Injil, Solusi Hidup Sejati

Oleh: Morentalisa Hutapea / Alumnus FISIP UI 2006

Banyak teman yang mempertanyakan kepada saya, mengapa saya seperti ‘terobsesi’ dengan misi. Seringkali saya hanya tertawa nyengir, namun pertanyaan tersebut sempat juga membuat saya bertanya. Mengapa saya begitu tertarik, begitu bergairah, begitu bersemangat setiap kali bersentuhan dengan dunia dan pekerjaan misi?

Jika melirik ke belakang, mungkin hal ini terkait dengan latar belakang keluarga. Ketika saya berumur satu tahun, ayah saya meninggal dunia kala ibu saya sedang mengandung adik saya. Hal ini meninggalkan trauma mendalam dalam keluarga saya. Ibu saya menjadi sangat depresif, sangat mudah marah dan menghajar saya dan adik saya dengan cara yang kalau pakar anak masa kini akan menyebutkan, KDRT terhadap anak. Ah, ibu saya yang malang, situasi yang menyebabkannya tidak mampu mengelola emosinya dengan baik.

Perjalanan iman saya kemudian membuat saya menyadari bahwa dosa dan juga dampak dari kejatuhan manusialah yang menyebabkan semua duka mendalam di keluarga saya. Saya melihat bagaimana dosa dan kejatuhan manusia telah merampas sukacita saya di masa kecil. Kuatnya kuasa dosa dan maut telah meluluhlantakkan keluarga saya.

Dosa, dan kejatuhan dunia ini, tidak hanya menghancurkan keluarga saya, namun juga saya. Sampai saya bertemu Kristus secara pribadi dan mengalami kuasa pemulihan-Nya yang mentransformasi tidak hanya hidup saya, tetapi juga hidup keluarga saya. Kuasa kematian dan kebangkitan Kristus telah mengubah banyak hal dalam hidup saya, ibu dan adik saya. Melalui kuasa darah-Nya, Dia menyucikan dan memulihkan saya dan keluarga saya.

Meski si jahat masih menggoda di sana sini, dan saya melihat bagaimana dia terus berusaha untuk mencuri sukacita yang saya alami dengan terus menggali luka-luka saya, dan mengingatkan saya akan kejatuhan-kejatuhan pribadi saya, namun sekarang saya berpegang teguh pada pengharapan yang saya miliki dalam Kristus. Sekarang saya memegang pengharapan bahwa Dia yang memulai pekerjaan baik di dalam saya, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

Bagaimana mungkin saya menyimpan kabar sukacita ini sendirian?

Jika melihat bagaimana Allah telah bekerja dengan luar biasa dalam kehidupan saya dan keluarga saya, bagaimana mungkin saya menyimpan kabar sukacita ini sendirian? Memikirkan hal ini, saya menyadari bahwa hanya Injillah harapan yang kita miliki di dalam dunia yang telah jatuh ini. Hanya Yesus yang sanggup menyembuhkan setiap luka-luka yang kita miliki di dunia ini. Hanya darah-Nya yang sanggup menyelamatkan setiap orang dari cengkraman kuasa dosa dan dampaknya yang mematikan.

Jika saya telah menerima sukacita dan kebebasan yang luar biasa ini, bagaimana mungkin saya bisa berdiam sendiri menyadari bahwa banyak orang yang terbelenggu dosa dan kehancuran tanpa menyadari bahwa ada Jalan yang Lurus yang dapat membawanya pada pengharapan sejati? Bagaimana saya bisa menyimpan rahasia akan ‘obat ajaib’ ini saat saya tahu bahwa seluruh dunia sedang sekarat karena dosa?

Inilah yang membuat saya sangat terobsesi untuk menceritakan kabar baik ini. Berita kebebasan, kelepasan dan pengharapan inilah yang saya bawa kepada mereka yang terhilang, termasuk sahabat-sahabat non kristen saya. Saya masih ingat dengan baik bagaimana Tuhan menolong saya untuk menceritakan tentang keberadaan Sang Bapa yang baik kepada teman-teman kosan saya, dan bagaimana mereka menangis mendengar cerita yang begitu menyentuh. Bahkan teman-teman saya yang paling ateis pun tak bisa menolak untuk mendengarkan cerita mengenai sang Pencipta yang punya solusi bagi permasalahan dosa dunia melalui Kristus Yesus.

Karena Kristus memerintahkan kita menjadi saksi, dan itulah bagian terbesar kita: menyaksikan perbuatan ajaib yang Allah telah kerjakan dalam kehidupan kita, menjadi saksi atas pengharapan yang telah diberikan kepada kita. Dan tak ada yang dapat menggambarkan sukacita yang kita rasakan ketika kita menyadari bahwa Allah yang sama yang bekerja di dalam kehidupan kita, juga bekerja di dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, bahwa jaminan keselamatan yang kita terima, juga diberikan dengan murah hati dan cuma-cuma di dalam kehidupan orang-orang yang belum mengenal dia.

Because this good news, is just too good to be kept by ourselves.

Posted in Kesaksian.

Perkantas Jakarta