Pengejaran Tanpa Lelah

Oleh: Meiliana Mulyani, S.Kom / Binus 2011 (Staf Kantor - Media)

John Stott di dalam bukunya Why I am a Christian, menggambarkan Allah sebagai Sang Anjing Pemburu dari Sorga yang terus mengejar manusia tanpa lelah. Maka, inilah cerita dari seseorang yang telah menyerah dari pengejaran-Nya.

Saat teduh, doa, dan pelayanan bukanlah hal yang asing bagiku. Bahkan aku sudah rutin melakukannya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Orang-orang beranggapan bahwa aku adalah seorang anak yang saleh dan begitu rohani. Namun, semua kegiatan rohani itu sebenarnya tidak menunjukkan bahwa aku adalah orang yang sudah 'ditangkap' oleh kasih Kristus. Pasalnya, semua itu membuat diriku justru merasa semakin baik dan layak di hadapan-Nya. Alhasil, aku merasa berhak melakukan segala hal yang aku inginkan.

"Aku ingin memimpin hidupku sendiri"

Pemikiran ini terus berlanjut hingga akhirnya Tuhan memakai PO BINUS untuk menangkapku. Aku bersyukur ketika Ia menganugrahkan Kelompok Kecil (KK) yang selalu menguatkanku dan tak segan-segan menegurku. Khususnya di masa-masa ketika Tuhan mengijinkanku kehilangan orang yang sangat kukasihi. Bahkan dia kujadikan berhala dalam hidupku. Pada akhirnya aku menyadari bahwa aku adalah manusia yang sangat berdosa yang selalu memimpin hidupku sendiri dan menolak Kristus untuk memimpin hidupku. Saat itulah aku menyerah dan membiarkan diriku 'ditangkap' oleh kasih-Nya.

Pernah terbina dalam PMK dan khususnya KK adalah momen paling berharga dalam hidupku. Aku belajar banyak hal seperti membayar harga dalam mengikuti Kristus dan mendoakan masa depanku untuk dipimpinNya. Setelah lulus, aku bertekad ingin bekerja di sebuah creative agency dan fokus membangun pelayanan pemuda di gerejaku. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, di tengah perjalananku untuk interview di sebuah creative agency aku disharingkan beban pelayanan Perkantas dan diminta untuk mendoakan sebagai staf kantor. Kesan pertamaku ketika mengetahuinya adalah tidak mungkin aku menjadi seorang staf Perkantas, tapi aku memutuskan untuk tetap mendoakannya dengan pikiran bahwa mustahil rasanya Tuhan memanggilku menjadi staf. Tapi selama proses mendoakan, ternyata panggilan itu begitu jelas dan lagi-lagi rasanya aku ingin kembali memimpin jalan hidupku sendiri. Hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak pernah mendukungku dalam pelayanan dan selalu mengajarkanku untuk meraih kesuksesan materi yang dipandang dunia membuatku takut mengalami penolakan oleh keluargaku sendiri. Itulah ketakutan terbesarku dan tentunya sebagai seorang mahasiswi yang baru saja dinyatakan lulus, ada kekhawatiran akan kecukupan materi, dan cita-cita yang harus dilepaskan yaitu bekerja di sebuah creative agency sesuai dengan passion-ku.

Berminggu-minggu berlalu, Tuhan terus menyatakan kehendaknya melalui saat teduh dan firman Tuhan yang kudengar di gereja untuk tidak khawatir akan apapun juga dan bahwa Tuhan berjanji memelihara kehidupan anak-anak-Nya, hingga akhirnya aku diteguhkan melalui Ibrani 13:5-8 “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”. Setelah membaca ayat ini, aku kembali teringat bahwa kasih Kristus yang telah menangkapku beberapa tahun yang lalu tetaplah sama sampai sekarang.

Akhirnya aku berani untuk mengatakannya kepada orang tua, dan betapa kagetnya aku ketika mereka mengijinkan walaupun dengan berat hati. Sampai sekarang, orang tuaku masih belum sepenuhnya mendukungku dan aku pun masih tidak menyangka bahwa Ia berkenan memanggilku menjadi staf ditengah keterbatasan dan kelemahanku. Tapi aku percaya bahwa “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” – 1 Tesalonika 5:24

Posted in Kesaksian.

Perkantas Jakarta