Mengingat Kasih Setia Allah

Bangsa Israel telah mengalami kebaikan Allah, bahkan bukan sekedar kebaikan tetapi mujizat. Salah satu mujizat itu adalah mereka dapat menyebrangi Sungai Yordan yang kondisi airnya sangat deras, Ia sanggup menghentikan air yang deras agar bangsa Israel dapat menyeberanginya. Namun menarik, setelah peristiwa tersebut Allah tidak memerintahkan mereka untuk langsung melanjutkan perjalanan melainkan membentuk batu peringatan.

Dalam Yosua 4, Allah memerintahkan mereka untuk mengangkat batu sesuai jumlah suku dan meletakkannya di tengah-tengah Sungai Yordan untuk menjadi batu peringatan, “Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: ‘Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini? maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! — sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkan-Nya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang, supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu.” – Yosua 4:21-24.

“Melupakan kebaikan Allah adalah musuh dari Iman”

Mengapa batu peringatan penting? Saya pernah menemukan sebuah quote yang mengatakan, “Melupakan kebaikan Allah adalah musuh dari Iman”. Menurut saya hal ini sangatlah tepat, kita harus selalu mengingat setiap kebaikan Allah. Bukan suatu kebetulan Allah memberikan berbagai kebaikan di sepanjang perjalanan hidup kita, tetapi Allah ingin pengalaman tersebut menjadi pendorong dan penyemangat dalam kehidupan kita ke depan terutama ketika dalam keadaan penuh dengan tantangan dan kesulitan. Mengingat kasih setia Allah juga membuat kita dapat menaikkan penyembahan dan syukur yang murni dan dalam kepada Allah betapa kasih-Nya sungguh nyata di tengah-tengah dunia ini.

Tidak hanya bangsa Israel yang mengalami kebaikan Allah, IFES (International Fellowship of Evangelical Students) juga mengalami kebaikan Allah. Salah satu kebaikan Allah yang patut juga kita ingat adalah lahirnya IFES pada tahun 1947 di Harvard University, Amerika Serikat. Tidak ada yang menyangka jika pelayanan mahasiswa yang didirikan oleh 10 gerakan pelayanan mahasiswa kini telah berkembang hingga terdapat di 160 negara, termasuk di Indonesia yang secara resmi bergabung pada tahun 2003 dengan nama PERKANTAS (Persekutuan Kristen Antar Universitas). Perkantas sendiri adalah buah pelayanan dari tiga orang mahasiswa yang menikmati IFES - Australia (AFES) saat berkuliah di sana, yaitu Jonathan Parapak, Jimmy Kuswadi, dan (Alm.) Soen Siregar yang kemudian merintis pelayanan Perkantas di Indonesia pada tahun 1960-an.

Kebaikan Allah juga dirasakan oleh IFES (International Fellowship of Evangelical Students) dan Perkantas Indonesia

Tidak sampai di situ, kebaikan Allah juga nyata melalui dukungan beberapa orang dari berbagai negara. Hal tersebut terdapat dalam artikel yang ditulis oleh Sutrisna Harjanto, Staf Senior Perkantas, dalam Oratio edisi Maret 2006, yang mengatakan: “Para staf IFES dari beberapa negara tetangga secara teratur mengunjungi Indonesia untuk bersekutu, berdoa bersama, dan memberi pembinaan-pembinaan. Nama-nama seperti Chua Wee Hian, Ada Lum, dan Ellie Lau menjadi akrab di telinga generasi terdahulu karena mereka berulang kali berkunjung ke Indonesia untuk memberi dukungan moral bagi perintisan pelayanan di Indonesia. Selanjutnya dalam masa pertumbuhan pelayanan Perkantas pada dekade-dekade berikutnya, nama beberapa Regional Secretary IFES East Asia seperti Bell Magalith, Koiichi Ottawa, dan Gideon Yung bukan nama yang asing bagi banyak staf dan pengurus pelayanan Perkantas karena mereka berulang kali datang untuk bersekutu, berbagi, dan menyampaikan pembinaan bagi staf, pengurus, dan mahasiswa”

Pelayanan yang tadinya hanya berfokus pada pelayanan mahasiswa, sekarang pun telah berkembang sehingga di beberapa negara juga terdapat pelayanan siswa dan Pelayanan Alumni. Injil semakin luas diberitakan di seluruh dunia, bahkan mungkin kita juga adalah salah satu orang yang mengenal Tuhan Yesus Kristus karena Ia memakai pelayanan IFES atau Perkantas Indonesia untuk membawa mengenal Injil keselamatan.

Kiranya Allah terus memakai IFES di seluruh dunia menjadi alat yang efektif dalam mengabarkan kabar baik itu.

Mungkin kita tidak memiliki batu peringatan secara harafiah seperti bangsa Israel, namun untuk mengingat kebaikan Allah tersebut IFES memiliki salah satu momen tahunan yang bernama World Student Day. World Student Day adalah acara tahunan yang mempersatukan seluruh gerakkan pelayanan IFES (siswa, mahasiswa, staf, dan orang-orang yang mendukung) di seluruh dunia setiap hari Jumat ketiga bulan Oktober. Tujuannya adalah untuk merayakan apa yang telah Allah kerjakan melalui IFES serta saling mendoakan antar-negara apa yang menjadi kebutuhan dan tantangan ke depan. Tentu ini adalah momen yang indah karena kita bisa mengingat kasih setia Allah dan mendoakan gerakan pelayanan IFES di negara-negara lain. Jadi mari kita rayakan momen ini dan juga doakan agar Injil juga sampai kepada banyak orang lainnya di dunia terutama mereka yang berada di negara-negara yang sulit. Kiranya Allah terus memakai IFES di seluruh dunia menjadi alat yang efektif dalam mengabarkan kabar baik itu. Soli Deo Gloria!

Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar” - Yesaya 63:7

Amanat Agung KITA

Sejak kedatangan Yesus, banyak orang yang rela mati untuk kebenaran Injil. Hal ini dimulai dengan murid-murid yang sangat mengenal-Nya sehingga mereka pun meresikokan hidup mereka untuk kebenaran ini. Injil itu telah mengubah banyak jiwa-jiwa yang telah meresponi pesan dari Injil tersebut.

Apa itu Injil?

Injil dalam Bahasa Inggris dituliskan sebagai gospel yang berasal dari Bahasa Yunani euanngelion. Kata ini memiliki arti kabar baik. Dalam Perjanjian Baru secara khusus mengarah kepada kabar baik dari Allah kepada manusia mengenai Yesus Kristus. Paulus mendefinisikan Injil dengan singkat sebagai berikut: “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, . . . bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.“ (1 Kor.15 : 1-4).

Injil lebih dari sekedar tiket masuk Surga

Injil merupakan undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah yang Maha Kasih. Injil memberitakan siapa itu Yesus sehingga kita bisa melihat karya anugerah-Nya bagi manusia berdosa.

Injil menyatakan secara eksklusif menjadi satu-satunya jalan kepada Tuhan. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Mengapa kita perlu memberitakan Injil?

J. I. Packer menuliskan setidaknya ada dua motif yang seharusnya mendorong seseorang untuk terus menerus menginjili. Motif pertama adalah kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia; motif kedua adalah kasih kepada sesama manusia dan kepedulian akan keselamatan mereka.

1. Kasih kepada Allah dan kerinduan untuk memuliakan Dia.

Perintah pertama dan terutama adalah “Kasihilah, Tuhan Allahmu” (Mat.22:37). Ketika kasih Allah kepada kita telah nyata melalui karya salib Kristus, maka kita pun mengasihi Dia dengan mewujudkannya melalui ketaatan kita. “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” kata Tuhan Yesus (Yoh.14:21).

Penginjilan adalah perintah Allah sendiri. Kristus berkata, “Injil Kerajaan ini akan (menurut Markus: “harus”) diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa” (Mat.24:14; Mrk.13:10). Sebelum naik ke sorga, Kristus memberi perintah pada murid-murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” (Mat.28:19) disertai dengan janji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat.28:20). Janji ini diberikan untuk menguatkan hati setiap murid karena besar dan sulitnya tugas yang diamanatkan oleh Yesus. Di sisi lain, janji ini mengajarkan kepada setiap orang percaya tugas yang harus dikerjakan senantiasa sampai akhir zaman.

Jonathan K. Dodson menjelaskan amanat yang Yesus berikan ini berfokus pada memaklumkan Injil kepada mereka yang belum menjadi murid dan mengajarkan Injil kepada mereka yang sudah menjadi murid. Yesus mengutamakan Injil, yang menjadikan seseorang murid dan mendewasakan murid. Injil adalah pokok dalam menjadikan seseorang murid, sehingga seorang murid dapat menyerahkan kehidupan lamanya untuk menghidupi kehidupan barunya. Kehidupan baru seorang murid berarti menjadikan Yesus sebagai Tuhan (yang berkuasa) atas seluruh hidupnya dan mendorongnya dalam keataan kepada Allah.

Melalui penginjilan kita memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Allah lakukan untuk manusia berdosa. Allah dimuliakan ketika karya kasih karunia-Nya yang penuh kuasa diberitakan.

Sekretaris International Fellowship of Evangelical Students (IFES) bernama Vinoth Ramachnadra menyatakan “Susunan dan gaya hidup gereja adalah pusat dari Injil Kerajaan Allah. Kapan pun kita menjumpai sekelompok orang (katakanlah di Universitas, perumahan atau kantor) yang menghidupi komitmen penuh kepada Yesus Kristus, dan mempertanyakan dari cara hidup mereka, nilai-nilainya, pola pemikiran, dan struktur sosial di sekitar mereka, kita dapat secara percaya diri menyatakan bahwa kerajaan Allah hadir di sana.”

2. Kasih kepada sesama manusia dan kerinduan untuk melihat mereka diselamatkan.

Apakah yang lebih dibutuhkan manusia selain kebutuhan untuk mengenal Kristus? Apakah kebaikan yang lebih besar bagi sesama selain memberitakan pengenalan tentang Kristus? Jika kita mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka kita ingin mereka menikmati keselamatan yang begitu berharga bagi kita. Naluri itu muncul ketika kita melihat kebutuhan sesama akan Kristus. Memberitakan Injil adalah hal istimewa; mengabarkan kasih Kristus kepada orang lain merupakan hal yang indah, karena kita tahu tidak ada hal lain yang lebih mendesak untuk mereka ketahui, dan tidak ada pengetahuan yang lebih berguna bagi mereka. Karena itu kita tidak perlu enggan dan takut membagikan kabar baik itu kepada semua orang. Kita seharusnya melakukan hal ini dengan gembira dan sukacita.

Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Melihat betapa penting Injil bagi kehidupan manusia, banyak lembaga pelayanan, persekutuan siswa maupun mahasiswa, serta institusi gereja yang menekankan penginjilan. Penginjilan yang dapat diartikan sebagai pemberitaan Injil. Jika mengingat penjelasan Jonathan K. Dodson pada bagian sebelumnya, maka sesungguhnya Injil perlu diberitakan terus-menerus melalui setiap kesempatan yang ada. Bukan sekedar sebuah program yang dijalankan di 3 bulan pertama ketika ada siswa mahasiswa baru maupun karena sedang memasuki “bulan penginjilan.”

Semua strategi, metode, maupun kegiatan baik melalui media mimbar khotbah, media sosial, media persahabatan dan media lainnya yang digunakan untuk memberitakan Injil sudahkah mendorong seseorang untuk terus memaknai Injil sebagai undangan kepada hidup baru, pengampunan dosa, dan hubungan kekal dengan Allah.

(Dimuat di Oratio edisi September 2017)

Perkantas dan Semangat Reformasi

Moto berbahasa Latin, "Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei" (artinya: "Gereja Reformed, selalu direformasi berdasarkan firman Allah"), telah menjadi salah satu diktum penting gerakan Reformasi di abad ke-16 dan gereja-gereja Reformasi sampai hari ini. Sekalipun formulasinya baru ditemukan di abad ke-17 dalam tulisan Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (Contemplation of Zion) di Amsterdam pada tahun 1674. Moto ini secara historis tidak pernah dimaksudkan untuk melegitimasi segala macam inovasi dalam berteologi, sebagaimana banyak orang di zaman sekarang salah mengartikannya. Moto ini lahir pada masa gereja sedang berusaha untuk memurnikan diri dari segala bentuk inovasi manusia yang asing terhadap Alkitab. Dengan prinsip Sola Scriptura, gereja berikrar mereformasi diri dengan panduan Alkitab sebagai standar tertinggi dalam kehidupan Kristiani. Di lain pihak, moto ini juga menyuratkan keterbukaan terhadap perubahan, sebuah sikap anti status quo yang saat itu diperankan oleh gereja Katolik Roma. Di sini tampak ada dua sisi dari satu mata koin semangat Reformasi, yaitu: mempertahankan kontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen yang Alkitabiah dan diskontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen maupun pengaruh zaman yang tidak Alkitabiah.

Kontinu dan Diskontinu

Kontinu

Kitab Nehemia khususnya di pasal 8-10 menjadi salah satu rujukan bagaimana reformasi mewujud. Dikisahkan bangsa Israel yang sudah menetap di kota-kotanya, berkumpul di halaman di depan pintu gerbang air. Mereka meminta Ezra sang ahli kitab membawakan kitab Taurat dan membacakannya di depan mereka (Nehemia 8:1-4). Bangsa Israel menghayati kepulangan ke kota nenek moyang bukan sekedar hanya membangun kembali kehidupan sebagai sebuah bangsa. Tujuan utama mereka adalah membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan, serta pemulihan persekutuan Tuhan dan umat. Taurat pun dibacakan oleh imam Ezra di hadapan bangsa Israel. Dengan bantuan 13 orang Lewi, Taurat yang dibacakan diberikan keterangan-keterangan yang dapat dimengerti (8:5-9). Pada ayat-ayat berikutnya dicatat bagaimana bangsa Israel meresponi Taurat (8:10-9:37) hingga membuat satu piagam perjanjian sebagai bukti tertulis Reformasi umat (9:38-10:39). Sebuah commentary memberi judul pasal 8 "The Foundation of Reformation". Pembacaan dan pemberian keterangan yang jelas pada Firman Tuhan telah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dengan demikian bangsa Israel mengalami reformasi.

Realita saat ini, Perkantas sedang dan terus berada dalam situasi orang-orang yang mencari pengajaran untuk sekedar memuaskan keinginan telinga (2 Tim. 4:3). Maka dari itu, Perkantas mengajarkan Firman di tengah beragam pengajaran yang mungkin lahir dari kesesatan (1 Tes.2:1), bergerak ditengah berbagai jenis pelayanan lain yang mungkin memiliki motivasi yang tidak murni dengan segala tipu daya (1 Tes 2:2). Di tengah realitas ini Perkantas harus terus memelihara semangat ad Fontes (latin: kembali ke sumber, dalam hal ini Alkitab sebagai sumber primer iman Kristen) sebagaimana disuarakan dalam Reformasi. Semangat ini dapat dapat mewujud dalam:

  1. Pemberitaan firman yang ekspositori
  2. Pendalaman Alkitab pribadi dan kelompok
  3. Program pelayanan (goal, indikator, aktivitas dan evaluasi pelayanan) yang kontekstual (the world) berdasarkan penggalian teks Alkitab (the word)

Diskontinu

Tidak mudah menjaga semangat reformasi. Orang Yahudi yang telah mengikat perjanjian (Neh.10) berusaha menegakkan Taurat sedemikian ketat. Namun, dalam perjalanan mereka tergelincir kepada apa yang disebut Jaroslav Pelikan dalam bukunya The Vindication of Tradition sebagai Tradisionalisme (hidup dalam ritual namun kehilangan esensinya yaitu beriman kepada Tuhan). Dalam Injil, Yesus memperingatkan orang Yahudi dalam berbagai kesempatan pelayanan-Nya. Dan, dalam sebuah perumpamaan, Yesus menunjuk orang Yahudi sebagai anak sulung yang juga hilang (Luk.15:11-32). Dalam catatan sejarah paska Reformasi yaitu pada tahun 1685-1725, semangat rasionalisme modern merasuk ke dalam tubuh para pemikir Reformed. Integrasi-integrasi dilakukan. Model penafsiran Alkitab yang pre-critical textual, eksegetikal, dan hermeneutikal mengalami tekanan besar, seiring dengan pergeseran kerangka filsafat yang biasanya digunakan oleh para teolog zaman itu. Dari pendekatan Christian Aristotelian ke salah satu dari dua opsi ekstrem yaitu varian gerakan rasionalisme yang baru populer atau, dogmatika yang sama sekali anti terhadap filsafat. Kenyataan yang disesalkan adalah tidak semua integrasi tersebut dilakukan dengan prinsip Sola Scriptura. Namun, di tengah situasi demikian, muncul gerakan-gerakan yang berusaha melanjutkan semangat reformasi, antara lain: gerakan Pietisme di Jerman, Nadere Reformatie (Further Reformation) di Belanda, dan Puritanisme di Inggris pada saat yang hampir bersamaan. Semua gerakan itu mengembalikan Reformasi kepada hakikatnya yaitu Reformasi kehidupan Spiritual yang dibangun atas kebenaran Firman.

Perkantas yang sudah berusia 44 tahun pun rentan menyimpang dari semangat Reformasi, alih-alih memelihara tradisi justru bisa jatuh kepada tradisionalisme. Pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni masih terus dikerjakan bahkan aktivitas semakin banyak, tetapi amat rentan kehilangan esensi dari berbagai aktivitas tersebut. Perkantas juga rentan disusupi berbagai varian gerakan rasionalisme dalam memahami Firman, berbagai pemahaman teologi populer, berbagai metode yang sedang tren dalam membangun pelayanan yang sesungguhnya jauh dari prinsip Sola Scriptura.

Kiranya Perkantas terus berjaga-jaga dengan dirinya dan ajarannya. Dengan sikap berjaga-jaga, kehadiran Perkantas pun dicatat dalam sejarah kekristenan sebagai penerus semangat Reformasi. Melakukan Reformasi berdasarkan Firman Tuhan.

(Dimuat di Oratio edisi Oktober 2015)

Form & Meaning

Saya berasal dari sebuah gereja yang dapat disebut sebagai gereja tradisional. Ada banyak tradisi baik yang saya warisi dari gereja saya semenjak kanak-kanak sampai saat ini. Salah satunya adalah lagu-lagu pujian hymnal yang saya kenal akrab karena sering dinyanyikan tiap minggu, walau saya belum mengalami maknanya saat itu. Kelak ini menjadi kenangan yang sangat berguna setelah saya mengalami hidup baru dalam Kristus.

Namun, harus saya akui ada momen-momen yang seharusnya menjadi momen rohani bagi saya telah berlalu begitu saja. Saya teringat masa-masa mengikuti kelas katekisasi, ketika sosok pendeta seolah menjadi ‘dua’ dalam pandangan mata saya di tengah rasa kantuk pada jam 3 siang di hari Minggu. Kendati demikian, saya tetap lolos mengikuti Sidi (pengakuan percaya) yang menjadi sebuah seremonial saja bagi saya. Pada masa-masa itu, saya juga mengikuti persekutuan mahasiswa di kampus. Di persekutuan mahasiswa inilah saya baru mengalami Injil dengan sesungguhnya. Hati saya diperbaharui oleh Injil yang saya dengar dan pelajari lewat kamp Perkabaran Injil, Persekutuan Jumat, PA kelompok dan Kelompok Kecil (KK), serta kegiatan lainnya. Hal itu terjadi pada tahun 1980-an. Pada waktu itu pelayanan Persekutuan mahasiswa baru berusia sekitar 5 tahun.

Mengapa bisa terjadi perbedaan seperti itu? Tentu ada banyak faktor. Salah satu faktor utamanya adalah gereja yang sudah berusia puluhan tahun mulai terjebak kepada tradisi. Kegiatan gereja dilakukan dengan teratur dan rapih tapi sering menjadi sebuah seremonial saja. Sedangkan persekutuan mahasiswa yang masih sangat baru waktu itu melakukan kegiatan pelayanannya dengan penuh penghayatan makna dan tujuannya. Tanpa makna dan tujuan yang jelas, pengurus PMK tidak akan mau mengerjakannya.

Saya masih ingat, kami akan terlebih dahulu bertanya ‘mengapa’ sebelum bertanya ‘bagaimana’ bila merencanakan sebuah program pelayanan. Namun, saat ini Perkantas bersama dengan persekutuan siswa dan mahasiswanya sudah tidak baru lagi, melainkan sudah masuk kepada pelayanan yang berusia ‘puluhan tahun’. Sebagai sebuah komunitas kerohanian ataupun sosial, Perkantas juga bisa terjebak kepada tradisi yang terbatas pada bentuknya saja tapi sudah kehilangan makna terdalamnya. Sudah ada banyak pemahaman, pola, kegiatan-kegiatan pelayanan Perkantas yang sudah berlangsung puluhan tahun, yang bila tidak hati-hati akan menjadi tradisi yang sepi makna dan kekuatan rohani. Tampaknya kita cenderung akan melakukan sebuah bentuk kegiatan yang sudah menjadi tradisi tanpa perlu mengerti dan menghayati maknanya. Apalagi bila tradisi itu diberi kekuatan hukum struktural atau organisasi, menjadi sebuah tata tertib atau kegiatan wajib.

Apakah tradisi itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar: perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan tradisi, melainkan haruslah dihayati maknanya.

Dari definisi di atas, kita melihat sebuah kenyataan bahwa tradisi itu adalah sebuah kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Kenyataan ini tidak bisa kita ubah. Semua komunitas yang berlangsung puluhan tahun bahkan ratusan tahun akan mengalaminya. Juga mungkin tidak perlu kita ubah karena ada tradisi yang memang baik dan patut diteruskan. Namun, penilaian atau anggapan bahwa suatu tradisi tertentu adalah yang paling baik dan benar itu seringkali membawa kita kepada bahaya melakukan tradisi tanpa makna. Sekalipun itu tradisi yang sangat baik dan masih “up to date”. Pasalnya, ketika kita sudah diyakinkan dan dikondisikan begitu rupa untuk melakukannya tanpa ragu, kita tidak terkondisikan untuk berjuang mencari maknanya.

Artikel ini bermaksud untuk mengajak Perkantas dengan seluruh komponen pelayanannya, bersikap kritis dan berjagajaga untuk tidak terjebak kepada jerat tradisi meneruskan “form” tanpa “meaning” supaya bisa terus dapat dipakai Tuhan menjangkau generasi muda zaman ini. Melewati usianya yang ke 40, Perkantas meninggalkan banyak kebiasaan yang diwariskan dari tahun 70-an. Sehingga pelayanan Perkantas pun bisa ada dalam bahaya melakukan tradisi kegiatan atau pola pelayanan tanpa menghayati maknanya. Apa yang saya alami di gereja tradisional dahulu, dapat dialami oleh siswa, mahasiswa, alumni, dan staf generasi sekarang. Kita tetap menjalankan bentuk kegiatan KK, Kamp, retret dsb, tapi kita tidak lagi mengerjakannya dengan makna, visi, misi yang sama. Saya sempat terkejut, ketika staf dan pengurus persekutuan sangat terkesan dengan ide KK berdasarkan profil. Bukankah, memang begitu seharusnya. Dulu tidak ada kewajiban harus pakai ataupun menyelesaikan buku Memulai Hidup Baru (red: buku penuntun Kelompok Kecil di kampus). Kami menggunakan buku tersebut karena buku MHB sangat menjadi berkat bagi kami dan kami teruskan kepada anak kelompok kecil kami. Kami menyelesaikannya karena apa yang dibagikan dalam MHB sangat berguna untuk menolong mahasiswa menjalani kehidupan barunya dalam Kristus. Sampai kini, sudah ada sekian angkatan yang memakai MHB karena itulah tradisi KK di kampusnya.

Tadinya saya pikir siswa, mahasiswa, dan staf baru yang bergantian masuk ke dalam ladang pelayanan siswa dan mahasiswa, bahkan bisa tiap tahun berganti, akan dapat luput dari bahaya tradisi ini. Pasalnya, mereka adalah orang-orang yang belum terjebak rutinitas. Namun, ternyata tidak. Tradisi bukan hanya sanggup menguasai ‘orang lama’ atau ‘orang tua’ yang sering kali disebut kelompok konservatif, tapi tradisi sanggup menguasai orang baru yang masuk ke dalam sistem yang sudah dikuasai oleh tradisi. Entahkah dia sebagai ‘korban’ tradisi atau kemudian menjadi pelaku tradisi.

Sebetulnya apa bahaya dari melakukan tradisi, tanpa menggali maknanya?

  1. Kita akan Kehilangan Generasi Kini dan Mendatang

Yesus berkata: “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Anggur yang baru menggambarkan Injil keselamatan, kabar sukacita yang tidak bisa ditampung dalam ‘kantong yang lama’ yaitu upacara seremonial. Puasa sebetulnya adalah sebuah bentuk ibadah yang melaluinya umat datang kepada Allah, memohon dan menerima belas kasihan dan rahmatNya. Namun, orang Farisi terjebak melihat puasa hanya sebagai bentuk ibadah yang harus dilakukan dengan teratur. Sebuah tradisi keagamaan yang wajib dilakukan. Mereka kehilangan makna ibadah puasa sehingga puasa menjadi upacara seremonial yang kaku. Tradisi seremonial tidak sanggup menampung berita Injil yang penuh sukacita dan kuasa. Seperti kantong lama tidak sanggup menyimpan anggur baru. “And by these very apt illustrations our Lord teaches us that it is a vain thing to attempt to mingle together the spiritual freedom of the gospel with the old ceremonies of the Law” (Calvin).

Hal yang sama juga bisa terjadi pada pelayanan Perkantas. Tradisi tanpa makna akan menjadi sebuah seremonial keagamaan yang tidak sanggup menampung kuasa Injil yang membebaskan. KKR, Kelompok PIPA (Perkabaran Injil lewat Pemahaman Alkitab), KK (Kelompok Kecil), PI Pribadi bila dilakukan tanpa penghayatan makna tidak bisa menjadi alat kasih karunia menghantar siswa, mahasiswa berjumpa dengan Kristus. Bila hal ini terjadi, maka tidak ada petobat baru dan tidak ada murid Kristus baru. Perkantas, PMK, PSK akan kehilangan generasi kini dan mendatang. Kita juga akan kehilangan generasi baru pemimpin yang sebenarnya. “Student today, leader tomorrow” tinggal menjadi slogan belaka.

  1. Kita Tidak Bisa Melakukan Kontekstualisasi Zaman

Ada tradisi baik yang harus terus kita lakukan. Tanggung jawab tiap generasi untuk terus menggali maknanya. Dan, tanggung jawab generasi sebelumnya untuk meneruskan makna tidak hanya berbentuk kegiatan atau pola pelayanan. “We need to pass onto the next generation the meanings and not just the form” (Perry Shaw). Tapi ada pola-pola atau kegiatan yang tidak lagi komunikatif dengan generasi sekarang. Kita harus sanggup menyampaikan Injil yang sama dengan ‘bungkus’ kegiatan yang berbeda. Disinilah tradisi bisa menghambat kontekstualisasi Injil. Tradisi yang tidak dihayati maknanya cenderung akan kaku dengan bentuk-bentuk yang diwariskannya. Kekakuan dan ketakutan ini timbul karena menaruh tempat yang sama tinggi antara bentuk dan makna. Sehingga muncul pemikiran bahwa merubah bentuk sama dengan merubah makna. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk sanggup membedakan antara bentuk ibadah dan makna. Bentuk boleh fleksibel bahkan diubah, tapi makna tinggal tetap.

  1. Tradisi tanpa Makna akan Menghasilkan ‘Penguasa-penguasa’ dalam Pelayanan bukan Pemimpin yang Melayani dengan Wibawa Rohani

Sebuah kalimat dari Perry Shaw, memberikan peringatan yang tajam akan bahaya ini: ‘The people who control the form have the political power; the people who control the meaning have the spiritual power, for good or evil. The people with either type of power determine who the church is really serving. The political power-keepers maintain a form and the spiritual power-keepers use that form intentionally to teach a spiritual lesson. The political power keepers want to keep or institute a form which the spiritual power-keepers consider unhelpful”.

Di sinilah tradisi akan berkolaborasi dengan institusi, tradisi diberi kekuatan hukum yang mengikat para anggota untuk wajib melakukannya. Warna pelayanan mahasiswa yang kuat dengan suasana fellowship dan kekeluargaan akan berubah pelan-pelan menjadi komunitas yang kaku dan formal. Sehingga kita akan memiliki ‘budak-budak program’ yaitu panitia atau pengurus yang bekerja keras tanpa tahu apa yang mau dicapai. Mereka mau melakukannya, karena mereka takut ‘dihukum’ dan dialienasi oleh ‘penguasa-penguasa’ pelayanan.

Memahami dinamika tradisi beserta bahayanya, kiranya Perkantas berhati-hati menjaga semangat dan makna setiap pola dan aktivitas pelayanan yang dikerjakannya. Perkantas saat ini sedang berada dalam masa transisi. Melewati 40 tahun pertamanya dan memasuki 40 tahun keduanya. Mari kita berjaga-jaga dan berdoa supaya pelayanan Perkantas terhindar dari jerat tradisi tanpa makna. Di masa tuanya, Rasul Petrus seorang gembala yang sudah melayani puluhan tahun lamanya mengingatkan orang percaya untuk bersungguh-sungguh bertumbuh dalam kehidupan rohani mereka -- yang disebutnya sebagai iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri dan kasih -- oleh kuasa Roh Kudus yang sudah dikerjakan dalam diri orang percaya.

Rasul Petrus berkata: “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan” (2 Petrus 1:8-9).

Hanya kerohanian yang berlimpah-limpah yang dapat membebaskan kita dari jerat tradisi tanpa makna, karena makna ada dalam hati yang mengenal Kristus, Tuhan JuruselamatNya. Selamat Ulang Tahun Perkantas!

(Dimuat di Oratio Edisi Juli 2013)

Memulai Hidup Baru

“Berbahagialah .... mereka yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:2)

Mungkin, banyak dari kita tidak tahu pasti kapan kita mengalami kelahiran kembali. Hal tersebut memang sebuah karya misterius Allah di dalam hati manusia. Atau, ada juga di antara kita yang tidak tahu pasti kapan pertama kali menerima Kristus sebagai Tuhan dan Jurus'lamat. Namun, hampir setiap kita mengatakan bahwa, kita memulai hidup berjalan bersama dengan Tuhan ketika kita serius mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan. Setelah serius melakukan saat teduh setiap hari, mempelajari Alkitab secara berkala, pribadi atau dalam PA Kelompok (di Kelompok Kecil), di saat itulah kita mulai secara sadar dan serius memulai hidup baru dan memperhitungkan Tuhan dan Firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Inilah kebenaran yang diajarkan dalam Mazmur 1:2. Perjalanan hidup baru umat Allah dimulai dengan kesukaan dan kesungguhan terhadap Firman Tuhan. Tremper Longman III menulis, “Kita sudah mengetahui bahwa Mazmur ada dalam Perjanjian Lama. Yang jauh lebih penting adalah Perjanjian Lama ada dalam kitab Mazmur. Mazmur dikenal sebagai 'mikrokosmos' dari berita Perjanjian Lama.” Athanasius bahkan menyebut Mazmur sebagai “Sebuah ringkasan dari seluruh Alkitab.” Martin Luther menyebutnya “Sebuah Alkitab kecil.”

Mazmur adalah jantung perjalanan umat perjanjian. Membaca mazmur, pujiannya, ucapan syukurnya, ratapannya, dan pengajarannya sama dengan membaca kisah kehidupan umat Allah dalam bentuk ekstraknya. Pasalnya, bukankah pujian, doa, dan ratapan adalah curahan isi hati yang terdalam? Jadi dalam kitab Mazmur dikisahkan Perjanjian Allah dengan umatNya. Dan, kisah perjalanan rohani umat Allah ini diawali dengan satu pasal yang mengajak kita untuk hidup dalam kesukaan akan Firman Tuhan.

“Berbahagialah.... mereka yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Seruan 'berbahagialah' adalah seruan yang memuji seseorang karena keadaan keselamatannya atau perbuatannya yang membawa keselamatan. Dan, ini mengandung ajakan kepada pendengar untuk melaksanakan apa yang didengarnya. Pemazmur mengajarkan dan mengajak umat Allah untuk hidup dalam kesukaan akan Firman Tuhan. Kesukaan adalah suatu kata yang menunjukkan perasaan cinta dan rindu kepada seseorang atau sesuatu. Jadi, Mazmur 1 mengajarkan bahwa perjalanan rohani umat Allah dimulai ketika ada kerinduan dan kecintaan kepada Firman Tuhan. Tentunya, kecintaan yang ditunjukkan dengan tindakan dan pengalaman merenungkan Taurat Tuhan.

Sejarah kehidupan bangsa Israel dan gereja menunjukkan berulang-ulang bahwa mereka hidup menjauh dari Tuhan ketika mereka tidak lagi mencintai dan memperhatikan Firman Tuhan. Sebaliknya, babak baru selalu dimulai ketika bangsa Israel dan gereja menemukan kembali kecintaan dan ketaatannya kepada Firman Tuhan. Salah satu babak sejarah gereja yang sangat penting adalah hari Reformasi. Hari di saat Martin Luther memakukan 95 dalilnya di pintu Gereja Kota Wittenberg, 95 dalil yang menantang seluruh sistem keagamaan saat itu dan merupakan sebuah gerakan reformasi (pembaharuan) bagi gereja. Kita mengingat Luther di Worms beberapa tahun kemudian, menghadap para petinggi Gereja Roma dan dituntut untuk menarik kembali tantangan dan ajarannya tentang pembenaran oleh iman. Tanggapannya yang terkenal kepada kaisar, para bangsawan, dan penguasa Gereja di Eropa Tengah ialah: “Kecuali Anda bisa membuktikan melalui Kitab Suci dan alasan yang jelas bahwa saja bersalah, saya tidak bisa dan tidak akan menarik kembali. Hati nurani saya ditawan oleh Firman Allah. Melawan hati nurani tidak dibenarkan dan berbahaya. Di sini saya berdiri. Tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan. Kiranya Allah menolong saya. Amin.” Ucapan yang agung ini telah bergema selama berabad-abad. Gereja kembali kepada Kitab Suci (Back to The Bible). Kitab Suci menjadi dasar iman orang percaya. Iman yang Alkitab katakan juga adalah anugerah Allah, bukan usaha dan jasa manusia (2 Tim. 3:15-17). Kalimat Reformasi berkumandang ke seluruh dunia: “Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia.” Syukur kepada Allah atas Reformasi!

Seperti apakah reformasi yang Allah kerjakan dalam gereja kita hari ini? Pertama, adanya kesadaran tentang otoritas Alkitab bahwa pengajaran Alkitabiah merupakan kebenaran ilahi. Juga, bahwa undangan dan teguran, ancaman dan peringatan, janji dan jaminan Kitab Suci, menyatakan apa yang Allah pikirkan tentang manusia. Alkitab akan dihormati kembali sebagai Firman Allah. Pluralisme dari teologi liberal yang membodohi pikiran dan membutakan hati banyak orang akan layu dan mati. Kedua, adanya keseriusan mengenai hal-hal yang bernilai kekal. Sorga dan neraka akan dikhotbahkan, dipikirkan, dan dibahas kembali. Hidup di dunia ini akan kembali dijalani berdasarkan kehidupan di dunia yang akan datang. Pertanyaan penjaga penjara di Filipi, “Apakah yang harus aku perbuat agar selamat?” akan kembali dianggap sebagai pertanyaan hidup yang hakiki. Ketiga, adanya hasrat akan Allah yang melampaui semua minat akan agama atau pemeliharaan religiositas. Relasi dengan Allah akan dilihat sebagai hal terpenting di dunia dan patut untuk terus diperjuangkan. Keempat, adanya cinta akan kekudusan yang tumbuh dari kesadaran yang mendalam akan dosa, pertobatan yang sungguh-sungguh, rasa syukur yang besar karena diampuni dan disucikan oleh darah Kristus, dan hasrat yang mendalam untuk memperkenankan hati Allah. Kelima, adanya kepedulian terhadap Gereja. Sebab gereja adalah pusat dan sasaran rencana Allah, serta tempat penyataan hikmat Allah yang menyelamatkan dan menguduskan (Ef. 3:1-12). Keenam, adanya kerelaan untuk berubah, baik dari dosa menuju kebenaran, atau dari kemalasan menuju semangat, atau dari pola-pola tradisional menuju prosedur baru, atau dari kepasifan menuju keaktifan, atau bentuk perubahan apa pun yang dibutuhkan.

Bukan hal yang mustahil kalau semua hal di atas juga bisa dialami oleh para siswa dan mahasiswa ketika mereka dengan sungguh-sungguh mencintai dan mempelajari Alkitab. Mereka akan betul-betul mengalami apa artinya "Memulai Hidup Baru", memulai perjalanan hidup dalam hubungan dengan Yesus sebagai Tuhan dan Jurus'lamat. Ketika mereka mencintai Firman demi Firman yang dipelajari melalui buku MHB (red: Memulai Hidup Baru atau MHB merupakan judul buku penuntun Kelompok Kecil di kampus) itu, sebetulnya mereka sedang memulai hidup yang baru. Hidup baru berarti memulai kehidupan yang berdasarkan kebenaran Firman Tuhan di mana seluruh aspek hidup kita didasari dan diterangi oleh Firman Tuhan. Dahulu hidup kita dijalani dengan nilai-nilai keluarga, masyarakat, keduniawian atau berjalan begitu saja. MHB mengajarkan bahwa kebiasaan hidup, waktu, bakat, dan masa depan kita semuanya harus diterangi dan dibimbing oleh Firman Tuhan. Ini tidak hanya berlaku pada masa awal pertobatan kita tetapi menjadi pengalaman seumur hidup. Setiap bagian perjalanan hidup rohani kita didasari dengan pilihan untuk cinta dan taat akan Firman Tuhan.

Menghubungkan gerakan Reformasi dengan “gerakan MHB”, akan mengajak kita melihat karya besar Allah dalam gerakan pelayanan yang sederhana, yaitu “Bible Movement” seperti Kelompok Kecil, PA kelompok, Kelompok Tumbuh Bersama, dan eksposisi Firman Tuhan bagi siswa, mahasiswa, dan alumni. Ketika para siswa, mahasiswa, dan alumni mengalami kecintaan pada Firman Tuhan, maka sebuah perjalanan hidup baru sedang dimulai. Sebuah hidup yang pemazmur katakan menghasilkan sebuah hidup tegar, segar, berbuah dan berhasil (Mzm. 1:3). Sekelompok umat Tuhan yang hidupnya diperbaharui dan siap untuk memperbaharui sekitarnya dan siap untuk masuk ke dalam pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya dan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (Ef. 2:10).

(Dimuat di Oratio edisi Oktober 2006)

Apakah Anda Seorang Murid?

“Kecil tapi hebat”

Rasanya slogan iklan sebuah deterjen ini, tidaklah terlalu berlebihan jika dikaitkan dengan kelompok kecil. Kelompok kecil yang anggotanya sedikit, ternyata dapat membawa perubahan yang besar dan berarti. Kelompok kecil untuk tujuan agama bukanlah perkembangan yang baru. Banyak study yang telah dilakukan tentang kelompok kecil, salah satunya didorong oleh kenyataan keefektifan kelompok kecil dalam menyebarkan komunis.

Dua tahun setelah pemerintahan komunis menguasai Cina, seorang mahasiswa Kristen melaporkan munculnya peraturan melarang pertemuan lebih dari 5 orang. Dia mengakhiri tulisannya dengan mengutip kata-kata Tuhan, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka”. Namun, walaupun kelompok kecil dilarang dan bahkan ada yang ditangkap, orang Kristen tetap bersekutu dan bersaksi. Sungguh luar biasa, Allah memakai kelompok-kelompok kecil di negara yang menentang Kekristenan ini untuk tetap memelihara iman dan semangat penginjilan orang-orang di Cina. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa jumlah orang Kristen di Cina, setelah keruntuhan komunis bahkan 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan sebelum komunis berkuasa. Di dalam negara-negara yang bebas pun, kelompok kecil juga digunakan untuk meneguhkan iman dan mendorong penginjilan.

Sarana Pembaharuan dalam Alkitab

Beberapa abad sebelum orang-orang membicarakan dinamika kelompok dan pertumbuhan melalui kelompok kecil, orang Kristen pada gereja mula-mula telah menggunakan kelompok kecil untuk menyebarkan Injil pada masa pemerintahan Romawi. Jauh sebelum ada gedung gereja dan lembaga-lembaga. Mereka bertemu di rumah-rumah (dalam kelompok yang lebih kecil) untuk besekutu dan menerima pengajaran dari para rasul. Ketika penganiayaan tiba, mereka bertemu dalam tempat-tempat tersembunyi, seperti Katakombe di Roma. Hal ini tampaknya berlangsung sampai gereja kemudian memakai sebuah sistem yang perlahan-lahan menyebabkan lemahnya kesaksian dari orang awam dan berfokusnya pelayanan kepada para pendeta, pengajar dan penginjil.
Dalam rencana-Nya, Allah mau semua orang terlibat dalam kesaksian gereja dan untuk tujuan itulah Ia memberikan orang-orang dengan karunia khusus dalam memperlengkapi orang-orang kudus untuk terlibat dalam pelayanan (Ef. 4:11,12). Dalam pelayanannya, Tuhan Yesus memfokuskan dirinya dalam melatih sekelompok orang. Ia memanggil mereka untuk hidup bersama Dia, belajar dari-Nya, lalu mengirim mereka untuk bersaksi dengan perintah untuk kembali dan melaporkan apa yang telah mereka alami.

Allah juga memakai kelompok yang kecil di dalam Perjanjian Lama untuk membawa pembaharuan yang signifikan bagi kehidupan umat Allah dan dunia ini. Allah seringkali memakai rumah-rumah tangga untuk menggenapkan rencananya. Misalnya, Allah memakai delapan orang dalam keluarga Nuh untuk menggenapkan rencana-Nya bagi dunia ini (Kejadian 7 – 9). Nuh dan keluarganya menjadi agen pembaharu untuk dunia ini setelah peristiwa air bah. Lihat juga contoh Musa dalam Keluaran 18:13-26, ketika ia mengikuti nasihat mertuanya, Yitro, untuk membagi kelompok 1000 orang, 100 orang, 50 orang, dan 10 orang. Hal ini memungkinkan setiap anggota kelompok mendapat perhatian yang lebih baik. Demikian pula pengalaman Daniel beserta teman-teman “kelompok kecil”nya, ketika mereka berada di pembuangan Babel (Daniel 1:6; 13-20; 2:17-18).

Dari pemaparan di atas, kita melihat desain Allah bahwa persekutuan (gereja) menjadi pusat di mana orang Kristen menerima pembaharuan dan pengajaran. Kemudian mereka diutus ke dalam dunia untuk membawa perubahan. Mereka tidak hidup terpisah dari masyarakat, tempat mereka berkembang. Namun, kehadiran mereka seharusnya membawa petobat-petobat baru ke dalam persekutuan. Jelas sekali, bahwa kekuatan persekutuan (gereja) tidak dapat diukur dari jumlah pengunjung kebaktian tiap minggunya. Keefektifan pelayanan persekutuan terlihat dari jumlah anggotanya yang aktif terlibat dalam kesaksian dan sungguh-sungguh menjadi MURID. Pelayanan dan pengajaran yang dilakukan di dalam persekutuan ditujukan untuk membangun MURID yang bukan sekedar penonton. Untuk itulah, kelompok kecil dalam persekutuan berfungsi bukan sebagai persekutuan yang terpisah dari masyarakat tetapi justru kehadirannya memberikan pengaruh kepada segenap lapisan masyarakat (di dalam lingkungan keluarga, sekolah/kampus, pekerjaan, bangsa dan negara).

Sarana yang Efektif Menghasilkan MURID

Jika ditanyakan, “Apa yang Tuhan Yesus hasilkan dalam kelompok kecil yang dipimpin-Nya?”, maka tentu jawabannya adalah MURID. Kata "MURID" adalah suatu sebutan yang umum digunakan dalam Alkitab (secara khusus Perjanjian Baru) untuk menunjuk kepada para pengikut Yesus, sebelum mereka disebut dengan istilah "Kristen". "Di Antiokia, murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen." (Kis. 11:26b). Kata "MURID" (disciple-Ing, mathetes-Yun) muncul 73 kali dalam Injil Matius, 46 kali di Injil Markus, 37 kali di Injil Lukas, 78 kali di Injil Yohanes, dan 28 kali di Kisah Para Rasul.

Kehidupan dalam keselamatan yang telah Allah anugerahkan bukan sekedar hidup yang pasif, tetapi hidup yang aktif untuk melakukan kehendak Allah. Ini bukanlah hal yang mudah, melainkan membutuhkan suatu kesungguhan dan pengorbanan untuk dapat berkata YA kepada kehendak Tuhan dan TIDAK kepada dosa atau keinginan diri sendiri. Panggilan hidup seperti inilah yang Yesus berikan kepada setiap orang yang menjadi MURID-Nya. Ini adalah anugerah Allah, yang seharusnya diresponi dengan benar oleh setiap anak-Nya. MURID adalah seorang yang mau terus belajar. MURID bukan hanya tahu tentang pengajaran Kristen, tetapi juga melakukan apa yang dia ketahui. Status orang Kristen sebagai MURID merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dihayati. Menjadi MURID merupakan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orang yang mau mengikuti DIA dan merupakan panggilan seumur hidup. Sebutan MURID, bukan hanya suatu terminologi kosong yang melekat pada diri orang Kristen. Setiap murid Tuhan, seharusnya juga menunjukkan kualitas MURID yang sejati dalam kehidupannya. Menjadi MURID berarti suatu penyerahan diri atau komitmen total kepada gurunya. Tanpa lahirnya MURID melalui pelayanan kita, sebenarnya kita tidak menghasilkan apa-apa. Tanpa MURID, sesungguhnya tidak ada perubahan yang dihasilkan.

Kelompok kecil sudah terbukti baik dan efektif untuk pemuridan. Ini pun adalah sarana yang Allah anugerahkan yang mana Ia ikut berperan di dalamnya. Di dalam kelompok kecil, tidak hanya dibentuk pengetahuan tentang Kekristenan, tapi juga dibangun watak seperti Kristus. Kita dapat dilatih dalam dasar-dasar Kekristenan, seperti saat teduh dan doa yang teratur, menggali Firman Tuhan, dll.

Kelompok kecil bukanlah barang baru di kalangan pelayanan mahasiswa di Indonesia. Kelompok Kecil selama ini sudah menjadi menu utama yang disajikan oleh Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) di berbagai kota di Indonesia. Kelompok Kecil ini, diyakini sebagai suatu hal yang penting, karena bukan hanya dianggap sebagai suatu aktivitas atau program tetapi merupakan tulang punggung dalam persekutuan. Namun, mengapa PMK saat ini 'adem ayem'? Mengapa seolah-olah tidak terjadi perubahan di dalam persekutuan, dunia kampus, atau pun masyarakat? Kita perlu serius mengevaluasi hal ini. Mungkinkah PMK sudah berhenti menghasilkan MURID? Saat ini PMK dihadiri oleh banyak mahasiswa, namun berapa banyak yang mau sungguh-sungguh dibentuk menjadi MURID? Mungkin juga, ada banyak mahasiswa yang mau terlibat dalam pelayanan. Namun, berapa banyak yang mau setia menjadi MURID yang melayani? Atau jangan-jangan, Kelompok Kecil di PMK hanyalah melanjutkan tradisi saja, tapi sebenarnya sudah tidak lagi menghasilkan MURID? PMK perlu menjawab pertanyaan ini dengan bukti dan tindakan nyata.

Mengutip kalimat LeRoy Eims dalam buku Pemuridan Seni yang Hilang:

Menumbuhkan sebuah pohon jati memakan waktu bertahun-tahun lamanya,
tetapi sebuah jamur payung dapat bertumbuh dalam semalam.
Membangun murid, pembina murid, dan pemimpin yang setia dan mampu
akan memakan waktu lama.