Jambi

Sejarah Perintisan

Pelayanan Perkantas di Jambi tidak terlepas dari pelayanan yang dimulai tahun 1988 oleh dua orang mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) yaitu Edwin Budianto (FH) dan Nivardo Dirgahadi Dantjie (FE). Mereka berdua sangat rindu agar di Jambi ada kebaktian mahasiswa Kristen yang diadakan secara rutin untuk menggali kebenaran firman Tuhan.

Pada awalnya pertemuan mereka berdua berbentuk persekutuan doa. Kerinduan mereka akhirnya mendapat respon dari mahasiwa-mahasiswa lain diantaranya Mangasi Hutajulu, Cipto dan Herbin Manihuruk. Kebaktian yang awalnya hanya diikuti oleh mereka, lama-kelamaan bertambah, sehingga kefiatan ini perlu dikoordinir. Yang pertama mengkoordinasi adalah Edwin Budianto (hingga tahun 1989). Karena belum ada tempat yang tetap , kebaktian dilakukan berpindah-pindah dan pelayan firman yang melayani saat itu adalah Ev. Yoppie Sihombing dari GKPJ, Ishar Simangunsong, Ev Elby Utardi dan Bp A. Sarno.

Kebaktian Mahasiswa Kristen (KMK) di Jambi mendapat dukungan dari salah seorang karyawan kantor Perkantas Jakarta yaitu Herlina Hutajulu. Ia terus mengikuti perkembangannya melalui Mangasi Hutajulu.

Tahun 1989 Perkantas mengadakan Kamp Nasional Mahasiswa di Bandung dan Jambi mendapat kesempatan mengutus 7 mahasiswa. Mereka adalah Mangasi Hutajulu (FH), Horas Hutabarat (FH), Hendry Harvery (FE), Hotmaida S. (FH), Franky (FE) dan Nivardo Dirgahadi Dantjie (FE). Kembali dari kamp nasional, KMK Jambi mengadakan hubungan yang intens dengan Perkantas Jakarta dan melalui transfer visi-misi PMK oleh Hotmaida Sihaloho yang sudah mengenal Perkantas di Jakarta sejak siswa, KMK Jambi diubah sebutannya menjadi Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Jambi.

Persekutuan semakin banyak diikuti mahasiswa pada pertengahan 1990 hingga awal 1991 sempat mengalami kevakuman, walaupun sempat mendapat kunjungan Ria Pasaribu (staff) dan Donda Panggabean (PAKJ). Mereka memberikan pembinaan-pembinaan dan membukakan visi-misi pelayanan PMK. Akan tetapi ada beberapa mahasiswa dan alumni yang ikut membina PMK saat itu tidak dapat menerima visi-misi tersebut. Akibatnya sejak itu terjadi perpecahan di tubuh PMK Jambi. Mahasiswa-mahasiswa yang menerima visi-misi tersebut tetap mempertahankan PMK meskipun tidak ada pertemuan rutin. Namun mereka terus berusaha untuk menjalankan pelayanan PMK yang juga mendapat dukungan dari BP Sarno (eks majelis GPIB). Sebaliknya para mahasiswa dan alumni yang tidak dapat menerima visi-misi PMK membentuk persekutuan lain yang kemudian akhirnya menjadi gereja baru. Dampak dari pembentukan gereja baru inilah yang menjadi tantangan baru bagi pelayanan PMK Jambi di mana banyak mahasiswa dan orang tua menganggap PMK Jambi adalah aliran sesat. Di samping itu rekan-rekan dari organisasi mahasiswa Kristen tertentu kurang menerima keberadaan PMK yang dianggap sebagai tandingan dalam perolehan massa. Tantangan lain yang harus dihadapi oleh PMK Jambi adalah dimana Edwin Budianto dan Nivardo Dantjie sebagai pemrakarsa PMK jambi harus berhadapan dengan Senat Mahasiswa UNJA, bahkan dosen-dosen Kristen UNJA khususnya yang mendukung PMK Jambi mendapat peringatan dari Rektor UNJA. Hanya Bp Slamet Sibagariang (dosen FH) yang tetap konsisten terhadap komitmennya untuk mendukung PMK Jambi.

Tahun 1992 PMK Jambi kembali memperoleh kesempatan untuk mengikuti Kamp Nasional Mahasiswa dengann mengutus 2 orang yaitu Imelda Panjaitan dan Kekek Taruli Aritonang. Lewat pergumulan yang berat, mahasiswa yang dikoordinir Mangasi Hutajulu dan alumni yang mendukung yaitu drg Erni Gultom (alumni USU) serta Edwin Budianto SH sepakat untuk mengadakan KATA (Kebaktian Awal Tahun Ajaran) yang diadakan bulan September 1992. Sejak itulah kembali pergerakan pelayanan PMK Jambi. Pelayanan Firman Tuhan saat itu didukung oleh Ev. Bambang (GKPJ), Pdt. Mudharta (Methodist) dan Pdt. Sardi (Baptis). Dengan penuh keberanian dan keyakinan kepada Tuhan agar pelayanan PMK Jambi semakin dinikmati oleh banyak mahasiswa maka pada bulan Oktober 1993 PMK Jambi mengadakan seminar pembinaan yang bertema “Roh Kudus” dengan pembicara Bpk. Mangapul Sagala (yang pada waktu itu menjadi Pimpinan Cabang Perkantas Jakarta). Pada saat persiapan-persiapan seminar inilah Tuhan mempertemukan panitia (Perlin Sibarani, Keke Aritonang, Meryati Sijabat, Riamian, Melda, Mangasi, dll.) dengan alumni-alumni dari kota lain yang telah dibina di PMK/Perkantas di kotanya. Mereka adalah Ir. Ramoni Tambing (Alumni ITB), Masniari Situmorang, SH (Alumni USU), Himellena Panjaitan (Alumni USU) serta Rasmon Sinamo(Alumni USU).

Karena dirasakan nama PMK sudah tidak mendapat tanggapan positif baik dari mahasiswa, dosen, maupun orang tua, maka melalui sharing para alumni dengan Bpk. Sagala mulai dipikirkan untuk bergabung dengan Perkantas Jakarta. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial-politik. Pemikiran itu sendiri baru terealisasi pada bulan Maret 1994 dengan dikeluarkannya surat keputusan BPU (Badan Pengurus Umum) Perkantas No: 011/SK-BPU/P’tas/III/1994 tentang pembentukan Badan Pengurus Perwakilan (BPP) Perkantas di Jambi dan SK BPU No: 012/SK-BPU/P’tas/III/1994 tertanggal 28 Maret 1994 mengenai pengangkatan Pengurus Perwakilan Perkantas Jambi periode 1994-1996 dengan susunan sebagai berikut:
Pembina     : Ir. Ramoni Tambing, Msc
Ketua         : Edwin Budianto, SH
Sekretaris   : Drs. Rasmon Sinamo
Bendahara  : Drg. Erni Gultom
Anggota      : Mariani Tampubolon; Juana Betti Rican Tampubolon
Berman Pangaribuan

Sejak saat itu pelayanan mahasiswa di Jambi secara sah berada di bawah binaan Perkantas cabang Jakarta dan kurang lebih setahun sekali mendapat pembinaan dari staf Jakarta.