Minoritas yang Berdampak

Istilah ‘minoritas’, beberapa waktu lalu sempat ramai muncul di masyarakat. Namun, bukan hadir dalam konteks yang bagus atau kondusif, melainkan dalam hingar-bingar gesekan sosial yang cukup menghangat. Kata ‘minoritas’ yang ramai diperbincangkan tentu dalam konteks jumlah, khususnya jumlah penganut agama tertentu dan atau juga suku tertentu. Dalam demokrasi yang ideal, istilah ‘minoritas-mayoritas’ seharusnya tidak pernah ada bahkan dipertentangkan. Semua individu sama kedudukan dan suaranya. Entah latar belakang agamanya, sukunya, status ekonominya, dan lain-lain. Tapi realitanya, sekat ‘minoritas-mayoritas’ dalam konteks primordialisme masih ada di masyarakat Indonesia. Kadarnya saja yang berbeda-beda antar daerah.

Dalam segala kekurangannya, label minoritas sebenarnya punya sisi positif juga. Salah satunya adalah akan mudah terekspos atau terlihat jika memang memiliki keunggulan. Bukan hanya di antara kalangan minoritas, tetapi juga melebihi kelompok mayoritas.

“Penahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29)

Kata ‘cakap’ disini jika digali lebih jauh sebenarnya memiliki arti: siap, rajin, tekun, dan cekatan. Untuk bisa berdiri di hadapan raja-raja atau para pemimpin atau para orang penting lainnya, maka kita memerlukan kualitas diri yang mumpuni, bukan ala kadarnya. Diperlukan kualitas yang cekatan, rajin, tekun, dan siap mengerjakan apapun yang dipercayakan. Jikalau hal-hal tersebut masih jauh dari diri kita, maka jangan harap kita bisa tampil di hadapan ‘raja-raja’.

Dua tokoh Alkitab yang bisa menggambarkan dengan tepat kualitas di atas adalah Yusuf dan Daniel. Mereka sama-sama berstatus minoritas, namun itu tidak membuat mereka minder. Mereka justru menunjukkan bahwa minoritas bisa memberi andil yang sama bahkan lebih dari kelompok mayoritas.

Mulai dari rumah Potifar, penjara, hingga istana Firaun, Yusuf menunjukkan kualitas yang sama. Kualitasnya lebih unggul dari pada yang lain, sehingga pemimpin-pemimpin di tiga tempat tersebut, Potifar, kepala penjara, dan Firaun percaya kepadanya. Mungkinkah kepercayaan yang besar itu diberikan kepada Yusuf kalau kualitas dirinya biasa-biasa saja?

Daniel juga, hidup di era tiga raja yang berbeda dengan rentang waktu ±65 tahun. Namun, selama itu pula ia tidak membuat kualitas dirinya redup bahkan hingga hari tuanya. Walau diduga tersisih paska Nebukadnezar digantikan oleh Belsyazar, tapi memori orang banyak akan keunggulannya tetap masih ada untuk menafsir penglihatan di pesta Belsyazar. Bahkan di era Darius pun, di usia yang sudah tidak muda lagi, Daniel diangkat menjadi 3 pejabat tinggi di bawah Darius. Kalau kualiatas Daniel biasa-biasa saja, apakah mungkin posisi-posisi penting dia duduki?

Lalu bagaimana kita bisa memiliki kualitas yang ‘cakap’ seperti Yusuf dan Daniel? Di luar penyertaan Tuhan dan komunitas yang mendukung, setidaknya ada 4 hal yang mereka lakukan dan itu bisa kita tiru juga.

Pertama, mau terus belajar terutama hal-hal yang baru. Pindah--walau terpaksa--ke dunia yang baru, jelas tidak mudah. Ada perbedaan budaya, bahasa, pekerjaan yang biasa dilakukan, hingga ilmu pengetahuan. Mau tak mau, Yusuf dan Daniel harus terus belajar untuk bisa beradaptasi atau ’survive’ di tempat baru atau pembuangan mereka.

Kedua, mau terus belajar hal-hal yang baru adalah baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita bisa menemukan apa keahlian kita. Yusuf dan Daniel memiliki keahlian khusus disamping kecerdasan mereka. Hal itu terbukti ketika mereka diingat oleh orang lain karena keahlian khusus mereka tersebut.

Ketiga, Yusuf dan Daniel tidak mudah menyerah. Kita bisa menemukan di Alkitab bahwa mereka berkali-kali berhadapan dengan ‘tembok’ kesulitan. Tapi mereka bisa melaluinya dengan cara mereka dan tentunya pertolongan Tuhan. Kesulitan bahkan kegagalan pasti terjadi, tapi lari dari kedua hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menerimanya, menghadapainya, dan mengatasinya. Menyalahkan kondisi hidup yang sulit dan kegagalan yang terjadi, sama saja seperti menyalahkan Tuhan. Kesulitan dan kegagalan hadir justru untuk membentuk kita menjadi pribadi yang semakin ‘cakap’ lagi. Emas tidak dihasilkan dari proses yang pendek dan suhu yang rendah, tapi sebaliknya.
Keempat, mampu melihat jauh ke depan dan mempersiapkan diri. Dalam konteks Yusuf dan Daniel, Tuhan membantu mereka melalui penglihatan dan pengertian. Lalu bagaimana dalam konteks kita? Sama, kita bisa melihat jauh ke depan juga dengan pertolongan Tuhan. Perubahan di sekitar kita pasti akan terjadi, khususnya di Indonesia. Dan, kita bisa ‘menebak’ perubahan apa yang akan terjadi di Indonesia, dengan melihat kondisi Indonesia sekarang dan membandingkannya dengan kondisi negara sekitar Indonesia dan dunia. Indonesia sekarang bukanlah negara maju ataupun terdepan. Jadi, pastinya Indonesia akan mengikuti trend perkembangan dunia yang sedang terjadi. Sehingga kita bisa melihat ke arah mana Indonesia akan bergerak dan kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15-16)

Tahun ini Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-72. Pembangunan yang sempat berjalan pelan, kini sedang berlari kencang demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Dengan kondisi seperti ini, Pricewaterhouse Coopers memprediksi bahwa di tahun 2030, Indonesia akan berada di posisi ke-5 dari 10 negara dengan ekonomi terbesar, di atas posisi Inggris, Jerman, dan Rusia.

Hai adik-adik siswa dan mahasiswa, berapa usia kalian di tahun 2030 nanti? Studi dan keahlian apa yang kalian miliki sekarang? Apakah pencapaian kalian sekarang dapat membawa kalian menjadi pemimpin masa depan Indonesia dan membawa Indonesia bukan hanya berlari kencang, tapi terbang tinggi?

Hai rekan-rekan alumni, berapa usia kita di tahun 2030 nanti? Masih sanggupkah kita menjadi berkat, bahkan pemimpin di tempat kita bekerja, terutama di bangsa ini? Bagaimana kita mempersiapkan keluarga, terutama anak-anak kita untuk bisa menjadi orang-orang yang cakap bagi bangsa Indonesia di masa depan?

Sebagai warga negara, kita patut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Bahkan kalau bisa dan jika Tuhan berkenan, menjadi pemimpin di dalam pembangunan tersebut. Hingga 2030 nanti kita mungkin masih mendapatkan label minoritas. Tapi, mari kita melihat hal tersebut sebagai penyemangat untuk berkontribusi lebih bagi Indonesia. Label minoritas kita pakai sebagai penyadar bahwa kita bukan orang Kristen yang kebetulan lahir di Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang secara sadar memilih Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Hendaknya setiap kontribusi kita sebagai minoritas bisa terlihat di bangsa ini dan menjadi kemuliaan bagi Bapa yang ada di Surga.

(Dimuat di Oratio edisi Agustus 2017)

Posted in Artikel.

Joki Ricardo Marpaung