita semua sangat membutuhkan Tuhan. Sesungguhnya tidak ada tempat bagi kesombongan dan tidak ada tempat bagi perasaan minder.”
  3. Berita tentang Kristus: Kristus adalah Tuhan yang bangkit, Jurus'lamat yang sempurna, Anak Domba Allah yang mati bagi dosa saudara dan saya. Penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke sorga adalah inti Injil (1 Kor. 15:3-4).
  4. Kelahiran baru dan pertumbuhan rohani. “Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:6-7).

MOTIVASI PENGINJILAN

Pernahkah saudara membayangkan, motif apa yang ada di balik peristiwa pembunuhan secara besar-besaran oleh Hitler terhadap suku bangsa Yahudi pada masa perang dunia kedua? Nah, sekarang mari kita pikirkan dan renungkan apa yang menyebabkan Allah rela mengutus Putra Tunggal-Nya ke dalam dunia? Sesungguhnya, inkarnasi Allah di dalam Kristus Yesus menjadi bukti yang autentik dan kekal akan Kasih Allah yang tanpa syarat. Kasih itu telah dibuktikan kepada alam semesta dan secara khusus kepada manusia berdosa. Allah itu kasih adanya (1 Yoh 4:8). Sehingga ada 2 hal pokok yang menjadi motivasi kita dalam memberitakan Injil :

  1. Kasih kepada Allah dan keriduan akan kemuliaan-Nya
    Mengasihi Allah berarti menuruti perintahNya (1 Yoh. 2:5). Perintah Agung yang Tuhan berikan sebelum Ia naik ke sorga adalah untuk, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu.” Ini adalah perintah untuk seluruh murid Kristus, perintah bagi gereja sepanjang masa.
  2. Kasih kepada sesama dan kepedulian kepada pekerjaan-Nya
    Siapa sesama kita yang membutuhkan Injil? Kisah orang Samaria yang baik hati menunjukkan kepada kita bahwa sesama kita adalah orang yang kita temui dan sangat membutuhkan Tuhan. Allah menempatkan dia di sana supaya kita dapat menolong dia. Jadi, kita berhubungan dengan teman-teman yang di luar Kristus dan berada di bawah hukuman Allah. Kita harus melihat mereka sebagai sesama yang membutuhkan pertolongan Tuhan melalui kita, dan mari kita tanya pada diri kita, apa yang harus kita perbuat untuk membawanya kepada Kristus. Memberitakan Injil merupakan hak istimewa, hal yang luar biasa untuk dapat menceritakan kasih Kristus kepada orang lain. Menyadari bahwa kita membagikan hal yang terpenting dalam hidup mereka.

TANTANGAN PENGINJILAN

Bila kita amati, kondisi zaman ini sesungguhnya tidak berbeda dengan apa yang telah Paulus nyatakan di dalam suratnya kepada Timotius, bahwa “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah,mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti haaw nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka mereka menjalankan ibadah mereka tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu.” (2 Tim. 3:2-5). Siapa sesungguhnya pribadi yang berada di balik kebebalan hati manusia dan membutakan pikiran manusia sehingga tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus? Musuh Injil yang terbesar adalah Iblis, yang menjadi ilah zaman ini. Kuasa yang mengeraskan hati manusia sehingga tertutup terhadap kebenaran Injil. Namun, Rasul Paulus tidak berharap supaya Timotius tawar hati (mundur) atau bahkan hanya menjadi penonton saja. Perintahnya jelas sekali, “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang mengajarkannya kepadamu.” (ayat 14). Perintah itu pun berlaku buat kita saat ini. Apa sesungguhnya harapan Paulus? Rasul Paulus ingin menegaskan bahwa Timotius harus tetap bertekun dalam berita Injil meskipun dunia menolak dan Iblis semakin berusaha menghambat. Kita juga harus tetap setia dan berpegang teguh pada Firman Tuhan. “Karena Allah tidak menetapkan kita (manusia) untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus Tuhan kita.” (I Tes 5:9).

Dua bait syair lagu di bawah ini mengajak kita untuk mengevaluasi hidup kita. Sudah seberapa besar kesungguhan kita di hadapan Tuhan dalam menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk memberitakan Injil-Nya:

Sudahkah yang terbaik kuberikan
Kepada Yesus Tuhanku
Besar pengorbananNya di kalvari
Diharapnya terbaik dariku.

Reff : Berapa yang terhilang t’lah kucari
dan kulepaskan yang terbelenggu
sudahkah yang terbaik kuberikan
kepada Yesus Tuhanku.

Telah kuperhatikankah sesama
Atau kubiarkan tegar ?
‘Ku patut menghantarnya pada Kristus
Dan kasih Tuhan harus kusebar.

Kiranya Tuhan menolong kita menggenapi Firman-Nya.

Hidup Seorang Pelayan Tuhan

Kisah Para Rasul 20:17-38

Sangat mudah bagi seorang pelayan Tuhan untuk hanya terfokus pada aktifitas pelayanan yang sedang dia jalani. Ketika aktifitas demi aktifitas menjadi fokus utama kita, maka kita akan makin sulit menghayati esensi panggilan kita sebagai seorang pelayan Tuhan yang bertanggung jawab kepada orang-orang yang kita layani (bukan kepada program). Di sisi lain, kita harus tetap peka terhadap pimpinan Tuhan dalam hidup pelayanan kita. Dalam Kisah 20:17-38 ini, kita bertemu dengan hidup Rasul Paulus sebagai pelayan Tuhan pada masa akhir tiga tahun pelayanannya di Jemaat Efesus. Melalui teladan rasul Paulus, kita akan belajar prinsip-prinsip bagaimana kita seharusnya hidup sebagai seorang pelayan Tuhan, khususnya dalam peran sebagai gembala kepada orang yang dilayani dan juga dalam hal kepekaan terhadap pimpinan Tuhan. Semoga melalui artikel ini, kita dapat terus melayani dan menyenangkan Tuhan yang telah memanggil kita sebagai pelayan-pelayanNya.

Jemaat Efesus adalah jemaat yang sangat beruntung karena tiga tahun lamanya Paulus tinggal disana (Ay.31). Sekarang sudah tiba waktunya bagi Paulus untuk meninggalkan kota Efesus menuju Yerusalem untuk menghadiri Pentakosta. Tentunya, ini adalah perpisahan yang sangat mengharukan antara sang Rasul dengan jemaat Efesus yang diwakili oleh para penatua Jemaat (Ay.17). Perpisahan ini terasa begitu mengharukan, selain karena hubungan yang sangat erat terjalin selama bertahun-tahun, juga dikarenakan sang Rasul mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat muka Paulus lagi (Ay.38). Betapa mengharukan dan kejadian itu dan dukacita Ilahi memenuhi mereka. Rindukah saudara mengalami relasi yang sedemikian mendalam dengan jemaat yang saudara layani? Ada beberapa hal yang menjadi kunci dari pelayanan Rasul Paulus yang perlu kita teladani.

Pertama, pelayanan yang berorientasi jiwa atau Man Oriented (Ay 18-21, 26, 27). Hal pertama yang menjadi rahasia pelayanan dari sang rasul adalah pelayanan yang berorientasi dan mencintai setiap jiwa yang dipercayakan Allah. Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan, “Kamu tahu bagaimana aku hidup di antara kamu sejak aku pertama tiba di Asia ini” (Ay.18b). Pernyataan tersebut baru bisa benar apabila orang yang melayani bergaul akrab dengan orang yang dilayani. Keterbukaan model seperti ini hanya bisa terjadi bila orang yang melayani mempunyai orientasi kepada jiwa (man oriented), bukan sekedar berorientasi menjalankan program (program oriented), yang penting programnya berjalan, beres.

Orientasi kepada jiwa bisa dilakukan bila kita melayani jemaat Allah dengan segala kerendahan hati (Ay.19a). Saudara, siapakah Paulus? Dia orang yang luar biasa terpandang dari segi martabat dan dari segi intelektual, tapi ia melupakan semua itu demi orang yang dilayaninya. Bahkan, demi orang-orang yang dilayani ini, Paulus rela bekerja dengan tiada henti menasihati mereka. Dan, seringkali dalam menghadapi mereka, tanpa terasa air matanya berjatuhan (Ay.31). Air mata sang rasul adalah tanda dari ungkapan hati yang terdalam akan jemaat (meskipun bukan satu-satunya tanda). Air mata tersebut kadang adalah air mata sukacita karena melihat jemaat yang bertobat. Kadangkala juga merupakan air mata kesedihan melihat jemaat yang hidupnya tetap cemar walaupun mengaku jemaat Allah. Entah jenis air mata apalagi yang tercurah dari dalam hati sang rasul, tapi yang pasti air mata tersebut menandakan cintanya yang besar akan orang-orang yang sedang dilayaninya. Tidak hanya sekedar memberitakan injil dengan sepenuh hati, sang rasul juga mengabaikan haknya untuk dipelihara oleh jemaat. Ia rela bekerja keras demi tidak memberatkan jemaat yang dilayani tersebut (Ay.34). Betapa mengharukan kecintaan sang rasul kepada jemaat tersebut, walaupun nyawanya terancam oleh orang-orang yang mau mengusir bahkan mau membunuh dirinya (Ay.19b).

Dalam tantangan yang ada, Paulus tetap bertahan melayani jemaat tersebut karena ia sangat menghargai setiap jiwa yang percayakan Allah kepadanya. Oleh karena itu, Paulus tidak melalaikan (I have not hesitated) apa yang berguna bagi jemaat, yaitu seluruh maksud Allah kepada jemaat (Ay.20a & 27). Agar setiap orang dapat mendengar injil Allah, berbagai cara dilakukan oleh Paulus (Ay.20b). Baik melalui pelayanan publik (khotbah ditempat umum atau rumah ibadat), juga dalam pelayanan pribadi (NIV: from house to house). Pelayanannya juga tidak memandang status atau kedudukan orang yang dilayani. Setiap orang yang bisa dilayani, akan dilayani. Hal ini terangkum dalam ayat 21, baik orang Yahudi maupun orang Yunani diinjili supaya mereka berbalik kepada Allah dengan pertobatan dan beriman kepada Tuhan Yesus. Pendeknya, segala cara dilakukan untuk menjangkau segala macam orang oleh Paulus. Sehingga pada akhir pelayanannya di Efesus, ia bisa menghadapinya tanpa penyesalan (Ay.26, 27).

Kedua, pelayanan yang berpusat pada Allah atau God Centered (Ay.22-25). Betapa pun kita mencintai suatu jemaat atau pelayanan yang telah Tuhan percayakan, bagian kita tetaplah pelayan. Arti sederhana dari pelayan adalah siap ketika sang tuan memberi perintah dan melakukan tugas yang baru. Bahkan walaupun demi melakukan tugas tersebut, kenyamanan atau pun jiwa kita dipertaruhkan. Inilah rahasia kedua dari pelayanan sang Rasul. Hidupnya adalah untuk menuruti kehendak Allah dan nyawanya tidak dihiraukan sedikit pun demi menyenangkan sang Tuan, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” itulah ucapan yang pernah sang rasul keluarkan dalam suratnya kepada jemaat Filipi. Inilah juga teladan yang telah dengan sempurna diperagakan oleh sang Allah sendiri dalam rupa Yesus Kristus “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh.4:34).

Walaupun Paulus sangat mencintai jemaat Efesus, ada waktunya ia harus siap melakukan tugas baru yang dipercayakan Allah kepadanya. Setelah tiga tahun melayani di Efesus, selesailah tugasnya (Ay.25) dan tibalah saatnya Allah mengutus Paulus kepada pelayanan di tempat lain. Inilah tugas baru yang diberikan Allah kepada sang rasul. Bagi Paulus, arti hidupnya adalah melakukan kehendak Allah sehingga keinginannya adalah menyenangkan Allah. Walaupun ia punya kehendak bebas, ia mengatakan dirinya adalah 'tawanan Roh' (Ay.22). Dengan step-by-step, Paulus berusaha taat kepada Allah, dia hanya tahu bahwa penjara dan sengsara menunggunya (Ay.23). Apakah Paulus manusia super? Otot kawat, tulang besi? Tidak! Dia manusia biasa, tetapi yang berbeda dengan kita adalah ketaatan Paulus kepada Allah dan keyakinannya akan penyertaan Allah dalam kehidupan-Nya mau pun kematiannya (Ay.24). Luar biasa!

Bisikan Roh tentang nasib Paulus juga sampai kepada murid-murid lain (perhatikan 21:4, 10-12). Walaupun sudah diperingatkan oleh para murid yang lain, mengapa Paulus tetap mencari bahaya dengan pergi ke Yerusalem? Bukankah Roh yang sama yang sebelumnya telah memberitahu Paulus, sekarang memperingatkan Paulus melalui murid-murid dan nabi Agabus? Bahwa Paulus akan mengalami sengsara, diikat oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan bangsa-bangsa lain. Lalu mengapa sang rasul tetap nekat pergi ke Yerusalem? Jawabannya terletak pada pasal 21:13 “...sebab aku ini rela, bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus”. Paulus bisa melihat justru inilah yang Allah inginkan untuk hidupnya, sementara murid-murid hanya bisa melihat sebatas diri Paulus yang akan mengalami celaka dan sengsara. Paulus bisa melihat melampaui penderitaan dirinya dan bahwa itulah kehendak Allah yang terbaik bagi dirinya. Saya percaya panggilan mula-mula dari Paulus turut menguatkan dia, bahkan meneguhkan bahwa penjara dan sengsara ini adalah kehendak Allah untuk dirinya (Kis.9:15-16). Sungguh mengharukan, inilah teladan hamba Allah yang sejati. Rela pergi kemana pun Allah memimpin, rela serahkan kenyamanan pribadi, bahkan rela serahkan nyawa demi menyelesaikan tugas yang diberikan Sang Tuan, yaitu Allah sendiri. Inilah contoh nyata bahwa kehendak Allah kadang melampaui kenyamanan pribadi, berkat pemeliharaan fisik dan materi seperti yang sering diteriakan dengan lantang oleh beberapa orang yang mengaku dirinya hamba Tuhan: "Ikut Tuhan pasti Tuhan pelihara, ikut Tuhan pasti bebas dari sengsara, ikut Tuhan hidup pasti berlimpah materi." Saudaraku, itulah contoh pelayanan yang berpusat pada diri, bukan kepada Tuhan. Ikut Tuhan penuh dengan resiko dan ketidakpastian. Siap ketika Tuhan menyuruh pergi ke tempat yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, ladang yang baru, dan seterusnya. Pemeliharaan Tuhan melampaui berkat materi, fisik dan kenyamanan pribadi. Bukankah Yesus merupakan contoh sempurna orang yang melakukan kehendak Allah dengan sempurna? Yaitu mati di kayu salib. Di mata manusia, Yesus orang yang paling malang, tetapi Alkitab justru menyaksikan bahwa Allah sangat memuliakan Dia (Fil.2:5-11). Bagaimana dengan saudara? Siapkah ketika Allah utus kedalam ladang pelayanan yang baru? Beranikah saudara merelakan kesenangan pribadi demi menjalani kehendak Allah?

Ketiga, kesadaran bahwa pelayanan adalah milik Allah atau God’s Ministry (Ay.28-32). Paulus sangat menyadari bahwa setelah ia pergi akan muncul serigala-serigala ganas yang akan mengacaukan jemaat, yaitu pengajar-pengajar palsu yang akan menarik orang dari ajaran yang benar  (Ay.29, 30). Lalu mengapa Paulus tetap memutuskan untuk pergi? Selain poin 2 diatas, Paulus juga menyadari bahwa pelayanan adalah milik Allah. Allah yang akan memelihara jemaat-Nya. Allah yang akan terus memanggil generasi-generasi baru untuk melayani dia. Bahkan untuk kota Efesus, Allah telah memanggil dan meneguhkan para penatua menjadi gembala yang baru untuk pelayanan di Efesus (Ay.28). Allah melalui Roh Kudus menetapkan penilik untuk menjaga kawanan domba-Nya. Luar biasa, ketika Allah memberi tugas pelayanan baru kepada Paulus, Allah tidak melalaikan jemaat-Nya. Ia menyediakan gembala-gembala baru untuk jemaat-Nya. Allah lah pemilik pelayanan, Allah lah yang lebih mencintai jemaat-Nya dibandingkan dengan siapa pun. Nilai jemaat di mata Allah adalah luar biasa berharga. Nilai jemaat adalah nilai darah Kristus, karena jemaat diperoleh dengan mencurahkan darah Kristus (Ay.28). Bagian kita adalah mengerjakan pelayanan Allah sebaik-baiknya bila dipercayakan suatu jemaat, menjaga mereka dari serigala-serigala jahat, dan memberi mereka Firman agar terus bertumbuh (Ay.31). Tugas mulia yang dahulu dipercayakan kepada Paulus, pada saatnya akan diregenerasikan kepada orang lain yang telah Allah panggil. Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa pelayanan bukanlah milik kita, Allah lah sang pemilik pelayanan (Ay.32). Sudahkah kita sadar bahwa kita tidak akan selamanya melayani suatu jemaat? Sudahkah kita mengerjakan dengan baik bagian kita selama masih dipercayakan? Sudahkah kita mempersiapkan pengganti-pengganti bagi pelayanan kedepan.

Keempat, kesadaran bahwa pelayanan adalah kesatuan tubuh Kristus atau One Body of Christ (Ay.33-36). Hal terakhir dalam bagian ini yang dapat kita pelajari dari hidup rasul Paulus adalah usaha untuk menyadarkan jemaat tentang kesatuan antar orang percaya sebagai satu tubuh Kristus. Inilah hal yang sangat diperjuangkan Paulus dengan sepenuh hati. Jemaat di Yerusalem pada waktu itu adalah jemaat yang miskin secara ekonomi. Dalam perjalanan misinya, Paulus sering mendorong jemaat untuk mengumpulkan dana demi jemaat di Yerusalem (I Kor.16:1, 2 Kor.9:1, Rom.15:25-26). Jemaat Efesus pun dimotivasi untuk ikut merasakan penderitaan sesama tubuh Kristus dan membantu mereka. Dan, agar jemaat tidak salah paham, Paulus menegaskan motivasi hatinya. Dia tidak pernag menginginkan perak, emas, ataupun pakaian dari siapa pun demi kepentingan pribadinya (Ay.33). Motivasinya tersebut terwujud dalam kehidupannya. Seharusnya sebagai hamba Allah, ia berhak dipelihara oleh jemaat, tetapi tidak mengambil haknya. Ia bekerja memenuhi kebutuhan dirinya dan juga teman-teman perjalanannya (Ay.34). Itulah contoh nyata yang diperagakan sang rasul yang berasal dari pengajaran Yesus sendiri (Ay.35). Kesatuan Gereja sebagai satu tubuh begitu diperjuangkan oleh Paulus. Mengenai kesatuan ini, John Calvin mengatakan, “Melampaui tembok-tembok gereja, berdirilah gereja yang sebenarnya, gereja yang kudus dan am.” Oleh karena itu, kesulitan dan penderitaan suatu jemaat di tempat lain adalah juga kesulitan dan penderitaan kita sebagai sesama orang percaya. Dan, kesatuan ini bukan sekedar menjadi niat di hati atau pun ucapan bibir, melainkan harus terwujud dalam tindakan. Sudahkah kita membantu saudara-saudara kita di sekolah, kampus, atau gereja lain?

Biarlah melalui teladan rasul Paulus, kita bisa berkaca dan memperbaiki hidup kita dalam mengerjakan pelayanan yang sedang Tuhan percayakan. Semoga hidup kita makin menjadi pelayan Tuhan yang sejati: Seorang pelayan yang berorientasi jiwa (Man Oriented); Pelayan yang berpusat pada Allah (God Centered); Pelayan yang memiliki kesadaran bahwa pelayanan adalah milik Allah (God’s Ministry); Pelayan yang menjiwai kesatuan tubuh Kristus (One Body of Christ). Semoga kita dapat terus melayani dan menyenangkan Tuhan yang telah memanggil kita sebagai pelayan-pelayan-Nya. Soli Deo Gloria.