Perkantas dan Semangat Reformasi

Moto berbahasa Latin, "Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei" (artinya: "Gereja Reformed, selalu direformasi berdasarkan firman Allah"), telah menjadi salah satu diktum penting gerakan Reformasi di abad ke-16 dan gereja-gereja Reformasi sampai hari ini. Sekalipun formulasinya baru ditemukan di abad ke-17 dalam tulisan Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (Contemplation of Zion) di Amsterdam pada tahun 1674. Moto ini secara historis tidak pernah dimaksudkan untuk melegitimasi segala macam inovasi dalam berteologi, sebagaimana banyak orang di zaman sekarang salah mengartikannya. Moto ini lahir pada masa gereja sedang berusaha untuk memurnikan diri dari segala bentuk inovasi manusia yang asing terhadap Alkitab. Dengan prinsip Sola Scriptura, gereja berikrar mereformasi diri dengan panduan Alkitab sebagai standar tertinggi dalam kehidupan Kristiani. Di lain pihak, moto ini juga menyuratkan keterbukaan terhadap perubahan, sebuah sikap anti status quo yang saat itu diperankan oleh gereja Katolik Roma. Di sini tampak ada dua sisi dari satu mata koin semangat Reformasi, yaitu: mempertahankan kontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen yang Alkitabiah dan diskontinuitas terhadap seluruh tradisi-tradisi Kristen maupun pengaruh zaman yang tidak Alkitabiah.

Kontinu dan Diskontinu

Kontinu

Kitab Nehemia khususnya di pasal 8-10 menjadi salah satu rujukan bagaimana reformasi mewujud. Dikisahkan bangsa Israel yang sudah menetap di kota-kotanya, berkumpul di halaman di depan pintu gerbang air. Mereka meminta Ezra sang ahli kitab membawakan kitab Taurat dan membacakannya di depan mereka (Nehemia 8:1-4). Bangsa Israel menghayati kepulangan ke kota nenek moyang bukan sekedar hanya membangun kembali kehidupan sebagai sebuah bangsa. Tujuan utama mereka adalah membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan, serta pemulihan persekutuan Tuhan dan umat. Taurat pun dibacakan oleh imam Ezra di hadapan bangsa Israel. Dengan bantuan 13 orang Lewi, Taurat yang dibacakan diberikan keterangan-keterangan yang dapat dimengerti (8:5-9). Pada ayat-ayat berikutnya dicatat bagaimana bangsa Israel meresponi Taurat (8:10-9:37) hingga membuat satu piagam perjanjian sebagai bukti tertulis Reformasi umat (9:38-10:39). Sebuah commentary memberi judul pasal 8 "The Foundation of Reformation". Pembacaan dan pemberian keterangan yang jelas pada Firman Tuhan telah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dengan demikian bangsa Israel mengalami reformasi.

Realita saat ini, Perkantas sedang dan terus berada dalam situasi orang-orang yang mencari pengajaran untuk sekedar memuaskan keinginan telinga (2 Tim. 4:3). Maka dari itu, Perkantas mengajarkan Firman di tengah beragam pengajaran yang mungkin lahir dari kesesatan (1 Tes.2:1), bergerak ditengah berbagai jenis pelayanan lain yang mungkin memiliki motivasi yang tidak murni dengan segala tipu daya (1 Tes 2:2). Di tengah realitas ini Perkantas harus terus memelihara semangat ad Fontes (latin: kembali ke sumber, dalam hal ini Alkitab sebagai sumber primer iman Kristen) sebagaimana disuarakan dalam Reformasi. Semangat ini dapat dapat mewujud dalam:

  1. Pemberitaan firman yang ekspositori
  2. Pendalaman Alkitab pribadi dan kelompok
  3. Program pelayanan (goal, indikator, aktivitas dan evaluasi pelayanan) yang kontekstual (the world) berdasarkan penggalian teks Alkitab (the word)

Diskontinu

Tidak mudah menjaga semangat reformasi. Orang Yahudi yang telah mengikat perjanjian (Neh.10) berusaha menegakkan Taurat sedemikian ketat. Namun, dalam perjalanan mereka tergelincir kepada apa yang disebut Jaroslav Pelikan dalam bukunya The Vindication of Tradition sebagai Tradisionalisme (hidup dalam ritual namun kehilangan esensinya yaitu beriman kepada Tuhan). Dalam Injil, Yesus memperingatkan orang Yahudi dalam berbagai kesempatan pelayanan-Nya. Dan, dalam sebuah perumpamaan, Yesus menunjuk orang Yahudi sebagai anak sulung yang juga hilang (Luk.15:11-32). Dalam catatan sejarah paska Reformasi yaitu pada tahun 1685-1725, semangat rasionalisme modern merasuk ke dalam tubuh para pemikir Reformed. Integrasi-integrasi dilakukan. Model penafsiran Alkitab yang pre-critical textual, eksegetikal, dan hermeneutikal mengalami tekanan besar, seiring dengan pergeseran kerangka filsafat yang biasanya digunakan oleh para teolog zaman itu. Dari pendekatan Christian Aristotelian ke salah satu dari dua opsi ekstrem yaitu varian gerakan rasionalisme yang baru populer atau, dogmatika yang sama sekali anti terhadap filsafat. Kenyataan yang disesalkan adalah tidak semua integrasi tersebut dilakukan dengan prinsip Sola Scriptura. Namun, di tengah situasi demikian, muncul gerakan-gerakan yang berusaha melanjutkan semangat reformasi, antara lain: gerakan Pietisme di Jerman, Nadere Reformatie (Further Reformation) di Belanda, dan Puritanisme di Inggris pada saat yang hampir bersamaan. Semua gerakan itu mengembalikan Reformasi kepada hakikatnya yaitu Reformasi kehidupan Spiritual yang dibangun atas kebenaran Firman.

Perkantas yang sudah berusia 44 tahun pun rentan menyimpang dari semangat Reformasi, alih-alih memelihara tradisi justru bisa jatuh kepada tradisionalisme. Pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni masih terus dikerjakan bahkan aktivitas semakin banyak, tetapi amat rentan kehilangan esensi dari berbagai aktivitas tersebut. Perkantas juga rentan disusupi berbagai varian gerakan rasionalisme dalam memahami Firman, berbagai pemahaman teologi populer, berbagai metode yang sedang tren dalam membangun pelayanan yang sesungguhnya jauh dari prinsip Sola Scriptura.

Kiranya Perkantas terus berjaga-jaga dengan dirinya dan ajarannya. Dengan sikap berjaga-jaga, kehadiran Perkantas pun dicatat dalam sejarah kekristenan sebagai penerus semangat Reformasi. Melakukan Reformasi berdasarkan Firman Tuhan.

(Dimuat di Oratio edisi Oktober 2015)

Posted in Artikel, Pelayanan, PMK.